JAKARTA – Di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi yang mulai menghantui kawasan Asia Pasifik, Indonesia justru tampil sebagai anomali positif. Saat negara-negara besar seperti Tiongkok dan India diproyeksikan melambat, Indonesia diprediksi mampu menjaga bahkan memperkuat pertumbuhan ekonominya pada 2026.
Berdasarkan proyeksi Asian Development Bank (ADB), ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh hingga 5,2% pada 2026. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu “oase stabilitas” di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
Sebaliknya, ADB memprediksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan turun menjadi 4,6% pada 2026, dari sebelumnya 5%. India juga diperkirakan mengalami perlambatan ke level 6,9% dari 7,6% pada 2025. Kondisi ini memperlihatkan tren pelemahan di dua raksasa ekonomi Asia, yang selama ini menjadi motor pertumbuhan kawasan.
Di tengah dinamika tersebut, fondasi ekonomi Indonesia dinilai semakin kuat, terutama ditopang oleh ketahanan sektor energi yang solid. Hal ini sejalan dengan penilaian lembaga keuangan global JP Morgan yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam ketahanan energi.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi indikator penting kekuatan ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan global.
“Kami mengapresiasi capaian ini sebagai bukti bahwa Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mampu menerjemahkan arahan kebijakan Presiden Prabowo dalam sektor energi, sehingga Indonesia dapat menempati peringkat ke-2 dunia dalam ketahanan energi. Ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah berjalan efektif dalam menjaga stabilitas pasokan serta keterjangkauan energi bagi masyarakat,” ujar Bambang di Jakarta, Jumat (24/4).
Ia menilai, arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan sektor energi sebagai fondasi utama ekonomi telah memberikan dampak nyata. Implementasi kebijakan tersebut oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dinilai berhasil memperkuat struktur energi nasional.
Berbagai langkah strategis seperti penguatan sektor hulu migas, pembangunan infrastruktur kilang, serta percepatan hilirisasi dan diversifikasi energi disebut menjadi faktor kunci di balik ketahanan ekonomi Indonesia saat ini.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal, energi, dan industrialisasi yang terintegrasi, Indonesia dinilai mampu keluar dari tren perlambatan global yang justru menekan negara-negara lain di kawasan.
“Dengan arah kebijakan yang jelas dan implementasi yang konsisten, kami optimistis ketahanan energi Indonesia akan semakin kokoh, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan global ke depan,” tutup Bambang.
Jika tren ini berlanjut, Indonesia bukan hanya mampu bertahan dari tekanan global, tetapi juga berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru yang stabil di kawasan Asia Pasifik.