JAKARTA – Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memilih cara yang tidak biasa untuk menjelaskan strategi besar pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional. Alih-alih menggunakan istilah teknis yang rumit, ia mengibaratkan kebijakan energi seperti permainan sepak bola ala FC Barcelona—dinamis, terintegrasi, dan penuh strategi.
Dalam analogi tersebut, Bahlil menekankan bahwa pemerintah tidak hanya bermain “bertahan”, tetapi juga aktif “menyerang”. Pendekatan ini mencerminkan filosofi total football yang identik dengan Barcelona, di mana seluruh lini bekerja sama demi mencapai kemenangan jangka panjang.
Di sisi pertahanan, pemerintah fokus menjaga stabilitas pasokan energi dengan mengoptimalkan produksi migas yang sudah ada. Langkah ini penting untuk memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi tanpa gejolak besar.
Namun, strategi tidak berhenti di situ. Pada sisi “serangan”, pemerintah mendorong eksplorasi besar-besaran untuk menemukan sumber energi baru. Hasilnya mulai terlihat, salah satunya melalui penemuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur oleh Eni.
Cadangan tersebut diperkirakan mencapai total 7 triliun cubic feet (Tcf), termasuk potensi besar dari Blok Ganal Geliga dan Blok Gula. Kedua wilayah ini ditargetkan mulai berproduksi dalam beberapa tahun ke depan, dengan kapasitas awal hingga 2.000 MMSCFD dan berpotensi meningkat menjadi 3.000 MMSCFD pada 2030.
Bagi Bahlil, langkah “menyerang” ini bukan sekadar menambah produksi, tetapi juga bagian dari strategi besar untuk mengurangi ketergantungan impor energi. Gas yang dihasilkan akan diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, termasuk industri petrokimia seperti Lotte Chemical serta pemenuhan kebutuhan LPG nasional.
“Ini adalah strategi bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara manapun, kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tegas Bahlil.
Tak hanya gas, pemanfaatan kondensat dari blok-blok baru ini juga diharapkan mampu menekan impor minyak mentah. Dengan tambahan produksi yang diproyeksikan mencapai 150 ribu barel per hari pada 2030, Indonesia berpeluang memperkuat neraca energi sekaligus menjaga kedaulatan nasional.
Melalui pendekatan komunikasi yang sederhana namun kuat, analogi sepak bola ini menjadi cara efektif untuk menjelaskan kebijakan energi yang kompleks kepada publik, khususnya generasi muda. Strategi ala Barcelona yang diusung Bahlil menggambarkan bahwa kebijakan energi Indonesia kini tidak lagi statis, melainkan adaptif, agresif, dan berorientasi pada kemenangan jangka panjang.
Dengan kombinasi “bertahan” dan “menyerang” yang seimbang, pemerintah berupaya memastikan satu hal: pasokan energi nasional tetap aman, sekaligus membawa Indonesia menuju kemandirian energi di masa depan.