Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan imbauan khusus kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak sembarangan mengolah menu mi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil menyusul kasus gangguan pencernaan yang dialami ratusan siswa di Jakarta Timur.
Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang mengatakan pihaknya sebelumnya telah menerbitkan surat edaran terkait pengolahan mi. Surat tersebut ditujukan agar dapur MBG tidak memasak mi tanpa didampingi juru masak yang benar-benar memahami teknik pengolahannya.
“Karena seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan, kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal yang menguasai betul bagaimana teknik memasak mi agar tidak cepat basi. Kami juga sudah menyosialisasikan melalui kepala regional dan koordinator wilayah,” katanya dalam Instagram resmi @nanik_deyang dan @sidakbgn yang dikutip dari Jakarta, Selasa.
Pernyataan itu disampaikan Nanik usai melakukan inspeksi mendadak ke dapur MBG di Jakarta Timur pada Minggu (10/5). Dapur tersebut diketahui menjadi lokasi pengolahan makanan yang diduga menyebabkan 147 siswa mengalami gangguan pencernaan pada Jumat (8/5) malam.
Nanik menjelaskan, menu yang disantap para siswa saat itu terdiri dari bakmie Djawa, ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan buah semangka.
“Minggu malam saya sidak ke dapur yang mengolah MBG dan menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan di Jakarta Timur, dimana 33 diantaranya sempat dirawat, namun hari Senin (11/5) kemarin sudah pulang semua,” ucap Nanik.
Menurutnya, kasus serupa bukan pertama kali terjadi selama program MBG berjalan di Jakarta. Dalam kurun waktu sekitar 1,5 tahun, tercatat sudah ada 10 Kejadian Luar Biasa (KLB) gangguan pencernaan. Dari jumlah tersebut, tujuh kasus disebut berkaitan dengan menu berbahan dasar mi.
“Agak kaget waktu dikabari menu mi lagi yang dipakai, karena sebulan sebelumnya di Jakarta Timur juga menu spaghetti menjadi penyebab beberapa anak gangguan perut, bahkan sempat ada yang dirawat di rumah sakit yang sama,” ujarnya.
Nanik menambahkan, mi basah atau mi kuning segar memiliki risiko lebih tinggi untuk cepat basi. Kandungan air yang tinggi pada jenis mi tersebut dinilai menjadi tempat ideal berkembangnya mikroorganisme apabila proses pengolahan dan penyimpanannya tidak dilakukan secara tepat.
Kasus ini kembali menjadi perhatian publik terkait pentingnya standar keamanan pangan dalam program MBG. BGN pun menegaskan akan terus memperketat pengawasan terhadap dapur penyedia makanan demi mencegah kejadian serupa terulang.