JAKARTA — Ketika banyak investor panik melihat pelemahan harga saham di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investor kawakan Lo Kheng Hong justru melakukan langkah sebaliknya. Pria yang dijuluki “Warren Buffett Indonesia” itu diam-diam memborong jutaan saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), emiten sawit milik Grup Salim.
Langkah agresif Lo Kheng Hong memicu spekulasi pasar bahwa strategi value investing mulai kembali bergerak di tengah koreksi saham-saham berbasis fundamental kuat.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Lo Kheng Hong membeli sebanyak 79,364 juta saham SIMP saat harga saham perusahaan tersebut sudah turun sekitar 38 persen dari level tertingginya.
Aksi tersebut dinilai bukan sekadar spekulasi jangka pendek. Pasar membaca langkah Lo sebagai sinyal bahwa saham-saham dengan valuasi murah dan dividen menarik mulai dilirik kembali di tengah ketidakpastian pasar global.
Pengamat pasar menilai strategi yang dilakukan Lo Kheng Hong identik dengan pendekatan value investing klasik: membeli saham bagus ketika mayoritas investor takut.
SIMP sendiri diketahui memiliki potensi dividen yang cukup menarik. Dalam laporan Bisnis Premium, aksi Lo disebut menjadi “kode keras” menjelang potensi pembagian dividen emiten CPO Grup Salim tersebut.
Di tengah volatilitas pasar, saham berbasis komoditas seperti CPO dinilai masih memiliki ruang menarik karena ditopang permintaan global dan potensi pemulihan harga komoditas.
Langkah Lo Kheng Hong juga dinilai sejalan dengan perubahan strategi Grup Salim yang mulai memperkuat efisiensi dan optimalisasi bisnis perkebunan pada 2026.
Pelaku pasar menilai aksi borong saham saat harga turun tajam menunjukkan keyakinan investor besar terhadap prospek jangka panjang emiten tersebut, terutama ketika mayoritas investor ritel masih cenderung wait and see akibat tekanan IHSG dan sentimen global.
Di media sosial, aksi Lo Kheng Hong langsung ramai diperbincangkan. Banyak netizen menyebut langkah itu sebagai “alarm bawah” atau sinyal bahwa beberapa saham blue chip dan saham berbasis aset riil mulai memasuki fase murah.
“Investor besar biasanya masuk saat pasar takut,” tulis salah satu akun pasar modal di platform X.
Meski demikian, analis mengingatkan investor tetap harus selektif dan memperhatikan fundamental perusahaan, bukan sekadar mengikuti aksi investor terkenal. Namun satu hal mulai terlihat: ketika pasar melemah, para penganut value investing justru mulai berburu saham diskon.