INVERSI.ID – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar belum akan mengalami kenaikan meski harga minyak mentah Indonesia dan nilai tukar rupiah tengah mengalami tekanan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi masih berada dalam kondisi aman hingga akhir tahun 2026.
“Tidak akan naik. Insyaallah, ya, doanya, tidak akan kita naikkan (harga BBM subsidi),” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa.
Menurut Bahlil, lonjakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 belum menjadi alasan untuk menaikkan harga BBM subsidi. Meski ICP tercatat mencapai 117,31 dolar AS per barel, rata-rata harga minyak mentah Indonesia sejak Januari 2026 masih berada di bawah ambang 100 dolar AS per barel.
“Ia merujuk kepada rata-rata harga minyak mentah Indonesia dari Januari 2026 yang belum menyentuh batas 100 dolar AS per barel.”
“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” kata Bahlil.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah masih menjaga stabilitas harga energi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik internasional.
“Insyaallah sampai akhir tahun,” ucapnya.
Sebelumnya, Kementerian ESDM menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia pada April 2026 berada di angka 117,31 dolar AS per barel. Angka tersebut melonjak sekitar 15,05 dolar AS dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 102,26 dolar AS per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan kenaikan harga minyak global dipicu meningkatnya tensi geopolitik dunia yang berpotensi mengganggu pasokan energi internasional.
Menurutnya, konflik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah, termasuk situasi di Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi lonjakan harga minyak dunia.
Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi China pada triwulan I 2026 yang mencapai 5 persen secara tahunan juga ikut mendongkrak optimisme permintaan minyak global.
Meski demikian, Laode menilai masih ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan laju kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan. Salah satunya adalah proyeksi penurunan permintaan minyak global pada triwulan II 2026 yang diperkirakan mencapai 5 juta barel per hari secara tahunan.
Selain itu, peluang terbukanya kembali jalur diplomasi damai antara Iran dan Amerika Serikat juga dinilai dapat membantu meredakan tekanan harga minyak di pasar internasional.