ARLINGTON – Jika masih ada yang meragukan kekuatan Jepang di Piala Dunia 2026, hasil imbang 2-2 melawan Belanda menjadi jawaban paling telak. Samurai Biru tidak hanya mampu menandingi salah satu kekuatan tradisional Eropa, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka kini layak dianggap sebagai ancaman serius bagi negara-negara Benua Biru.
Dalam laga Grup F yang disebut banyak pengamat sebagai salah satu pertandingan terbaik sejauh ini di turnamen, Jepang dua kali tertinggal namun dua kali pula berhasil bangkit untuk memaksa Belanda berbagi angka. Gol penyeimbang dramatis Daichi Kamada pada menit ke-89 memastikan Jepang menyudahi laga dengan satu poin yang terasa seperti sebuah pernyataan besar kepada dunia sepak bola.
Belanda sempat unggul melalui Virgil van Dijk dan kemudian Crysencio Summerville, tetapi Jepang menolak menyerah. Keito Nakamura lebih dulu menyamakan kedudukan sebelum Kamada menjadi penyelamat di penghujung laga. Hasil tersebut membuat Belanda gagal mengamankan kemenangan meski sudah dua kali berada di depan.
Yang membuat penampilan Jepang semakin mengesankan adalah cara mereka menghadapi tekanan. Tim asuhan Hajime Moriyasu tetap tenang saat menghadapi pemain-pemain elite Eropa dan mampu merespons setiap pukulan yang diberikan lawan.
“Saya bangga dengan para pemain atas perjuangan dan ketangguhan mereka,” kata Moriyasu. Namun sang pelatih juga menegaskan bahwa hasil imbang itu tetap terasa “mengecewakan” karena target Jepang sebenarnya adalah meraih kemenangan.
Penampilan Jepang bahkan semakin mengukuhkan reputasi mereka sebagai salah satu kekuatan non-Eropa paling berbahaya di dunia saat ini. Sebelum turnamen dimulai, banyak pengamat menempatkan Belanda sebagai favorit Grup F. Namun setelah pertandingan ini, pandangan tersebut mulai berubah. Jepang bukan lagi tim kejutan, melainkan pesaing sejajar yang mampu membuat raksasa Eropa bekerja ekstra keras untuk bertahan .
Kini pesan Jepang sangat jelas: era ketika tim Asia hanya menjadi pelengkap di Piala Dunia sudah berakhir. Jika Belanda saja dibuat frustrasi selama 90 menit, maka negara-negara Eropa lain patut waspada. Samurai Biru telah datang bukan sekadar untuk lolos fase grup, melainkan untuk menantang dominasi tradisional sepak bola Eropa di panggung terbesar dunia.