NEW JERSEY — Timnas Skotlandia kembali terjebak dalam cerita lama di panggung Piala Dunia. Setelah sempat membangkitkan harapan lewat kemenangan pada laga pembuka, Tim Tartan kembali menunjukkan inkonsistensi yang selama puluhan tahun menjadi penghalang mereka menembus level berikutnya.
Pasukan Steve Clarke membuka perjalanan di Grup C Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 1-0 atas Haiti pada 13 Juni. Hasil itu memunculkan optimisme besar, Skotlandia akhirnya mampu mengakhiri catatan buruk mereka di turnamen terbesar sepak bola dunia.
Namun harapan tersebut tidak bertahan lama. Pada pertandingan kedua di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Kamis (19/6/2026), Skotlandia harus mengakui keunggulan Maroko dengan skor 0-1. Kekalahan itu membuat persaingan Grup C kembali terbuka dan memaksa Skotlandia menghadapi laga hidup-mati melawan Brasil.
Di sisi lain, kemenangan tersebut semakin membakar optimisme pendukung Maroko. Dalam laporan Al Jazeera, para suporter Singa Atlas meyakini tim mereka mampu mengulang bahkan melampaui pencapaian bersejarah saat mencapai semifinal Piala Dunia 2022.
Sejak debut di Piala Dunia 1954, Skotlandia telah tampil dalam sembilan edisi turnamen, termasuk 2026. Namun mereka belum pernah sekalipun lolos dari fase grup. Bahkan ketika tampil menjanjikan, Tim Tartan selalu menemukan cara untuk tersandung sebelum mencapai babak gugur.
Pelatih Steve Clarke sebelumnya menegaskan target timnya adalah mencetak sejarah baru. “Kami ingin memberikan sesuatu yang belum pernah dicapai generasi sebelumnya,” kata Clarke sebelum turnamen dimulai.
Kemenangan atas Haiti sempat dianggap sebagai awal perubahan. Itu bahkan menjadi kemenangan pertama Skotlandia di Piala Dunia setelah penantian selama 36 tahun.
Namun kekalahan dari Maroko kembali menghidupkan bayang-bayang masa lalu. Sejarah menunjukkan Skotlandia beberapa kali nyaris lolos, termasuk pada edisi 1974, 1978, dan 1982, tetapi selalu gagal karena detail kecil seperti selisih gol. Hingga kini mereka baru mengoleksi empat kemenangan dari 23 pertandingan Piala Dunia.
Kini seluruh nasib Skotlandia bergantung pada laga terakhir menghadapi Brasil. Bukan hanya tiket ke babak gugur yang dipertaruhkan, tetapi juga kesempatan mematahkan salah satu kutukan terpanjang dalam sejarah Piala Dunia.
Harapan sempat muncul. Kini, Skotlandia harus membuktikan bahwa mereka mampu mengubah sejarah, bukan sekadar mengulanginya.