VANCOUVER – Piala Dunia 2026 mulai menghadirkan cerita yang tidak pernah terlihat pada edisi sebelumnya. Jika empat tahun lalu Qatar menjadi pusat perhatian sebagai tuan rumah turnamen terbesar sepak bola dunia, kini negara Teluk itu justru menjadi simbol kontras dengan tuan rumah baru, Kanada.
Kemenangan telak Kanada 6-0 atas Qatar di BC Place, Vancouver, Kamis (18/6) waktu setempat, tak cuma hasil pertandingan biasa. Skor mencolok itu memperlihatkan perbedaan kesiapan, kualitas permainan, hingga kedalaman skuad antara dua negara yang sama-sama pernah menyandang status tuan rumah Piala Dunia.
Kanada tampil bak tim yang sedang memasuki masa keemasan. Di tengah euforia sebagai salah satu penyelenggara Piala Dunia 2026, mereka mencatat kemenangan pertama sepanjang sejarah partisipasi di ajang tersebut sekaligus memuncaki Grup B. Jonathan David mencetak hattrick, sementara Qatar nyaris tak mampu memberikan perlawanan berarti.
Sebaliknya, Qatar terlihat kehilangan arah. Tidak hanya kalah telak, mereka juga harus menyelesaikan pertandingan dengan sembilan pemain setelah menerima dua kartu merah. Situasi itu membuat laga berubah dari duel kompetitif menjadi demonstrasi dominasi tuan rumah.
Yang menarik, insiden dua kartu merah tersebut memunculkan perdebatan baru mengenai wajah Piala Dunia 2026. FIFA sejak awal turnamen menerapkan pendekatan disiplin yang lebih ketat terhadap pelanggaran berbahaya. Tackle keras Assim Madibo yang menyebabkan gelandang Kanada Ismael Kone mengalami cedera serius awalnya hanya diganjar kartu kuning sebelum VAR mengubahnya menjadi kartu merah langsung. Tak lama kemudian, Qatar kembali kehilangan pemain akibat kartu merah kedua.
Kasus itu memperlihatkan dilema yang mulai muncul di turnamen ini. Di satu sisi, FIFA ingin melindungi pemain dan menekan pelanggaran keras. Namun di sisi lain, keputusan disiplin yang lebih tegas berpotensi membuat pertandingan kehilangan keseimbangan kompetitif ketika satu tim harus bermain dengan jumlah pemain yang jauh berkurang.
Pelatih Kanada Jesse Marsch mengakui kemenangan bersejarah timnya terasa pahit setelah Kone mengalami patah kaki akibat tekel tersebut. Meski demikian, kabar terbaru menyebut kondisi pemain berusia 24 tahun itu stabil setelah mendapat penanganan medis dan menjalani operasi.
Di luar kontroversi kartu merah, pertandingan ini menjadi simbol perubahan peta kekuatan sepak bola. Kanada yang sebelumnya lebih dikenal sebagai “pelengkap” kini tampil sebagai tuan rumah modern dengan dukungan infrastruktur, atmosfer stadion, dan skuad yang mampu bersaing di level tertinggi. Sementara Qatar, yang menggelontorkan investasi besar untuk Piala Dunia 2022, justru tampak tertinggal ketika berhadapan langsung dengan salah satu wajah baru sepak bola Amerika Utara.
Jika tren ini berlanjut, kemenangan 6-0 di Vancouver mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai laga paling berat bagi Qatar, melainkan juga sebagai momen ketika dunia melihat jelas perbedaan kelas antara mantan tuan rumah dan tuan rumah baru Piala Dunia.