LOS ANGELES – Perjuangan Belgia dan Iran di Piala Dunia 2026 semakin menunjukkan betapa kerasnya persaingan di Grup G. Bertanding di Los Angeles, AS, Minggu (21/6/2026) kedua tim harus puas berbagi angka setelah bermain imbang tanpa gol dalam laga yang sarat tekanan dan drama.
Hasil 0-0 tersebut membuat nasib keduanya masih menggantung. Belgia kini mengoleksi dua poin dari dua pertandingan, sama seperti Iran. Dengan satu laga tersisa, keduanya masih harus berjuang habis-habisan untuk mengamankan tiket ke babak 32 besar.
Bagi Belgia, hasil ini terasa seperti kemunduran lain bagi generasi yang selama lebih dari satu dekade digadang-gadang mampu membawa negara itu meraih gelar juara dunia. Setelah gagal memenuhi ekspektasi pada berbagai turnamen besar, Setan Merah kembali berada di ambang kegagalan lolos dari fase grup untuk kedua Piala Dunia secara beruntun.
Belgia sebenarnya tampil dominan dengan 23 tembakan sepanjang pertandingan. Namun mereka gagal menaklukkan penampilan gemilang kiper Iran, Alireza Beiranvand, yang berkali-kali menggagalkan peluang emas lawan.
Situasi Belgia semakin sulit ketika bek muda Nathan Ngoy menerima kartu merah pada babak kedua akibat melakukan pelanggaran profesional. Bermain dengan 10 orang membuat Belgia kesulitan menemukan gol kemenangan yang sangat mereka butuhkan.
Sorotan juga tertuju kepada dua bintang senior Belgia, Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku. Keduanya kembali dipercaya sebagai tumpuan utama, namun gagal memberikan pengaruh besar sepanjang pertandingan.
Mantan gelandang Prancis, Patrick Vieira, menilai kondisi kebugaran menjadi masalah utama Belgia saat ini. “Ini masalah terbesar Belgia. Dua pemain terbaik mereka, De Bruyne dan Lukaku, tidak berada dalam kondisi pertandingan yang ideal,” kata Vieira.
Ia menambahkan, “Anda bisa melihat kurangnya tempo permainan mereka. Sentuhan pertama Lukaku dan kerja samanya sangat buruk hari ini. Belgia tidak mengesankan. Saya pikir Iran pantas mendapatkan satu poin.”
Kritik lebih tajam datang dari mantan kapten Manchester United dan Republik Irlandia, Roy Keane. “Dari sisi kualitas permainan, saya pikir pertandingan ini buruk. Sangat buruk,” ujar Keane.
Meski demikian, Keane tetap memuji satu momen magis De Bruyne yang hampir menghasilkan gol bagi Belgia pada babak kedua. “Itulah yang dilakukan pemain hebat. Mereka hanya membutuhkan satu momen dan De Bruyne hampir melakukannya.”
Di sisi lain, hasil imbang ini juga menjadi pencapaian bersejarah bagi Iran. Untuk pertama kalinya, mereka berhasil melewati dua laga awal Piala Dunia tanpa menelan kekalahan. Prestasi tersebut terasa semakin istimewa mengingat skuad Iran baru diizinkan terbang ke Amerika Serikat sehari sebelum setiap pertandingan.
Kini segalanya akan ditentukan pada laga terakhir. Belgia akan menghadapi Selandia Baru di Vancouver, sementara Iran bertemu Mesir di Seattle. Satu kesalahan saja bisa mengakhiri mimpi keduanya di Piala Dunia 2026.