SEATTLE – Perjuangan panjang Timnas Iran di Piala Dunia 2026 berakhir dengan kisah yang menyayat hati. Bermain penuh determinasi, Iran hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Mesir pada laga terakhir Grup G di Seattle Stadium, Seattle, Washington, AS, Jumat (26/6/2026). Hasil itu sempat membuat mereka berharap lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik, tetapi mimpi itu pupus setelah hasil pertandingan lain tidak berpihak kepada mereka.
Ironisnya, Iran meninggalkan turnamen tanpa sekalipun menelan kekalahan. Tim asuhan Amir Ghalenoei menutup fase grup dengan tiga hasil imbang melawan Belgia, Selandia Baru, dan Mesir. Namun, tiga poin dari tiga pertandingan tidak cukup untuk membawa Team Melli mencatat sejarah lolos ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Drama terbesar terjadi di Seattle. Mesir unggul cepat melalui Mahmoud Saber pada menit kelima. Iran mendapat peluang emas menyamakan kedudukan lewat penalti, tetapi eksekusi Mehdi Taremi berhasil digagalkan. Tim Melli akhirnya bangkit melalui gol Ramin Rezaeian pada menit ke-14.
Puncak ketegangan hadir pada masa injury time. Shoja Khalilzadeh sempat menjebol gawang Mesir dan seluruh pemain Iran merayakan gol yang diyakini mengantar mereka menuju babak 32 besar. Namun setelah pemeriksaan VAR, gol tersebut dianulir karena offside. Keputusan itu menghancurkan harapan Iran hanya dalam hitungan menit.
Pelatih Amir Ghalenoei mengaku para pemainnya sudah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Ia juga menyinggung beratnya perjalanan yang harus dijalani timnya sepanjang turnamen.
“Kami mengalami banyak kesialan. Para pemain bahkan lebih banyak berada di hotel daripada menikmati atmosfer turnamen,” ujar Ghalenoei seusai pertandingan.
Kesulitan Iran memang tidak hanya terjadi di atas lapangan. Di tengah ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, skuad harus bermarkas di Tijuana, Meksiko, lalu bolak-balik menempuh perjalanan menuju Amerika Serikat setiap kali bertanding. Sejumlah staf juga mengalami persoalan visa, sementara tim mendapat pemeriksaan keamanan yang lebih ketat dibanding peserta lain. Kapten Mehdi Taremi bahkan menyebut situasi tersebut sebagai “bencana logistik”, sedangkan Ghalenoei merasa timnya terus berada di bawah tekanan sepanjang turnamen. Tantangan yang dihadapi Iran berkaitan dengan situasi politik dan kebijakan penyelenggara turnamen.
Kegagalan Iran sekaligus menjadi pukulan bagi sepak bola Asia. Dari delapan wakil AFC yang tampil di Piala Dunia 2026, hanya Jepang dan Australia yang berhasil lolos dari fase grup. Iran, yang sempat tampil disiplin dan sulit dikalahkan, harus pulang dengan penyesalan setelah peluang bersejarah sirna akibat margin yang amat tipis.
Bagi Iran, Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena kekalahan telak, melainkan karena perjuangan yang nyaris berbuah sejarah, sebelum akhirnya dihentikan oleh satu keputusan VAR dan rangkaian keadaan yang terus menguji kesabaran mereka hingga peluit akhir berbunyi.