MIAMI – Piala Dunia 2026 kembali melahirkan kisah dongeng bak Cinderela yang sulit dipercaya. Cape Verde, negara kepulauan kecil di Afrika dengan jumlah penduduk hanya sekitar 525 ribu jiwa, sukses mencatat sejarah dengan lolos ke babak 32 besar sebagai runner-up Grup H, menyingkirkan raksasa Uruguay serta Arab Saudi yang datang dengan sumber daya jauh lebih besar.
Pada laga terakhir Grup H, Sabtu (27/6/2026), Cape Verde bermain imbang tanpa gol melawan Arab Saudi. Hasil tersebut cukup mengantarkan The Blue Sharks finis di posisi kedua dengan koleksi tiga poin hasil tiga kali seri. Mereka menjadi tim pertama yang lolos ke fase gugur Piala Dunia dengan tiga hasil imbang sejak Cile pada Piala Dunia 1998.
Pencapaian ini terasa semakin luar biasa karena Cape Verde menjalani debut di putaran final Piala Dunia. Sebelum turnamen dimulai, hampir tidak ada yang menjagokan tim asuhan Bubista mampu melewati fase grup yang dihuni Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi.
Sepanjang pertandingan melawan Arab Saudi, Cape Verde justru tampil lebih berbahaya. Willy Semedo beberapa kali mengancam gawang lawan, termasuk melalui tembakan keras yang mampu digagalkan kiper Mohammed Al Owais. Kevin Pina juga nyaris memecah kebuntuan lewat sepakan jarak jauh yang tipis melenceng dari pojok atas gawang.
Arab Saudi sendiri kehilangan bek Hassan Al Tambakti yang harus ditandu keluar lapangan setelah terjatuh tanpa kontak dengan pemain lain pada babak pertama. Meski terus berjuang hingga menit-menit akhir, wakil Asia itu gagal mencetak gol yang mereka butuhkan untuk menjaga asa lolos.
Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, para pemain Cape Verde langsung berkumpul mengelilingi sebuah telepon genggam untuk menyaksikan detik-detik akhir laga Uruguay melawan Spanyol. Suasana berubah menjadi pesta ketika dipastikan Uruguay kalah 0-1, sehingga Cape Verde resmi melaju ke babak 32 besar.
Keberhasilan ini semakin istimewa karena Cape Verde menjadi negara Afrika ketiga yang mampu menyelesaikan fase grup tanpa terkalahkan pada debut mereka di Piala Dunia, sekaligus wakil Afrika pertama yang lolos dari fase grup pada penampilan perdana sejak Ghana pada 2006.
Gelandang Cape Verde, Deroy Duarte, mengaku sulit mempercayai pencapaian tersebut. “Sejujurnya, ini luar biasa. Rasanya seperti sedang bermimpi. Sejak kecil saya selalu bermimpi bermain di Piala Dunia. Menjadi pemain terbaik pertandingan sekaligus mencetak sejarah adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan,” ujar Duarte dikutip dari BBC Sport.
Ia menambahkan, seluruh skuad akan menikmati momen bersejarah itu sebelum kembali fokus menghadapi tantangan berikutnya. Pada Jumat, 3 Juli, Cape Verde akan menghadapi juara bertahan Argentina di Miami Stadium pada babak 32 besar.
“Sekarang kami ingin merayakannya. Kami sangat bahagia dan semoga seluruh rakyat Cape Verde juga ikut bahagia. Mulai besok kami fokus ke pertandingan berikutnya. Lawannya Argentina, pertandingan yang sangat berat. Tapi kami harus percaya. Apa pun bisa terjadi.”