WASHINGTON – Demam Piala Dunia 2026 ternyata tak hanya menarik perhatian miliaran penggemar sepak bola, tetapi juga dimanfaatkan oleh ribuan situs ilegal yang menyiarkan pertandingan tanpa izin. Menanggapi maraknya pembajakan digital tersebut, aparat penegak hukum di Amerika Serikat dan sejumlah negara di kawasan Amerika melancarkan operasi besar-besaran untuk melindungi hak siar turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia itu.
Berdasarkan keterangan yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat, Senin (21/7/2026), otoritas AS menyita lebih dari 1.000 nama domain yang terbukti menayangkan pertandingan Piala Dunia 2026 secara ilegal, melanggar ketentuan hak cipta Amerika Serikat.
Penyitaan dilakukan melalui tiga operasi terpisah selama penyelenggaraan turnamen yang berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebelumnya, hampir 400 situs juga telah lebih dulu ditutup pada akhir bulan lalu.
Operasi tersebut dipimpin oleh U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) Homeland Security Investigations (HSI) Washington Field Office bersama National Intellectual Property Rights Coordination Center. Berdasarkan dokumen yang diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Timur Virginia, domain-domain tersebut digunakan untuk menyiarkan pertandingan Piala Dunia secara langsung tanpa izin dari pemegang hak siar.
Keberadaan situs-situs tersebut berhasil diidentifikasi berkat kerja sama dengan FIFA. Informasi tambahan juga diberikan oleh beIN Media Group, NBC Universal, Alliance for Creativity and Entertainment (ACE), Ultimate Fighting Championship (UFC), serta Warner Brothers.
Upaya pemberantasan pembajakan tidak hanya dilakukan di Amerika Serikat. Melalui program International Computer Hacking and Intellectual Property (ICHIP), Departemen Kehakiman AS mengoordinasikan Operation Red Card, sebuah operasi lintas negara yang melibatkan aparat penegak hukum dari Argentina, Brasil, Chile, Kolombia, Republik Dominika, Ekuador, Paraguay, dan Peru.
Hasilnya, ratusan hingga ribuan situs streaming ilegal berhasil diblokir di berbagai negara, termasuk 14 situs di Argentina, 223 di Ekuador, 28 di Peru, 309 di Brasil, 256 di Republik Dominika, dan 1.140 situs di Kolombia.
Tak hanya memburu pembajakan siaran digital, aparat Kolombia juga menggelar 13 operasi penggerebekan terhadap jaringan produksi dan distribusi perlengkapan olahraga palsu. Operasi tersebut berujung pada 11 penangkapan dan vonis terhadap pelaku.
Rangkaian operasi ini menunjukkan bahwa perlindungan hak siar dan kekayaan intelektual menjadi perhatian serius selama Piala Dunia 2026. Di balik euforia turnamen, aparat di berbagai negara menjalankan berbagai langkah penegakan hukum untuk memastikan pertandingan hanya dapat disaksikan melalui saluran resmi serta menekan praktik pembajakan digital yang merugikan industri olahraga global.