INVERSI.ID – Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita bekerja. Salah satu dampak paling nyata adalah munculnya sistem kerja jarak jauh atau remote working, yang kemudian terus bertahan bahkan setelah situasi membaik. Tapi ketika sebagian perusahaan mulai kembali ke sistem kerja dari kantor (work from office/WFO), muncul pertanyaan penting, bagaimana kedua pola kerja ini memengaruhi kesehatan mental dan keseimbangan hidup?
Di balik fleksibilitas kerja remote dan rutinitas kerja kantor, masing-masing sistem ternyata memiliki dampak berbeda pada kondisi psikologis dan gaya hidup para pekerja, terutama anak muda yang kini mendominasi angkatan kerja.
Kerja Remote: Fleksibel, Tapi Bisa Menyendiri
Bekerja dari rumah memberikan keleluasaan yang belum tentu ditemukan di kantor. Waktu yang biasanya habis di perjalanan bisa digunakan untuk olahraga, memasak, atau bahkan tidur lebih lama. Banyak pekerja merasa lebih produktif karena bisa menciptakan suasana kerja yang nyaman di rumah.
Namun, di balik semua kemudahan itu, kerja remote juga menyimpan risiko. Batas antara jam kerja dan waktu pribadi menjadi kabur. Tak sedikit yang justru merasa terus bekerja karena notifikasi tak kenal waktu. Rasa sepi dan isolasi juga menjadi isu serius, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri.
Studi dari American Psychiatric Association pada 2023 menyebutkan bahwa pekerja remote cenderung mengalami kesepian dan kelelahan emosional lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja di kantor. Interaksi sosial yang terbatas membuat mental rentan tertekan tanpa disadari.
Kerja di Kantor: Lebih Teratur, Tapi Rentan Stres Komuter
Bagi sebagian orang, kembali ke kantor memberi rasa stabil dan struktur yang membantu. Waktu kerja lebih jelas, istirahat bisa dilakukan bersama rekan kerja, dan diskusi langsung membuat pekerjaan lebih lancar. Lingkungan kerja yang kondusif juga bisa meningkatkan motivasi dan memperkuat rasa memiliki terhadap perusahaan.
Namun, tekanan bisa datang dari hal lain, seperti kemacetan saat berangkat dan pulang kantor, atau keharusan mengikuti ritme kerja yang kadang tak fleksibel. Pekerja muda yang punya kegiatan atau tanggung jawab di luar pekerjaan formal—misalnya membangun bisnis sampingan atau merawat keluarga—sering kali merasa WFO membuat waktu mereka terkuras habis.
Selain itu, tekanan dari atasan atau budaya kantor yang kompetitif dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti munculnya rasa cemas, burnout, bahkan depresi ringan yang sering diabaikan.
Life Balance Bukan Soal Lokasi, Tapi Soal Batasan
Pada akhirnya, baik kerja remote maupun kerja kantor memiliki tantangan masing-masing terhadap mental dan life balance. Kunci utamanya ada pada kemampuan individu dalam mengelola waktu, menetapkan batasan, dan membangun rutinitas yang sehat.
Pekerja yang tahu kapan harus berhenti, mampu memisahkan ruang kerja dan ruang pribadi (meski hanya simbolis), serta rutin melakukan aktivitas yang menyenangkan di luar pekerjaan, biasanya lebih tahan terhadap tekanan, apapun sistem kerja yang diadopsi.
Bagi perusahaan, penting untuk menyediakan ruang diskusi soal kesehatan mental dan mendukung karyawan dengan kebijakan yang fleksibel. Karena dunia kerja modern bukan lagi tentang “datang jam berapa, pulang jam berapa,” tapi tentang bagaimana pekerjaan tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas hidup.***