INVERSI.ID – Tren perawatan wajah dengan banyak tahapan mulai ditinggalkan. Kini, skinimalism menjadi pilihan baru yang lebih simpel, hemat waktu, dan tetap efektif. Gaya perawatan ini semakin populer di kalangan Gen Z dan milenial yang menginginkan rutinitas skincare tanpa ribet.
Apa Itu Skinimalism?
Skinimalism merupakan gabungan dari kata “skin” (kulit) dan “minimalism” (minimalisme). Konsep ini menekankan penggunaan produk perawatan kulit dalam jumlah yang lebih sedikit, namun tetap memberikan hasil yang optimal. Fokus utamanya adalah memilih produk yang multifungsi dan esensial.
Tren ini muncul sebagai respons terhadap rutinitas perawatan kulit yang berlapis-lapis, seperti tren ten-step skincare yang dulu sempat populer. Kini, banyak orang memilih rutinitas yang lebih sederhana dan sesuai kebutuhan pribadi.
“Tren ini menekankan pada kesederhanaan dalam menggunakan skincare. Jadi pakai lebih sedikit produk tanpa mengesampingkan efikasinya,” ujar Sales and Marketing Manager Sensatia, Kunti Puspita Sari, dalam acara bincang media bertajuk ‘Unveiling the Future of Clean Beauty with Sensatia’ yang berlangsung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Alasan Skinimalism Semakin Populer
Salah satu faktor pendorong popularitas skinimalism adalah perubahan gaya hidup. Gen Z dan milenial dikenal memiliki aktivitas yang padat dan menginginkan rutinitas yang praktis serta efisien.
Berdasarkan survei Jakpat yang melibatkan lebih dari 2.000 responden, terjadi penurunan jumlah produk skincare yang digunakan. Rata-rata pengguna kini hanya memakai sekitar lima jenis produk, dibandingkan sebelumnya yang bisa mencapai enam atau lebih.
Untuk perawatan pagi hari, produk yang umum digunakan antara lain facial wash, toner, serum, pelembap, dan sunscreen. Sementara di malam hari, urutannya mencakup micellar water, facial wash, toner, serum, pelembap, dan produk khusus untuk permasalahan kulit seperti acne spot treatment atau retinol.
Kaitan dengan Gaya Hidup Berkelanjutan
Skinimalism tak hanya soal kepraktisan, tapi juga berkaitan erat dengan isu keberlanjutan. Dengan mengurangi jumlah produk yang digunakan, konsumen turut berkontribusi dalam mengurangi limbah kemasan serta penggunaan bahan-bahan kimia secara berlebihan.
Tren ini mulai mencuat sekitar tahun 2020 dan berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perawatan kulit yang tidak hanya baik untuk diri sendiri, tapi juga untuk lingkungan.
Skinimalism menjadi solusi bagi generasi muda yang ingin tampil maksimal tanpa harus menghabiskan banyak waktu dan uang untuk skincare. Dengan pendekatan yang lebih minimalis namun tetap fungsional, tren ini diprediksi akan terus bertahan dan bahkan berkembang ke berbagai lini kecantikan lainnya.***