INVERSI.ID – Bagi Generasi Z, sekolah bukan lagi sekadar tempat menimba ilmu. Lebih dari itu, mereka mendambakan lingkungan belajar yang inklusif, nyaman, dan bebas dari perundungan. Dua siswi SMP Negeri 1 Palu, Desy Pritasari dan Laura Ghina Desianty, berbagi pandangan tentang pentingnya menciptakan sekolah yang sehat secara emosional dan sosial.
“Sekolah harusnya jadi tempat di mana semua siswa merasa diterima, bukan dihakimi,” ujar Desy Pritasari, siswi kelas VIII.
Ia menambahkan bahwa masih banyak siswa yang merasa minder karena latar belakang mereka. Bagi Desy, sekolah ideal adalah tempat yang memperlakukan semua siswa dengan setara, tanpa diskriminasi.
Desy menilai, lingkungan sekolah yang suportif dan adil dapat meningkatkan rasa percaya diri serta motivasi belajar siswa. Menurutnya, Generasi Z tidak hanya menilai kualitas sekolah dari fasilitas atau prestasi akademik, tetapi juga dari bagaimana siswa dihargai dan diterima.
Pentingnya Sekolah Bebas Tekanan Sosial
Sejalan dengan Desy, Laura Ghina Desianty menyoroti pentingnya suasana sekolah yang terbebas dari sikap toksik dan tekanan sosial berlebihan. Menurut Laura, banyak siswa yang mengalami stres bukan karena sulitnya materi pelajaran, melainkan karena tekanan dari lingkungan sosial di sekolah.
“Banyak siswa yang stres bukan karena pelajaran, tapi karena lingkungan sosialnya,” ujar Laura.
“Kami butuh guru dan teman yang saling mendukung. Sekolah yang peduli dengan kesehatan mental siswanya itu keren banget buat Gen Z,” sambungnya.
Laura menekankan pentingnya kehadiran guru dan teman sebaya yang mampu menciptakan suasana saling mendukung di sekolah. Dukungan ini dinilai penting untuk mencegah tekanan mental yang dapat berdampak buruk pada prestasi dan perkembangan siswa.
Membangun Sekolah yang Inklusif dan Empatik
Baik Desy maupun Laura berharap sekolah masa kini dan masa depan lebih menonjolkan nilai-nilai empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Mereka sepakat bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menghafal pelajaran, tetapi juga sebagai wadah membentuk karakter dan membangun kepercayaan diri siswa.
“Kalau sekolahnya adem dan inklusif, kita pasti lebih semangat belajar dan berkembang,” tutup Desy.
Semangat menciptakan sekolah yang lebih inklusif dan sehat secara emosional mencerminkan kebutuhan nyata Generasi Z dalam menghadapi tantangan dunia modern. Lingkungan belajar yang suportif diharapkan dapat menjadi fondasi lahirnya generasi muda yang lebih tangguh, percaya diri, dan berdaya saing.***