By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Pacaran di Usia Remaja Boleh Atau Tidak? Begini Kata Psikolog!
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Pacaran di Usia Remaja Boleh Atau Tidak? Begini Kata Psikolog!

LifeStyle

Pacaran di Usia Remaja Boleh Atau Tidak? Begini Kata Psikolog!

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Di masa remaja, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal yang wajar. Namun, banyak orang tua yang merasa khawatir jika anak mereka mulai menjalin hubungan asmara di usia ini. Meski demikian, realitasnya menunjukkan bahwa banyak remaja, terutama siswa SMP dan SMA, mulai menjalin hubungan romantis.

Lantas, bagaimana pandangan psikologi mengenai pacaran di usia remaja? Wahyu Bintari, S.Psi, M.Psi, seorang psikolog, mengungkapkan bahwa remaja sebaiknya tidak terburu-buru untuk berpacaran. Dalam berbagai kesempatan, terutama saat berbicara di sekolah-sekolah menengah, Wahyu selalu menyarankan agar remaja menunda hubungan asmara.

Menurutnya, usia remaja adalah fase di mana individu belum sepenuhnya siap menghadapi berbagai ketidakpastian dan kekecewaan yang mungkin muncul dalam sebuah hubungan.

“Banyak remaja memiliki ekspektasi bahwa pacaran akan selalu menyenangkan dan penuh kebahagiaan. Padahal, realitanya tidak selalu demikian,” jelas Wahyu.

Remaja dan Ketidaksiapan Menghadapi Kekecewaan

Saat menjalin hubungan, remaja cenderung memiliki ekspektasi tinggi terhadap pasangannya. Mereka mungkin menuntut respons cepat dalam komunikasi, merasa curiga berlebihan, atau mudah overthinking jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan.

Masalahnya, di usia ini, mereka belum cukup matang untuk mengelola emosi dan menerima kenyataan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai keinginan.

“Di usia remaja, pola pikir masih cenderung idealis. Mereka membayangkan hubungan yang sempurna tanpa memahami bahwa ada dinamika dan tantangan dalam setiap interaksi,” tambah Wahyu.

Tantangan Manajemen Waktu

Baca Juga :

Presiden Jokowi Dorong Kebutuhan Dokter Spesialis Demi Siapkan Bonus Demografi
Tegaskan Serius Dukung Erick Thohir Sebagai Cawapres, PAN: Punya Bekal Bertarung di Pilpres 2024

Selain emosional, aspek lain yang perlu diperhatikan adalah kemampuan remaja dalam mengatur waktu. Bahkan tanpa menjalin hubungan asmara, banyak remaja sudah mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan penggunaan gadget.

Ketika pacaran masuk ke dalam keseharian mereka, fokus terhadap hal-hal yang lebih penting bisa terganggu. Alih-alih mengembangkan diri, sebagian besar waktu justru dihabiskan untuk mengejar kesenangan sesaat.

“Saat remaja mulai tertarik pada sesuatu, mereka cenderung mengeksplorasi hal tersebut sepenuhnya. Jika terlalu fokus pada pacaran, banyak potensi yang bisa tersia-siakan,” kata Wahyu.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Remaja

Meskipun secara psikologis pacaran di usia remaja tidak disarankan, kenyataannya banyak anak tetap melakukannya. Ada yang secara terbuka berbicara kepada orang tua, ada pula yang memilih hubungan diam-diam atau backstreet.

Menanggapi fenomena ini, Wahyu mengingatkan para orang tua untuk tidak bersikap terlalu keras dalam melarang anak-anak mereka berpacaran.

“Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka berada dalam fase trial and error, di mana mereka mencoba sesuatu tanpa benar-benar tahu akibatnya. Jika terlalu dilarang, mereka justru bisa semakin penasaran,” ungkapnya.

Daripada bersikap frontal, orang tua sebaiknya lebih sering berdiskusi dan membangun kedekatan emosional dengan anak. Dengan cara ini, anak akan merasa nyaman untuk berbagi cerita dan orang tua pun bisa lebih mudah memantau serta memberikan arahan.

Selain itu, edukasi mengenai hubungan sehat dan seksualitas juga sangat penting. Orang tua perlu memberikan pemahaman tentang batasan-batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis agar anak tidak terjebak dalam situasi yang merugikan.

Meskipun pacaran di usia remaja bukanlah sesuatu yang disarankan, bukan berarti hubungan sosial dengan lawan jenis harus sepenuhnya dilarang. Yang terpenting adalah bagaimana remaja memahami batasan, mengelola ekspektasi, serta tetap fokus pada pengembangan diri mereka.***

You Might Also Like

LRT Velodrome–Manggarai Segera Beroperasi, Tapi Siapkah Manggarai Tampung Lonjakan Penumpang
Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
TAGGED:remaja
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Dampak Gangguan Ponsel Pada Remaja Bisa Alami Kesehatan Mental
Next Article Generasi Z Ingin Sekolah yang Aman, Nyaman, dan Bebas Perundungan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo

3 weeks ago
Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index