By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Reading: Fenomena Friendship Marriage di China, Menikah Tanpa Cinta, Demi Kebebasan Hidup
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Fenomena Friendship Marriage di China, Menikah Tanpa Cinta, Demi Kebebasan Hidup

LifeStyle

Fenomena Friendship Marriage di China, Menikah Tanpa Cinta, Demi Kebebasan Hidup

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
3 Min Read
Ilustrasi pernikahan remaja. (Foto: Pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Di tengah tekanan sosial dan tuntutan keluarga yang kuat, generasi muda di China kini memilih jalur alternatif dalam membangun kehidupan rumah tangga. Salah satu tren yang mulai populer adalah friendship marriage, yakni pernikahan berbasis persahabatan tanpa unsur cinta romantis atau hubungan seksual.

Tren ini memberikan ruang bagi dua orang untuk menjadi pasangan sah secara hukum tanpa harus tunduk pada ekspektasi konvensional mengenai cinta, pernikahan, dan keturunan. Dalam praktiknya, pasangan yang menjalani friendship marriage tetap tinggal serumah dan berbagi kehidupan bersama, namun mereka tidur di kamar terpisah dan bebas menjalin hubungan di luar pernikahan.

Mengutip laporan South China Morning Post pada Rabu (30/4), pernikahan jenis ini memungkinkan pasangan tetap menjaga kemandirian sambil saling mendukung dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh datang dari Meilan, perempuan berusia akhir 20-an asal Chongqing. Empat tahun lalu, ia menikahi sahabatnya setelah keduanya sepakat untuk tidak menggelar pesta pernikahan, tidak bertukar hadiah, dan tidak memiliki anak. Bagi mereka, status sebagai suami-istri sah memberikan keuntungan legal, termasuk hak membuat keputusan dalam keadaan darurat medis.

Meilan dan suaminya juga berbagi biaya hidup, membeli rumah bersama, namun tetap menjaga keuangan pribadi masing-masing. Mereka menjadikan rumah sebagai ruang bersama yang nyaman tanpa tuntutan hubungan romantis, serta tetap menghargai ruang pribadi satu sama lain.

Fenomena serupa juga muncul di kota-kota besar seperti Shanghai. Chloe, perempuan berusia 33 tahun, memilih menikahi teman lamanya dari universitas agar terhindar dari tekanan sosial sebagai perempuan lajang. Demi menjaga batasan yang jelas, mereka membuat perjanjian pra-nikah yang mengatur keuangan, kepemilikan aset, hingga klausul perceraian jika salah satu dari mereka menemukan pasangan sejati di masa depan.

Kendati friendship marriage memberikan alternatif dari norma tradisional, para ahli menilai bentuk pernikahan ini belum tentu cocok untuk semua orang. Pan Lian, konsultan hubungan dari Provinsi Hubei, menyebut bahwa pernikahan berbasis persahabatan dapat rentan terhadap ketidakstabilan jika tidak dibangun atas dasar kebutuhan emosional yang kuat.

Meski begitu, tren ini mendapatkan sorotan luas di media sosial. Banyak pasangan yang membagikan kisah mereka dan mendapatkan dukungan dari publik, terutama dari generasi muda yang ingin mendefinisikan ulang makna pernikahan dan keluarga.

Friendship marriage dipandang sebagai simbol keberanian anak muda dalam membentuk kehidupan sesuai nilai-nilai mereka sendiri: kemitraan yang dibangun atas dasar saling menghormati, kemandirian, dan dukungan timbal balik, tanpa harus terpaku pada definisi cinta konvensional.***

Baca Juga :

Jangan Asal Pilih Jurusan, Yuk Kenali Minat dengan Pendampingan Guru BK!
6 Tren Skincare Favorit Gen Z di Indonesia, dari Clean Beauty Hingga Teknologi AI

You Might Also Like

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang
Senja di AWT 2026 Sajikan Wisata Alam, Budaya, hingga Fashion Show Anak Muda
Denpasar Fashion Street 2026 Angkat Kain Perca Jadi Fashion Elegan dan Bernilai Tinggi
BBTF 2026 Jadi Ajang Promosi Destinasi Wisata Indonesia ke Dunia
Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Saat Idul Adha, Pendaki Ilegal Diincar
TAGGED:ChinaMenikah
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Prabowo akan Hadiri Forum Ekonomi Internasional di Rusia
Next Article PayLater, Gaya Hidup Finansial Baru Generasi Muda yang Penuh Risiko
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

INDEF Desak Aturan Ketat BBM Subsidi, Hak Wong Cilik Jangan Dicuri Mafia

Dulu Numpang, Kini Mandiri! BPBL Hadirkan Terang dan Harapan Baru untuk Warga Madiun

Warga Muba Bersyukur, Hasil Sumur Rakyat Kini Legal Pasok Pertamina

Adilkah Lembur Diganti Libur? Kisruh Indomaret Picu Pro-Kontra Nasional

Target 100 GW! PLTS Raksasa di Jawa Disiapkan, Ketergantungan Energi Fosil Mulai Diputus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Tiga Juta Penumpang Diperkirakan Padati Bandara Saat Libur Idul Adha 2026

1 week ago
Travel

Libur Idul Adha 2026, Ancol Dipadati Lebih dari 32 Ribu Wisatawan

1 week ago
Travel

Pemkot Bandung Percepat Penataan Bandung Zoo, Lelang Ulang Ditarget Rampung Akhir Mei

1 week ago
Travel

Kemenpar Siapkan 136 Mooring Buoy demi Jaga Status UNESCO Raja Ampat

2 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index