INVERSI.ID – Di tengah tekanan sosial dan tuntutan keluarga yang kuat, generasi muda di China kini memilih jalur alternatif dalam membangun kehidupan rumah tangga. Salah satu tren yang mulai populer adalah friendship marriage, yakni pernikahan berbasis persahabatan tanpa unsur cinta romantis atau hubungan seksual.
Tren ini memberikan ruang bagi dua orang untuk menjadi pasangan sah secara hukum tanpa harus tunduk pada ekspektasi konvensional mengenai cinta, pernikahan, dan keturunan. Dalam praktiknya, pasangan yang menjalani friendship marriage tetap tinggal serumah dan berbagi kehidupan bersama, namun mereka tidur di kamar terpisah dan bebas menjalin hubungan di luar pernikahan.
Mengutip laporan South China Morning Post pada Rabu (30/4), pernikahan jenis ini memungkinkan pasangan tetap menjaga kemandirian sambil saling mendukung dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh datang dari Meilan, perempuan berusia akhir 20-an asal Chongqing. Empat tahun lalu, ia menikahi sahabatnya setelah keduanya sepakat untuk tidak menggelar pesta pernikahan, tidak bertukar hadiah, dan tidak memiliki anak. Bagi mereka, status sebagai suami-istri sah memberikan keuntungan legal, termasuk hak membuat keputusan dalam keadaan darurat medis.
Meilan dan suaminya juga berbagi biaya hidup, membeli rumah bersama, namun tetap menjaga keuangan pribadi masing-masing. Mereka menjadikan rumah sebagai ruang bersama yang nyaman tanpa tuntutan hubungan romantis, serta tetap menghargai ruang pribadi satu sama lain.
Fenomena serupa juga muncul di kota-kota besar seperti Shanghai. Chloe, perempuan berusia 33 tahun, memilih menikahi teman lamanya dari universitas agar terhindar dari tekanan sosial sebagai perempuan lajang. Demi menjaga batasan yang jelas, mereka membuat perjanjian pra-nikah yang mengatur keuangan, kepemilikan aset, hingga klausul perceraian jika salah satu dari mereka menemukan pasangan sejati di masa depan.
Kendati friendship marriage memberikan alternatif dari norma tradisional, para ahli menilai bentuk pernikahan ini belum tentu cocok untuk semua orang. Pan Lian, konsultan hubungan dari Provinsi Hubei, menyebut bahwa pernikahan berbasis persahabatan dapat rentan terhadap ketidakstabilan jika tidak dibangun atas dasar kebutuhan emosional yang kuat.
Meski begitu, tren ini mendapatkan sorotan luas di media sosial. Banyak pasangan yang membagikan kisah mereka dan mendapatkan dukungan dari publik, terutama dari generasi muda yang ingin mendefinisikan ulang makna pernikahan dan keluarga.
Friendship marriage dipandang sebagai simbol keberanian anak muda dalam membentuk kehidupan sesuai nilai-nilai mereka sendiri: kemitraan yang dibangun atas dasar saling menghormati, kemandirian, dan dukungan timbal balik, tanpa harus terpaku pada definisi cinta konvensional.***