INVERSI.ID – Musik dari era 1990-an kembali naik daun di kalangan anak muda. Menariknya, tren ini justru dipopulerkan oleh Generasi Z, bukan oleh mereka yang tumbuh bersama era tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kualitas dan ketulusan dalam karya musik mampu melampaui waktu dan teknologi. Melalui platform digital seperti Spotify dan TikTok, lagu-lagu lawas kini menemukan pendengar baru sekaligus penggemar yang loyal.
Dari “Dan” Sampai “I Want It That Way”: Lagu Lama, Makna Baru
Band-band legendaris seperti Dewa 19, Sheila on 7, dan Padi, hingga musisi internasional seperti Backstreet Boys dan Britney Spears, kembali ramai diputar dan digunakan sebagai latar video TikTok. Lagu seperti “Dan” atau “Sephia” kerap digunakan dalam konten bertema nostalgia sekolah, cerita cinta remaja, hingga meme humor viral.
“Kami suka musik 90-an karena nadanya jujur dan liriknya menyentuh. Tidak seperti sekarang yang kadang terlalu digital,” ujar Rafi (19), mahasiswa sekaligus kolektor kaset pita asal Yogyakarta.
Akses mudah terhadap katalog musik lawas melalui streaming membuat Gen Z lebih bebas mengeksplor genre dan era musik yang berbeda. Lirik yang emosional, alunan musik yang sederhana, dan suara vokal yang ekspresif jadi alasan utama musik era 90-an kembali digemari.
Musik Jadi Gerbang Gaya Hidup Retro
Lebih dari sekadar mendengarkan, Gen Z juga mulai menghidupkan kembali gaya hidup era 90-an. Aksesori seperti walkman bluetooth, kamera analog, jaket denim, kaos oversize, dan sneakers klasik menjadi simbol gaya hidup retro yang kini dianggap aesthetic dan orisinal.
Kebangkitan musik ini juga mendorong lahirnya berbagai komunitas penggemar vintage, festival bertema nostalgia, hingga konser tribute yang kini justru didominasi penonton berusia 15–25 tahun.
Label Musik dan Musisi Ikut Menyambut Tren
Melihat antusiasme ini, sejumlah label rekaman mulai merilis ulang album klasik dalam versi digital remaster. Beberapa band lawas seperti Jamrud, Gigi, hingga P-Project kembali tampil di panggung berbagai kota dengan penonton yang lintas generasi.
Bahkan, musisi muda pun mulai menciptakan lagu dengan aransemen khas era 90-an—mengandalkan chord sederhana, lirik puitis, dan sentuhan analog.
Bukan Sekadar Tren, Tapi Gerakan Budaya
Fenomena ini bukan hanya soal tren konsumsi musik lama, tetapi bagian dari proses kreatif. Bagi Gen Z, musik 90-an bukan hanya didengar, tapi dihidupkan kembali dengan cara yang relevan dan penuh makna.
Di tengah dominasi musik digital yang serba instan, lagu-lagu dari masa lalu memberi ruang bagi generasi muda untuk merenung, merasa, dan mengekspresikan diri secara lebih jujur.
Kebangkitan musik 90-an di tangan Gen Z membuktikan bahwa nostalgia bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Dengan kreativitas, teknologi, dan kecintaan pada hal-hal autentik, generasi muda berhasil memberi nyawa baru pada musik lawas dan menjadikannya bagian penting dari ekspresi budaya masa kini.***