Inversi Di sebuah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Biringkanaya 03, kesibukan sudah dimulai bahkan saat fajar belum menyapa. Di tengah keriuhan peralatan masak dan aroma masakan yang menguar, terselip wajah-wajah muda yang tampak sigap mengolah bahan pangan.
Salah satu di antaranya adalah Bulqis, seorang mahasiswi yang memilih mendedikasikan waktunya sebagai relawan di dapur MBG. Baginya, dapur ini bukan sekadar tempat mengolah makanan, melainkan laboratorium kehidupan yang membentuk karakter dan kemandirian.
Bagi generasi Z seperti Bulqis, keterlibatan dalam program strategis nasional ini merupakan sebuah anomali yang positif. Di tengah tren mobilitas digital yang tinggi, ia memilih untuk terjun langsung ke lapangan, menghadapi tantangan fisik, dan menjadi bagian dari rantai pasok gizi bagi anak-anak sekolah.
Sebelumnya, Bulqis mengaku sempat mengalami masa transisi yang sulit saat mencari peluang kerja, namun kini ia menemukan ritme baru yang membuatnya merasa lebih berdaya.
“Sebelum bergabung dengan SPPG, hari-hari saya terasa stagnan di tengah penantian peluang yang tak kunjung datang. Namun, di sini, saya menemukan ritme hidup yang produktif. Aktivitas yang padat dan interaksi dengan tim dari lintas generasi membuat saya merasa hidup dan memiliki tujuan yang nyata setiap harinya,” ujar Bulqis saat ditemui di sela-sela aktivitasnya.
Tantangan dan Ketangguhan Generasi Muda
Menjadi relawan di dapur MBG bukanlah perkara mudah. Pekerjaan ini menuntut stamina fisik yang prima, dimulai sejak dini hari, serta kedisiplinan tinggi dalam menjaga kualitas menu yang disajikan. Tantangan semakin kompleks bagi Bulqis, yang harus membagi fokus antara tanggung jawab profesional di dapur SPPG dengan kewajiban akademisnya sebagai mahasiswi.
Namun, ia memandang tantangan tersebut sebagai bagian dari proses pembentukan karakter. Menurutnya, keletihan fisik adalah harga yang wajar untuk sebuah pembelajaran tentang ketekunan.
“Dalam dunia kerja yang dinamis, tekanan untuk tetap produktif adalah hal lumrah. Saya belajar untuk ikhlas dan sabar. Kuncinya adalah menjalani setiap proses dengan sepenuh hati, maka segala kerumitan akan terasa mengalir dengan sendirinya,” tuturnya.
Melalui pengalaman ini, Bulqis tidak hanya mengasah keterampilan teknis di bidang kuliner atau manajemen logistik, tetapi juga membangun kecerdasan emosional. Ia belajar tentang arti kolaborasi dalam tim yang beragam usia, kepemimpinan, serta manajemen waktu yang efektif. Nilai-nilai inilah yang ia yakini tidak akan ia temukan di bangku kuliah secara teoretis.
MBG sebagai Ruang Pemberdayaan dan Arah Karier
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam pandangan Bulqis telah melampaui fungsinya sebagai instrumen kesehatan masyarakat. Lebih dari itu, program ini telah menjadi ruang pemberdayaan inklusif bagi anak muda. Di dapur-dapur SPPG, anak muda diberikan kesempatan untuk belajar, bekerja, dan bertumbuh dalam sebuah ekosistem yang terstruktur.
“Pengalaman ini mengubah cara pandang saya terhadap masa depan. Saya menjadi lebih disiplin, mandiri, dan yang paling penting adalah tumbuhnya kepercayaan diri. Program MBG memberikan ruang bagi saya dan rekan-rekan muda lainnya untuk berkontribusi langsung pada agenda besar bangsa, sekaligus menemukan arah hidup yang lebih jelas,” jelasnya.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi Bulqis adalah ketika ia menyadari bahwa setiap porsi makanan yang ia siapkan memiliki dampak nyata bagi penerima manfaat. Kesadaran akan nilai sosial dari pekerjaannya inilah yang memberikan makna mendalam.
Ia menyadari bahwa penghasilan yang ia dapatkan adalah bonus, sedangkan nilai utama yang ia peroleh adalah rasa kebermanfaatan (sense of contribution).
Mengubah Paradigma Karier Generasi Z
Kisah Bulqis menjadi cermin bagi jutaan generasi muda Indonesia lainnya bahwa kesempatan untuk bertumbuh dapat ditemukan di mana saja, termasuk di unit-unit pelayanan gizi di daerah. Ia berharap, semakin banyak rekan sebaya yang berani keluar dari zona nyaman dan terlibat dalam program-program kemasyarakatan yang memiliki dampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia nasional.
Menatap masa depan, Bulqis memiliki aspirasi untuk menyelesaikan pendidikannya dan membangun karier yang lebih mapan. Namun, ia memastikan bahwa nilai-nilai kemandirian dan cara pandang positif terhadap setiap proses yang ia pelajari di dapur SPPG akan selalu menjadi bekal utamanya.
Bahwa kesuksesan tidak selalu tentang posisi yang tinggi, melainkan tentang bagaimana seseorang menemukan arti dari setiap langkah yang diambil, sekecil apa pun itu. Program MBG, melalui tangan-tangan muda seperti Bulqis, telah membuktikan bahwa pemberdayaan manusia berjalan beriringan dengan pembangunan fisik.
Dapur SPPG tidak hanya menjadi pusat produksi nutrisi, tetapi juga menjadi inkubator bagi lahirnya generasi muda yang tangguh, disiplin, dan memiliki empati sosial yang tinggi. Melalui narasi ini, Program MBG membuktikan diri sebagai investasi ganda: investasi kesehatan bagi penerima manfaat, dan investasi karakter bagi para relawan yang menjalaninya.