By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Gaya Hidup ‘Manusia Tikus’ yang Jadi Tren Baru Anak Muda China, Tidur Larut dan Hidup Menyendiri
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Gaya Hidup ‘Manusia Tikus’ yang Jadi Tren Baru Anak Muda China, Tidur Larut dan Hidup Menyendiri

LifeStyle

Gaya Hidup ‘Manusia Tikus’ yang Jadi Tren Baru Anak Muda China, Tidur Larut dan Hidup Menyendiri

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena sosial ‘Manusia Tikus’ tengah menarik perhatian dunia maya, khususnya di kalangan generasi muda China. Istilah “Rat People” atau “Manusia Tikus” menjadi viral dan ramai dibicarakan, menggambarkan gaya hidup menyendiri, nokturnal, dan menghindari tekanan sosial yang terus meningkat.

Contents
Tidur Larut, Tirai Gelap, dan Hidup MenyendiriCerminan Tekanan Ekonomi dan SosialPerubahan Sikap dari ‘Lying Flat’ ke ‘Hidup Seperti Tikus‘Menertawakan Diri Sendiri untuk BertahanApakah Ini Hanya Terjadi di China?

Tak hanya populer di China, tren gaya hidp ‘Manusia Tikus’ ini juga merambah komunitas mahasiswa diaspora di luar negeri seperti di Inggris, Singapura, hingga Australia.

Meski terdengar lucu, fenomena ‘Manusia Tikus’ ini menjadi simbol dari tekanan akademik dan dunia kerja yang kian berat, terutama bagi generasi muda di negara dengan populasi terbesar di dunia ini.

Tidur Larut, Tirai Gelap, dan Hidup Menyendiri

Dilansir dari CNA, Pu Yiqin (23), seorang mahasiswa pascasarjana asal China yang kini menempuh studi di King’s College London, secara terbuka menyebut dirinya seorang ‘Manusia Tikus’. Ia rutin membagikan kesehariannya melalui vlog di platform Xiaohongshu, aplikasi media sosial yang populer di kalangan anak muda China.

Dalam salah satu video viralnya, Pu terlihat tidur pukul 01.30 dini hari. “Tidur cepat malam ini. Selamat malam,” ucapnya sambil tertawa. Tirai kamarnya selalu tertutup rapat, karena menurutnya, Cahayanya terlalu terang.

“Tikus butuh suasana gelap untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Fenomena ini mulai ramai sejak awal 2024, usai seorang perempuan dari Provinsi Zhejiang membagikan rutinitas hariannya sebagai “manusia tikus” dan mendapatkan lebih dari 400 ribu likes.

Cerminan Tekanan Ekonomi dan Sosial

Meski dibungkus dengan humor dan gaya hidup digital, tren ini merefleksikan tekanan yang sangat nyata. Tingkat pengangguran pemuda di China mencapai 15,8 persen per April 2025 — naik dari 14,7 persen pada periode yang sama tahun lalu. Lebih dari 12 juta lulusan baru akan memasuki pasar kerja tahun ini, menciptakan ketegangan di dunia kerja yang sudah sangat kompetitif.

“Sebagian besar waktu kami dihabiskan di rumah. Di luar kelas atau jalan-jalan sesekali, hidup kami seperti tikus yang aktif di malam hari dan sembunyi di siang hari,” jelas Pu dalam wawancara dengan CNA.

Baca Juga :

Tragedi Alvaro Kiano Nugroho, Ayah Tiri Tewas Usai Jasad Bocah 6 Tahun Ditemukan
Viral Siswi Asal Medan, Nayla Zhafira Gagal SNBP Tapi Diterima 6 Kampus Top Dunia

Konten serupa membanjiri platform seperti Douyin (TikTok versi China) dan Xiaohongshu. Banyak anak muda membagikan kisah mereka tentang hidup dalam diam, tidur siang hari, dan aktif di malam hari, semata-mata untuk menghindari tekanan sosial dan ekspektasi yang dirasa tak realistis.

Perubahan Sikap dari ‘Lying Flat’ ke ‘Hidup Seperti Tikus‘

Manusia Tikus.

Fenomena “manusia tikus” dianggap sebagai bentuk lanjutan dari tren “Lying Flat” atau “rebahan”, yang dulu sempat viral pada 2021. “Lying Flat” merupakan pilihan hidup untuk tidak ambisius, tak mengejar jabatan, uang, atau kompetisi sosial.

“Kalau ‘lying flat’ adalah bentuk pasif dari perlawanan terhadap sistem, ‘rat people’ adalah bentuk aktif menarik diri dari masyarakat,” jelas Yuan Yuan, dosen di Xi’an Jiaotong-Liverpool University.

Banyak generasi muda kini memilih untuk hidup dalam kesendirian. Mereka menjauhi media sosial arus utama, berhenti mengejar pencapaian akademik, dan bahkan menolak untuk bekerja di sektor formal.

Menertawakan Diri Sendiri untuk Bertahan

Profesor Kuang Xianwen dari universitas yang sama menyebut fenomena ini sebagai bentuk penyesuaian psikologis dalam menghadapi kompetisi ekstrem.

“Anak-anak muda ini tahu bahwa meskipun mereka belajar keras dan bekerja keras, hasilnya belum tentu sepadan. Ketika harapan tak terpenuhi, maka mereka mundur dan hidup sebagai pengamat pasif.”

Pu sendiri mengakui bahwa humor menjadi bentuk pelampiasan.

“Mungkin karena tekanan terlalu besar, kami menikmati humor seperti ini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menyebut diri sebagai tikus atau manusia malam bukan berarti menyerah, melainkan menemukan ruang aman dari dunia yang terasa makin berat.

Apakah Ini Hanya Terjadi di China?

Meski fenomena ini dipopulerkan oleh anak muda China, gaya hidup semacam ini bisa ditemui di berbagai belahan dunia. Dalam masyarakat modern yang serba cepat dan penuh tekanan, semakin banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan makna “kesuksesan” dan mulai memilih jalur hidup alternatif bahkan jika itu berarti menjadi “manusia tikus”.

Komentar populer di salah satu unggahan Pu berbunyi, “Kami lelah dengan gaya hidup cepat, efisien, dan sempurna. Kami hanya ingin bebas untuk rebahan dan menyendiri kapan saja.”

Fenomena “rat people” menjadi semacam bentuk perlawanan diam-diam terhadap sistem yang dianggap tak berpihak pada generasi muda. Ia bukan sekadar tren internet, melainkan sebuah kritik sosial yang dikemas dalam humor, ironi, dan pencarian jati diri.

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:Anak MudaChinaGaya hidupManusia Tikus
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Turun Minum Grassroots Football Festival 2025! Sponsor Hebat di Turun Minum Grassroots Football Festival 2025! Kolaborasi Nyata Demi Talenta Muda Sepak Bola Indonesia
Next Article Bukan Takut Komitmen, Tapi Ini Alasan Anak Muda Jakarta Tunda Menikah
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

1 week ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index