INVERSI.ID – Fenomena sosial ‘Manusia Tikus’ tengah menarik perhatian dunia maya, khususnya di kalangan generasi muda China. Istilah “Rat People” atau “Manusia Tikus” menjadi viral dan ramai dibicarakan, menggambarkan gaya hidup menyendiri, nokturnal, dan menghindari tekanan sosial yang terus meningkat.
Tak hanya populer di China, tren gaya hidp ‘Manusia Tikus’ ini juga merambah komunitas mahasiswa diaspora di luar negeri seperti di Inggris, Singapura, hingga Australia.
Meski terdengar lucu, fenomena ‘Manusia Tikus’ ini menjadi simbol dari tekanan akademik dan dunia kerja yang kian berat, terutama bagi generasi muda di negara dengan populasi terbesar di dunia ini.
Tidur Larut, Tirai Gelap, dan Hidup Menyendiri
Dilansir dari CNA, Pu Yiqin (23), seorang mahasiswa pascasarjana asal China yang kini menempuh studi di King’s College London, secara terbuka menyebut dirinya seorang ‘Manusia Tikus’. Ia rutin membagikan kesehariannya melalui vlog di platform Xiaohongshu, aplikasi media sosial yang populer di kalangan anak muda China.
Dalam salah satu video viralnya, Pu terlihat tidur pukul 01.30 dini hari. “Tidur cepat malam ini. Selamat malam,” ucapnya sambil tertawa. Tirai kamarnya selalu tertutup rapat, karena menurutnya, Cahayanya terlalu terang.
“Tikus butuh suasana gelap untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Fenomena ini mulai ramai sejak awal 2024, usai seorang perempuan dari Provinsi Zhejiang membagikan rutinitas hariannya sebagai “manusia tikus” dan mendapatkan lebih dari 400 ribu likes.
Cerminan Tekanan Ekonomi dan Sosial
Meski dibungkus dengan humor dan gaya hidup digital, tren ini merefleksikan tekanan yang sangat nyata. Tingkat pengangguran pemuda di China mencapai 15,8 persen per April 2025 — naik dari 14,7 persen pada periode yang sama tahun lalu. Lebih dari 12 juta lulusan baru akan memasuki pasar kerja tahun ini, menciptakan ketegangan di dunia kerja yang sudah sangat kompetitif.
“Sebagian besar waktu kami dihabiskan di rumah. Di luar kelas atau jalan-jalan sesekali, hidup kami seperti tikus yang aktif di malam hari dan sembunyi di siang hari,” jelas Pu dalam wawancara dengan CNA.
Konten serupa membanjiri platform seperti Douyin (TikTok versi China) dan Xiaohongshu. Banyak anak muda membagikan kisah mereka tentang hidup dalam diam, tidur siang hari, dan aktif di malam hari, semata-mata untuk menghindari tekanan sosial dan ekspektasi yang dirasa tak realistis.
Perubahan Sikap dari ‘Lying Flat’ ke ‘Hidup Seperti Tikus‘
Fenomena “manusia tikus” dianggap sebagai bentuk lanjutan dari tren “Lying Flat” atau “rebahan”, yang dulu sempat viral pada 2021. “Lying Flat” merupakan pilihan hidup untuk tidak ambisius, tak mengejar jabatan, uang, atau kompetisi sosial.
“Kalau ‘lying flat’ adalah bentuk pasif dari perlawanan terhadap sistem, ‘rat people’ adalah bentuk aktif menarik diri dari masyarakat,” jelas Yuan Yuan, dosen di Xi’an Jiaotong-Liverpool University.
Banyak generasi muda kini memilih untuk hidup dalam kesendirian. Mereka menjauhi media sosial arus utama, berhenti mengejar pencapaian akademik, dan bahkan menolak untuk bekerja di sektor formal.
Menertawakan Diri Sendiri untuk Bertahan
Profesor Kuang Xianwen dari universitas yang sama menyebut fenomena ini sebagai bentuk penyesuaian psikologis dalam menghadapi kompetisi ekstrem.
“Anak-anak muda ini tahu bahwa meskipun mereka belajar keras dan bekerja keras, hasilnya belum tentu sepadan. Ketika harapan tak terpenuhi, maka mereka mundur dan hidup sebagai pengamat pasif.”
Pu sendiri mengakui bahwa humor menjadi bentuk pelampiasan.
“Mungkin karena tekanan terlalu besar, kami menikmati humor seperti ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa menyebut diri sebagai tikus atau manusia malam bukan berarti menyerah, melainkan menemukan ruang aman dari dunia yang terasa makin berat.
Apakah Ini Hanya Terjadi di China?
Meski fenomena ini dipopulerkan oleh anak muda China, gaya hidup semacam ini bisa ditemui di berbagai belahan dunia. Dalam masyarakat modern yang serba cepat dan penuh tekanan, semakin banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan makna “kesuksesan” dan mulai memilih jalur hidup alternatif bahkan jika itu berarti menjadi “manusia tikus”.
Komentar populer di salah satu unggahan Pu berbunyi, “Kami lelah dengan gaya hidup cepat, efisien, dan sempurna. Kami hanya ingin bebas untuk rebahan dan menyendiri kapan saja.”
Fenomena “rat people” menjadi semacam bentuk perlawanan diam-diam terhadap sistem yang dianggap tak berpihak pada generasi muda. Ia bukan sekadar tren internet, melainkan sebuah kritik sosial yang dikemas dalam humor, ironi, dan pencarian jati diri.