INVERSI.ID – Konsumsi TikTok dan rasa kesepian Gen Z menjadi sorotan dalam penelitian tim mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Riset ini menemukan bahwa penggunaan TikTok yang berlebihan ternyata dapat memicu rasa kesepian, perasaan minder, hingga berpengaruh pada kesehatan mental generasi muda.
Ketua Tim Riset UMY, Fifin Anggela Prista, menjelaskan bahwa ada hubungan erat antara konsumsi konten media sosial, terutama TikTok, dengan meningkatnya rasa kesepian yang dialami sebagian besar anak muda, khususnya dari kalangan Gen Z. “Kami menemukan keterkaitan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan rasa kesepian, insecure (minder), bahkan masalah kesehatan mental,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Yogyakarta, Minggu (10/8/2025).
Penelitian berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual” ini berhasil lolos seleksi Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2025. Menariknya, riset tersebut memperoleh dukungan pendanaan sebesar Rp6,2 juta dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
TikTok dan Hiperrealitas: Dunia Virtual Lebih Nyata dari Realita
Kata kunci penting dalam riset ini adalah hubungan antara TikTok dan rasa kesepian Gen Z. Menurut Fifin, media sosial seperti TikTok menciptakan sebuah realitas semu yang justru dianggap lebih nyata oleh penggunanya dibandingkan kehidupan sehari-hari.
“Di satu sisi, konten di media sosial adalah hasil rekayasa. Di sisi lain, orang tetap mengonsumsi dan bahkan membenarkan narasi tersebut,” jelasnya.
Konsep ini selaras dengan teori hiperrealitas yang dikemukakan oleh filsuf Jean Baudrillard. Dalam teori tersebut, representasi digital sering kali lebih dipercaya ketimbang realitas itu sendiri. Dengan kata lain, apa yang ditampilkan melalui video TikTok baik berupa narasi cinta, kesepian, atau motivasi bisa dianggap lebih “nyata” daripada pengalaman hidup yang sebenarnya. Akibatnya, emosi yang terbentuk dari media dapat berdampak besar terhadap kondisi psikologis dan sosial generasi muda.
Peneliti UMY menekankan bahwa fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Jika dibiarkan, konsumsi berlebihan terhadap konten-konten yang memicu perasaan kesepian dapat berkontribusi pada meningkatnya risiko depresi, isolasi sosial, bahkan gangguan kesehatan mental jangka panjang.
Konten Estetik Kesepian: Daya Tarik dan Bahayanya
Hasil pengamatan tim riset menunjukkan banyak akun TikTok memproduksi ulang narasi kesepian dengan tampilan estetik. Konten-konten ini biasanya berupa kutipan tentang hubungan yang gagal, kehilangan, rasa keterasingan, hingga monolog dengan nuansa visual yang indah.
Bagi sebagian pengguna, konten tersebut terasa relatable dan mampu mewakili perasaan mereka. Namun, di sisi lain, narasi yang terus-menerus mengulang tema kesepian justru memperkuat emosi negatif. Fenomena ini seperti lingkaran tak berujung: pengguna merasa kesepian, mencari pelarian di TikTok, lalu menemukan konten tentang kesepian yang akhirnya memperdalam rasa itu.
“Fenomena inilah yang sedang kami soroti. Anak muda perlu dibekali literasi digital agar tidak terjebak pada narasi yang sebenarnya hanya konstruksi media,” tambah Fifin.
Gen Z, TikTok, dan Tantangan Kesehatan Mental
Gen Z dikenal sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi. Mereka lahir di era digital dan tumbuh bersama media sosial. TikTok, dengan format video singkatnya, menjadi platform paling populer di kalangan generasi ini.
Namun, hubungan Gen Z dengan TikTok dan rasa kesepian menciptakan paradoks. Di satu sisi, TikTok menjadi tempat hiburan, ekspresi diri, dan koneksi dengan orang lain. Tetapi di sisi lain, paparan konten yang berlebihan bisa menimbulkan tekanan sosial, rasa tidak cukup baik, hingga memperkuat perasaan terisolasi.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai double-edged sword media sosial. Manfaatnya besar, tetapi risiko negatifnya pun nyata. Ketika anak muda terlalu membandingkan diri dengan representasi digital yang sering kali tidak realistis, mereka berisiko merasa minder, cemas, atau tidak puas dengan kehidupan nyata.
Literasi Digital Jadi Solusi
Menurut tim peneliti UMY, salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah memperkuat literasi digital di kalangan Gen Z. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup pemahaman kritis terhadap konten yang dikonsumsi.
“Anak muda harus bisa membedakan mana narasi yang benar-benar menggambarkan kenyataan, dan mana yang hanya hasil rekayasa. Dengan begitu, mereka tidak mudah terjebak dalam hiperrealitas media,” jelas Fifin.
Selain itu, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah untuk memberikan edukasi terkait kesehatan mental di era digital. Dengan literasi yang baik, generasi muda dapat memanfaatkan media sosial secara sehat, kreatif, dan produktif, tanpa terjebak pada dampak negatifnya.
Media Sosial dan Budaya Self-Healing
Fenomena lain yang juga terpantau dalam riset ini adalah munculnya budaya self-healing di TikTok. Banyak pengguna yang membagikan tips motivasi, afirmasi positif, hingga pengalaman pribadi dalam menghadapi kesepian. Konten ini secara tidak langsung membangun ruang solidaritas antar pengguna yang merasakan hal serupa.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa self-healing melalui konten media sosial bukanlah solusi utama. “Self-healing di TikTok bisa jadi support, tapi tidak bisa menggantikan interaksi sosial nyata. Tetap butuh komunikasi langsung dengan orang-orang di sekitar kita,” ujar Fifin.
Penelitian mahasiswa UMY ini membuka mata banyak pihak tentang dampak nyata konsumsi TikTok terhadap kesehatan mental Gen Z. Hubungan erat antara TikTok dan rasa kesepian Gen Z menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang yang bisa membentuk cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi.
Fenomena ini menjadi alarm penting bagi generasi muda untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Literasi digital, kesadaran diri, serta dukungan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar anak muda dapat tumbuh sehat secara mental di tengah derasnya arus konten digital.