INVERSI.ID – Literasi keuangan anak muda menjadi perhatian serius seiring dengan meningkatnya tren investasi di kalangan Gen Z dan milenial. Fenomena ini mendorong Steven Wang, CEO platform copy-trading Dub yang baru berusia 23 tahun, menghadirkan solusi investasi yang ramah pemula dengan memadukan teknologi, transparansi, dan disiplin pasar modal.
Menurut Wang, masih banyak anak muda yang ingin cepat kaya melalui pasar saham, tetapi minim pemahaman.
“Banyak orang tahu investasi penting, tapi tidak benar-benar tahu bagaimana melakukannya dengan benar,” ujarnya dalam wawancara di Jakarta.
Literasi keuangan anak muda kini dianggap krusial karena survei Harris Poll yang ditugaskan Dub menemukan 60% Gen Z dan 66% milenial telah berinvestasi di luar dana pensiun mereka. Namun, hanya 17% yang benar-benar yakin memahami mekanisme pasar. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara minat investasi dengan kemampuan literasi keuangan yang memadai.
Lebih jauh, literasi keuangan anak muda juga dipengaruhi oleh media sosial. Banyak anak muda lebih percaya pada video singkat, tren saham meme, dan kisah viral ketimbang riset investasi yang komprehensif. Akibatnya, tidak sedikit investor pemula yang mengalami kerugian akibat keputusan spekulatif.
Perjalanan Awal Steven Wang
Minat Wang pada dunia investasi sudah muncul sejak kecil. Saat duduk di bangku kelas dua SD, ia berhasil meyakinkan orang tuanya untuk membuka rekening saham kustodian. Semasa remaja, ia banyak membaca buku karya Warren Buffett dan Howard Marks, serta mencoba peruntungan di pasar saham.
Namun, perjalanan awal itu tidak selalu mulus. Wang mengaku harus melalui banyak kegagalan sebelum memahami prinsip-prinsip dasar investasi.
“Dorongan kekanak-kanakan untuk cepat kaya justru membuat saya kehilangan banyak uang. Tapi itu menjadi pelajaran berharga,” katanya.
Pengalaman pribadi semakin membentuk pandangannya ketika ia menyaksikan keluarga imigrannya terdampak krisis finansial global dan keterpurukan industri otomotif di Detroit. Peristiwa itu membuatnya semakin yakin bahwa stabilitas finansial hanya bisa dicapai melalui pengetahuan dan strategi keuangan yang matang.
Pandemi COVID-19 menjadi momen yang mengubah arah hidupnya. Saat masih menjadi mahasiswa Harvard, Wang aktif melakukan perdagangan harian dari kamar asrama. Ia menyaksikan fenomena saham meme yang membuat banyak investor pemula kehilangan modal.
Menurutnya, kesalahan itu terjadi karena akses ke alat investasi profesional masih terbatas.
“Saat itu saya sadar, tools canggih hanya tersedia bagi investor besar, sementara investor ritel dibiarkan mengandalkan spekulasi,” ujarnya.
Dari situ lahirlah ide mendirikan Dub, sebuah platform copy-trading yang memungkinkan pengguna menyalin transaksi para investor berpengalaman secara otomatis.
Apa Itu Dub?
Dub dirancang untuk menghadirkan pengalaman investasi seperti yang biasa dinikmati kalangan kaya atau investor institusional. Setiap kali investor pilihan melakukan transaksi, sistem secara otomatis mereplikasi langkah tersebut di akun pengguna.
Untuk menjaga kredibilitas, kreator portofolio diperiksa secara ketat, diregulasi, dan diberi kompensasi berbasis kinerja. Setiap portofolio memiliki rekam jejak transparan sehingga pengguna bisa menilai konsistensi hasil sebelum memutuskan mengikuti.
Wang menegaskan Dub bukan sekadar tren, melainkan jembatan menuju literasi keuangan.
“Kami memanfaatkan daya tarik media sosial, tapi menambahkan lapisan kepercayaan dan akuntabilitas. Jika influencer salah, mereka bisa hapus video. Di Dub, kinerja mereka tercatat permanen,” jelasnya.
Menggabungkan Tren Sosial dan Disiplin Profesional
Keunikan Dub terletak pada pendekatannya yang memadukan aspek sosial dengan disiplin profesional. Platform ini mengadopsi gaya media sosial, di mana pengguna bisa mengikuti investor favorit, namun tetap menerapkan standar regulasi pasar modal.
Berbeda dengan hype saham meme, Dub menekankan pembelajaran bertahap. Setiap keputusan investasi dijelaskan secara transparan, sehingga pengguna bisa memahami alasan di balik langkah tersebut.
“Dub bukan pengganti literasi mendalam, tapi mempermudah proses belajar,” ujar Wang.
Untuk membangun kepercayaan, Dub menghabiskan lebih dari dua tahun bekerja sama dengan SEC (Securities and Exchange Commission) dan FINRA (Financial Industry Regulatory Authority). Proses panjang ini memastikan Dub tidak hanya hadir sebagai aplikasi, tetapi juga sebagai perusahaan dengan kredibilitas hukum.
Wang menegaskan bahwa akun pengguna dilengkapi perlindungan standar agar risiko dapat diminimalisasi.
“Pasar saham adalah sumber kekayaan terbesar di dunia. Tapi tanpa literasi keuangan yang tepat, justru bisa jadi bumerang,” katanya.
Tantangan Literasi Keuangan Gen Z
Anak muda cenderung memandang investasi sebagai jalan tercepat menuju kebebasan finansial. Namun, survei menunjukkan mayoritas masih dipengaruhi narasi singkat dari media sosial ketimbang analisis mendalam.
Wang menilai kondisi ini berbahaya jika dibiarkan.
“Ada paradoks. Mereka (anak muda) ingin cepat kaya, tapi enggan mempelajari dasar-dasar investasi. Dub berusaha menutup celah itu,” tegasnya.
Dengan Dub, ia berharap anak muda bisa belajar sambil praktik, sehingga investasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas penuh risiko, melainkan keterampilan jangka panjang yang bisa diwariskan.
Kehadiran Dub menjadi langkah penting dalam mendorong literasi keuangan generasi muda. Dengan memadukan teknologi, transparansi, dan disiplin investasi profesional, platform ini berusaha memberi akses yang lebih setara bagi semua kalangan.
Steven Wang percaya bahwa pasar saham bukan hanya milik investor besar, melainkan juga bagi generasi muda yang berani belajar dan bertanggung jawab.
“Kami tidak ingin menciptakan tren sesaat, melainkan membangun budaya investasi yang sehat untuk masa depan,” tutupnya.