By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Reading: Tren Shrekking di Media Sosial, Fenomena Kencan Generasi Z yang Viral dan Kontroversial
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Tren Shrekking di Media Sosial, Fenomena Kencan Generasi Z yang Viral dan Kontroversial

LifeStyle

Tren Shrekking di Media Sosial, Fenomena Kencan Generasi Z yang Viral dan Kontroversial

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
6 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Tren shrekking di media sosial beberapa waktu belakangan ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan generasi Z. Istilah ini bukan sekadar jargon belaka, melainkan fenomena kencan yang memunculkan kontroversi. Shrekking merujuk pada praktik berpacaran dengan seseorang yang dianggap berada “di bawah standar” untuk mendapatkan kendali dalam hubungan. Tujuannya sederhana: pasangan diharapkan lebih menyukai kita, menghargai kehadiran kita, dan tidak menyakiti hati kita.

Contents
Asal-usul dan Motivasi ShrekkingDampak Negatif dan Risiko ShrekkingRefleksi Sosial dan Fenomena Generasi Z

Menurut Bruce Y. Lee dalam Psychology Today, tren shrekking di media sosial menunjukkan bagaimana generasi muda memandang dinamika kekuasaan dalam hubungan asmara. Dalam praktik ini, hubungan tidak dibangun atas dasar kesetaraan, tetapi melalui strategi psikologis tertentu. Pasangan yang dianggap kurang menarik diharapkan tetap bersyukur dan selalu berusaha membahagiakan pihak yang “di atas”.

Fenomena ini kian populer di kalangan generasi Z karena media sosial memperluas ruang diskusi dan observasi tentang perilaku kencan. Tren shrekking di media sosial memunculkan rasa ingin tahu sekaligus kontroversi, karena praktik ini tidak hanya berkaitan dengan cinta dan ketertarikan, tetapi juga menyentuh isu etika, kepercayaan diri, dan manipulasi emosional.

Asal-usul dan Motivasi Shrekking

Istilah “shrekking” terinspirasi dari karakter Shrek dalam film animasi DreamWorks, yang digambarkan sebagai raksasa hijau berpenampilan kurang menarik dan bersikap kurang menyenangkan pada awal cerita. Konsep ini diadopsi generasi Z sebagai analogi seseorang yang sengaja memilih pasangan yang “lebih rendah” secara penampilan atau status agar bisa memegang kendali hubungan.

“Kunci di balik perilaku ini adalah pasangan akan merasa sangat beruntung memiliki Anda, sehingga dia akan terus berusaha keras untuk membuat Anda bahagia,” tulis Bruce Y. Lee.

Konsultan kencan Rae Weiss menambahkan bahwa praktik ini bukan hal baru, tetapi kini diberi nama dan istilah khusus karena fenomena ini menjadi viral di media sosial. Hal ini juga menunjukkan frustrasi generasi muda terhadap norma kencan modern, seperti ghosting dan hubungan yang tidak jelas.

Alexis Germany Fox, konsultan kencan, menekankan bahwa tren shrekking bukan perlawanan terhadap konsep “trophy dating”—berkencan dengan orang yang sangat menarik secara fisik.

“Ini sebenarnya evolusi dari pepatah lama bahwa perempuan sebaiknya bersama laki-laki yang lebih mencintai mereka,” jelas Fox.

Dengan kata lain, shrekking lebih menekankan pada perlindungan diri dan keamanan emosional daripada sekadar penampilan.

Baca Juga :

Konsolidasi Strategi, BGN Pastikan Perlindungan Relawan Dapur SPPG
Wujudkan Indonesia Emas 2045, Otorita IKN dan 9 Universitas Kerja Sama di Bidang Pendidikan

Menurut profesor madya Jennie Rosier dari James Madison University, media sosial dan aplikasi kencan memperkuat hierarki penampilan, yang mendorong beberapa perempuan generasi Z mengembangkan strategi untuk mencari pasangan yang menawarkan stabilitas emosional. Fokus generasi Z pada kesehatan mental dan batasan hubungan membuat praktik seperti shrekking semakin menarik untuk dipelajari.


Dampak Negatif dan Risiko Shrekking

Meski populer, tren shrekking memiliki sejumlah risiko dan dampak negatif. Forbes mencatat bahwa praktik ini dapat mendistorsi cara orang berinteraksi dalam hubungan, terutama terkait ketertarikan dan komitmen. Saat salah satu pihak merasa “di atas”, hal ini dapat menciptakan pola pikir dominasi, di mana kendali dan validasi lebih penting daripada kesetiaan sejati. Dalam beberapa kasus, perasaan berkuasa ini bisa berujung pada perselingkuhan atau perilaku manipulatif.

Shrekking juga berpotensi mendorong dinamika kontrol dan dominasi dalam hubungan. Ketika seseorang menganggap pasangannya “di bawah” secara standar sosial atau fisik, mereka bisa menuntut sikap tertentu, mengharapkan rasa syukur, dan merendahkan pasangan. Bruce Y. Lee menegaskan bahwa shrekking berbeda dengan kompromi atau pengenalan diri secara alami.

“Ini tentang sengaja memilih seseorang yang dianggap lebih rendah agar memiliki dominasi,” ujarnya.

Fenomena ini juga memperlihatkan asumsi keliru bahwa dunia kencan memiliki hierarki yang jelas. Padahal, standar ketertarikan sangat subjektif dan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari penampilan, pekerjaan, popularitas, hingga nilai-nilai personal. Banyak orang menilai diri sendiri atau pasangan secara tidak akurat, sehingga posisi “di atas” atau “di bawah” dalam hierarki hanyalah ilusi yang rawan berubah.

Lee menambahkan, posisi seseorang dalam hierarki kencan bisa berubah seiring waktu karena penampilan, karier, koneksi sosial, dan pengalaman hidup. Hubungan yang dibangun hanya atas dasar ketimpangan kekuatan berisiko runtuh ketika kondisi berubah. Hal ini menegaskan bahwa praktik shrekking memiliki fondasi yang rapuh dibandingkan hubungan yang dibangun atas kesetaraan, saling menghormati, dan komunikasi terbuka.


Refleksi Sosial dan Fenomena Generasi Z

Tren shrekking di media sosial bukan sekadar fenomena viral belaka, tetapi mencerminkan kompleksitas kencan modern di era digital. Generasi Z hidup di lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh media sosial, di mana penampilan dan popularitas menjadi pusat perhatian. Strategi seperti shrekking muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial, ekspektasi penampilan, dan ketakutan akan penolakan.

Fenomena ini juga memicu diskusi lebih luas tentang etika, hubungan sehat, dan pendidikan emosional. Psikolog dan konsultan kencan menekankan pentingnya memahami konsekuensi dari shrekking, baik bagi pelaku maupun pasangan, serta menilai apakah hubungan yang dibangun memiliki dasar yang sehat atau sekadar dinamika kekuasaan sementara.

Dalam konteks ini, tren shrekking menjadi peringatan bahwa ketertarikan dan komitmen tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan penampilan atau status sosial. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan kepercayaan, kesetaraan, komunikasi terbuka, dan penghargaan terhadap pasangan. Sementara strategi dominasi atau manipulasi mungkin memberi rasa aman sementara, risikonya jangka panjang bisa merusak kepercayaan dan keseimbangan emosional.

You Might Also Like

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang
Senja di AWT 2026 Sajikan Wisata Alam, Budaya, hingga Fashion Show Anak Muda
Denpasar Fashion Street 2026 Angkat Kain Perca Jadi Fashion Elegan dan Bernilai Tinggi
BBTF 2026 Jadi Ajang Promosi Destinasi Wisata Indonesia ke Dunia
Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Saat Idul Adha, Pendaki Ilegal Diincar
TAGGED:Shrekkingtren
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Prestasi Mahasiswa Sekolah Vokasi Unpad di OLIVIA X: Borong Medali dan Juara Harapan
Next Article Ghosting vs Penolakan Langsung, Mana yang Lebih Menyakitkan?
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

INDEF Desak Aturan Ketat BBM Subsidi, Hak Wong Cilik Jangan Dicuri Mafia

Dulu Numpang, Kini Mandiri! BPBL Hadirkan Terang dan Harapan Baru untuk Warga Madiun

Warga Muba Bersyukur, Hasil Sumur Rakyat Kini Legal Pasok Pertamina

Adilkah Lembur Diganti Libur? Kisruh Indomaret Picu Pro-Kontra Nasional

Target 100 GW! PLTS Raksasa di Jawa Disiapkan, Ketergantungan Energi Fosil Mulai Diputus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Tiga Juta Penumpang Diperkirakan Padati Bandara Saat Libur Idul Adha 2026

1 week ago
Travel

Libur Idul Adha 2026, Ancol Dipadati Lebih dari 32 Ribu Wisatawan

1 week ago
Travel

Pemkot Bandung Percepat Penataan Bandung Zoo, Lelang Ulang Ditarget Rampung Akhir Mei

1 week ago
Travel

Kemenpar Siapkan 136 Mooring Buoy demi Jaga Status UNESCO Raja Ampat

2 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index