INVERSI.ID – Tren shrekking di media sosial beberapa waktu belakangan ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan generasi Z. Istilah ini bukan sekadar jargon belaka, melainkan fenomena kencan yang memunculkan kontroversi. Shrekking merujuk pada praktik berpacaran dengan seseorang yang dianggap berada “di bawah standar” untuk mendapatkan kendali dalam hubungan. Tujuannya sederhana: pasangan diharapkan lebih menyukai kita, menghargai kehadiran kita, dan tidak menyakiti hati kita.
Menurut Bruce Y. Lee dalam Psychology Today, tren shrekking di media sosial menunjukkan bagaimana generasi muda memandang dinamika kekuasaan dalam hubungan asmara. Dalam praktik ini, hubungan tidak dibangun atas dasar kesetaraan, tetapi melalui strategi psikologis tertentu. Pasangan yang dianggap kurang menarik diharapkan tetap bersyukur dan selalu berusaha membahagiakan pihak yang “di atas”.
Fenomena ini kian populer di kalangan generasi Z karena media sosial memperluas ruang diskusi dan observasi tentang perilaku kencan. Tren shrekking di media sosial memunculkan rasa ingin tahu sekaligus kontroversi, karena praktik ini tidak hanya berkaitan dengan cinta dan ketertarikan, tetapi juga menyentuh isu etika, kepercayaan diri, dan manipulasi emosional.
Asal-usul dan Motivasi Shrekking
Istilah “shrekking” terinspirasi dari karakter Shrek dalam film animasi DreamWorks, yang digambarkan sebagai raksasa hijau berpenampilan kurang menarik dan bersikap kurang menyenangkan pada awal cerita. Konsep ini diadopsi generasi Z sebagai analogi seseorang yang sengaja memilih pasangan yang “lebih rendah” secara penampilan atau status agar bisa memegang kendali hubungan.
“Kunci di balik perilaku ini adalah pasangan akan merasa sangat beruntung memiliki Anda, sehingga dia akan terus berusaha keras untuk membuat Anda bahagia,” tulis Bruce Y. Lee.
Konsultan kencan Rae Weiss menambahkan bahwa praktik ini bukan hal baru, tetapi kini diberi nama dan istilah khusus karena fenomena ini menjadi viral di media sosial. Hal ini juga menunjukkan frustrasi generasi muda terhadap norma kencan modern, seperti ghosting dan hubungan yang tidak jelas.
Alexis Germany Fox, konsultan kencan, menekankan bahwa tren shrekking bukan perlawanan terhadap konsep “trophy dating”—berkencan dengan orang yang sangat menarik secara fisik.
“Ini sebenarnya evolusi dari pepatah lama bahwa perempuan sebaiknya bersama laki-laki yang lebih mencintai mereka,” jelas Fox.
Dengan kata lain, shrekking lebih menekankan pada perlindungan diri dan keamanan emosional daripada sekadar penampilan.
Menurut profesor madya Jennie Rosier dari James Madison University, media sosial dan aplikasi kencan memperkuat hierarki penampilan, yang mendorong beberapa perempuan generasi Z mengembangkan strategi untuk mencari pasangan yang menawarkan stabilitas emosional. Fokus generasi Z pada kesehatan mental dan batasan hubungan membuat praktik seperti shrekking semakin menarik untuk dipelajari.
Dampak Negatif dan Risiko Shrekking
Meski populer, tren shrekking memiliki sejumlah risiko dan dampak negatif. Forbes mencatat bahwa praktik ini dapat mendistorsi cara orang berinteraksi dalam hubungan, terutama terkait ketertarikan dan komitmen. Saat salah satu pihak merasa “di atas”, hal ini dapat menciptakan pola pikir dominasi, di mana kendali dan validasi lebih penting daripada kesetiaan sejati. Dalam beberapa kasus, perasaan berkuasa ini bisa berujung pada perselingkuhan atau perilaku manipulatif.
Shrekking juga berpotensi mendorong dinamika kontrol dan dominasi dalam hubungan. Ketika seseorang menganggap pasangannya “di bawah” secara standar sosial atau fisik, mereka bisa menuntut sikap tertentu, mengharapkan rasa syukur, dan merendahkan pasangan. Bruce Y. Lee menegaskan bahwa shrekking berbeda dengan kompromi atau pengenalan diri secara alami.
“Ini tentang sengaja memilih seseorang yang dianggap lebih rendah agar memiliki dominasi,” ujarnya.
Fenomena ini juga memperlihatkan asumsi keliru bahwa dunia kencan memiliki hierarki yang jelas. Padahal, standar ketertarikan sangat subjektif dan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari penampilan, pekerjaan, popularitas, hingga nilai-nilai personal. Banyak orang menilai diri sendiri atau pasangan secara tidak akurat, sehingga posisi “di atas” atau “di bawah” dalam hierarki hanyalah ilusi yang rawan berubah.
Lee menambahkan, posisi seseorang dalam hierarki kencan bisa berubah seiring waktu karena penampilan, karier, koneksi sosial, dan pengalaman hidup. Hubungan yang dibangun hanya atas dasar ketimpangan kekuatan berisiko runtuh ketika kondisi berubah. Hal ini menegaskan bahwa praktik shrekking memiliki fondasi yang rapuh dibandingkan hubungan yang dibangun atas kesetaraan, saling menghormati, dan komunikasi terbuka.
Refleksi Sosial dan Fenomena Generasi Z
Tren shrekking di media sosial bukan sekadar fenomena viral belaka, tetapi mencerminkan kompleksitas kencan modern di era digital. Generasi Z hidup di lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh media sosial, di mana penampilan dan popularitas menjadi pusat perhatian. Strategi seperti shrekking muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial, ekspektasi penampilan, dan ketakutan akan penolakan.
Fenomena ini juga memicu diskusi lebih luas tentang etika, hubungan sehat, dan pendidikan emosional. Psikolog dan konsultan kencan menekankan pentingnya memahami konsekuensi dari shrekking, baik bagi pelaku maupun pasangan, serta menilai apakah hubungan yang dibangun memiliki dasar yang sehat atau sekadar dinamika kekuasaan sementara.
Dalam konteks ini, tren shrekking menjadi peringatan bahwa ketertarikan dan komitmen tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan penampilan atau status sosial. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan kepercayaan, kesetaraan, komunikasi terbuka, dan penghargaan terhadap pasangan. Sementara strategi dominasi atau manipulasi mungkin memberi rasa aman sementara, risikonya jangka panjang bisa merusak kepercayaan dan keseimbangan emosional.