INVERSI.ID – Fenomena ghosting di media sosial belakangan menjadi sorotan banyak kalangan, terutama generasi muda yang aktif dalam aplikasi kencan dan jejaring sosial. Ghosting—praktik menghilang tanpa kabar dalam hubungan asmara atau pertemanan—bukan sekadar istilah viral, tetapi nyata menimbulkan dampak emosional yang serius bagi korban. Mereka yang mengalaminya sering merasakan kebingungan, kesepian, dan hilangnya rasa percaya diri.
Sejumlah penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa ghosting menimbulkan emosi negatif. Namun, kebanyakan riset masih bersifat retrospektif, meminta partisipan mengingat pengalaman ghosting terakhir dan menilai perasaannya. Pendekatan ini memiliki kelemahan karena memori manusia bisa bias; pengalaman bisa tampak lebih buruk atau bahkan terlupakan seiring waktu. Fenomena ghosting di media sosial tidak hanya menyisakan luka emosional sementara, tetapi dapat menimbulkan efek psikologis yang lebih kompleks, terutama pada generasi muda yang terbiasa membangun interaksi digital.
Studi terbaru berjudul “The Phantom Pain of Ghosting: Multi-Day Experiments Comparing the Reactions to Ghosting and Rejection” menawarkan pendekatan berbeda. Penelitian ini dipimpin oleh Alessia Telari dari University of Milano-Bicocca, Italia, yang tidak mengandalkan memori, melainkan menciptakan situasi ghosting secara langsung di laboratorium sosial. Fenomena ghosting di media sosial kini bisa dianalisis secara real-time, sehingga peneliti dapat menangkap reaksi emosional korban tepat saat kejadian berlangsung.
Desain Penelitian dan Metode Langsung
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Computers in Human Behavior ini memulai eksperimen dengan melibatkan 46 relawan. Mereka diminta berinteraksi melalui chat selama 15 menit setiap hari dengan “peserta lain” yang sebenarnya adalah asisten peneliti. Eksperimen berlangsung beberapa hari, di mana pada hari keempat, partisipan menghadapi tiga kondisi:
- Ghosting, di mana asisten mendadak berhenti membalas pesan.
- Penolakan langsung, di mana asisten menyatakan tidak ingin melanjutkan percakapan, kemudian berhenti membalas.
- Kontrol, percakapan berjalan normal tanpa gangguan.
Eksperimen kedua berlangsung lebih lama, sembilan hari, dengan format yang sama. Setiap hari, partisipan mengisi kuesioner yang menilai kedekatan, kepuasan relasi, emosi, serta kebutuhan psikologis. Dengan desain ini, para peneliti dapat langsung mengukur dampak ghosting dan penolakan secara real-time, bukan hanya mengandalkan ingatan yang bisa bias.
Hasil penelitian menunjukkan dampak signifikan pada korban ghosting. Baik ghosting maupun penolakan menurunkan rasa kedekatan dan kepuasan relasi. Namun, perbedaan utama terlihat pada tingkat kebingungan: korban penolakan langsung merasa bingung hanya sebentar, sementara korban ghosting tetap bertanya-tanya dan terjebak dalam ketidakpastian.
Telari menjelaskan, partisipan yang mengalami ghosting merasa semakin terputus dari orang lain, kurang terlihat, dan bahkan lebih cenderung menunjukkan perilaku antisosial. Efek emosional ini bertahan lebih lama dibandingkan penolakan langsung, menegaskan bahwa ghosting menimbulkan luka psikologis yang lebih dalam.
Ghosting Tidak Hanya di Ranah Asmara
Fenomena ghosting di media sosial ternyata tidak terbatas pada hubungan romantis. Telari menekankan bahwa ghosting dapat terjadi di berbagai relasi, termasuk pertemanan maupun hubungan profesional. Data menunjukkan bahwa 28,5–47 persen orang pernah mengalami ghosting dalam konteks romantis, sementara di lingkaran pertemanan angkanya mencapai 38,6 persen. Dalam aplikasi kencan, angka korban ghosting melonjak drastis hingga 85 persen. Ini menunjukkan bahwa dunia digital mempercepat dan memperluas praktik menghilang tanpa kabar.
Dampak ghosting juga berdampak pada kesehatan mental. Korban sering mengalami perasaan tidak kompeten, rendah diri, dan kebingungan yang berkepanjangan. “Tidak adanya penutupan (closure) membuat korban ghosting terjebak dalam pertanyaan tanpa jawaban,” kata Telari. Ini berbeda dengan penolakan langsung, yang meski menyakitkan, memberikan kejelasan dan memudahkan proses pemulihan emosional.
Studi ini menegaskan bahwa ghosting bukan sekadar fenomena kencan modern, tetapi masalah psikologis yang perlu perhatian serius, terutama bagi generasi muda yang sangat aktif di media sosial. Strategi coping atau penanganan yang tepat bisa membantu korban memahami perasaan mereka, menerima situasi, dan mencegah dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan mental.
Fenomena ghosting di media sosial menunjukkan perlunya pendidikan digital dan emosional bagi generasi Z. Mereka harus dibekali kemampuan membaca tanda-tanda interaksi yang sehat, memahami batasan dalam hubungan digital, dan mengelola ekspektasi dalam komunikasi online. Ghosting, meski viral dan sering dibahas, menyimpan risiko emosional yang nyata.
Penelitian Alessia Telari dan tim memberikan bukti empiris bahwa ketidakpastian dan hilangnya komunikasi dalam ghosting menimbulkan efek psikologis yang lebih berat dibandingkan penolakan langsung. Hal ini juga memperkuat kesadaran bahwa budaya kencan digital, meski memudahkan interaksi, memiliki sisi gelap yang perlu diperhatikan: perasaan ditinggalkan, ketidakpastian, dan stres psikologis yang berkelanjutan.
Bagi pengguna media sosial, memahami fenomena ghosting di media sosial adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan emosional. Dengan pendekatan yang tepat, individu bisa lebih siap menghadapi interaksi digital, membangun relasi yang sehat, dan menurunkan risiko trauma psikologis akibat ghosting.