Inversi. Kemandirian ekonomi sebuah daerah dimulai dari keberanian masyarakatnya, terutama generasi muda, untuk melihat peluang di sektor riil, termasuk pangan lokal. Pemilik pabrik tahu tempe di Alor memberikan seruan inspiratif: tinggalkan gengsi, kuasai keahlian, dan jadilah kreator nilai ekonomi di tanah sendiri.
Kemandirian ekonomi lokal adalah prasyarat utama pembangunan daerah yang berkelanjutan. Hal ini menuntut pergeseran mentalitas dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, seruan untuk menggarap potensi lokal ini datang dari pelaku usaha sektor pangan yang telah membuktikan keberhasilannya.
Imanuel Maaf, pemilik pabrik Tahu Tempe Beldang, mengajak generasi muda Alor untuk berani menanggalkan mentalitas “gengsi” dan menekuni dunia usaha, bahkan di sektor pangan tradisional seperti tahu dan tempe. Ia menilai bahwa peluang bisnis ini sangat menjanjikan bagi anak-anak daerah yang siap belajar dan bekerja keras.
“Anak-anak daerah juga punya kemampuan untuk bergerak di bidang ini. Jangan gengsi, mau belajar.Karena peluang di depan mata sangat besar,” ujar Imanuel Maaf, Senin (10/11/2025).
Pesan tentang “memutus rantai gengsi” ini sangat relevan bagi Generasi Z dan Milenial. Sering kali, pekerjaan yang dianggap tradisional atau berkeringat dihindari, padahal sektor riil, khususnya pangan, memiliki permintaan pasar yang stabil dan berkelanjutan.
Kuasai Keahlian, Ciptakan Nilai Ekonomi
Imanuel Maaf membagikan filosofi kewirausahaannya yang berbasis pada kerendahan hati untuk belajar. Ia mengaku banyak menimba ilmu dari para perajin tahu dan tempe dari Jawa yang telah lebih dulu berpengalaman dalam inovasi dan proses produksi.
Pengalaman ini mengajarkan pelajaran penting: keahlian dapat ditransfer dan dikuasai, terlepas dari latar belakang geografis. Dengan kemauan keras dan ketekunan yang konsisten, anak muda Alor juga dapat mengembangkan usaha pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berdampak besar pada penyerapan tenaga kerja lokal.
Faktor pendorong lain adalah dinamika pembangunan daerah. Imanuel Maaf mengamati bahwa pesatnya pembangunan dan meningkatnya permintaan pangan di Alor secara kolektif membuka kesempatan besar bagi masyarakat lokal untuk berperan aktif, bukan sekadar menjadi penonton.
“Kita jangan jadi penonton, tapi harus berkarya untuk daerah ini,” ungkap Imanuel. Ini adalah seruan nasionalisme ekonomi lokal menjadikan potensi dan sumber daya daerah sebagai lahan untuk berkreasi, berinovasi, dan berkontribusi terhadap kemajuan bersama.
Sinergi Tiga Pilar: Pelaku Usaha, Pemuda, dan Pemerintah
Agar semangat kewirausahaan ini dapat berkelanjutan dan menyebar luas, Imanuel Maaf menekankan pentingnya peran pemerintah daerah. Ia berharap pemerintah dapat terus memberikan pendampingan dan pelatihan teknis agar lebih banyak anak muda termotivasi untuk memulai usaha mandiri.
Pendampingan pemerintah sangat vital karena ia dapat memfasilitasi akses terhadap modal, teknologi pengolahan pangan yang lebih efisien, dan standarisasi produk.
“Ia percaya, kemandirian ekonomi akan tumbuh jika masyarakat berani menciptakan peluang dari potensi yang ada di sekitar mereka.” Kemandirian ekonomi, dalam pandangan Imanuel, adalah hasil dari ekosistem yang terbangun atas tiga pilar:
- Inisiatif Pelaku Usaha: Berani memulai, belajar, dan berbagi pengalaman.
- Keberanian Pemuda: Menanggalkan gengsi dan tekun menguasai keahlian.
- Dukungan Pemerintah: Menyediakan pendampingan, pelatihan, dan akses pasar.
Kesuksesan pengusaha lokal di sektor pangan di Alor menjadi narasi inspiratif bagi seluruh pemuda Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan potensi lokal yang besar. Hal ini membuktikan bahwa bisnis terbaik sering kali berada di depan mata, tersembunyi di balik stigma, dan menunggu energi serta inovasi dari generasi muda untuk diubah menjadi sumber daya ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.