INVERSI.ID – Program Sekolah Sepanjang Hari atau SSH resmi diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Papua pada Jumat lalu. Peresmian ini dipusatkan di SD Inpres Nifasi, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, dan menjadi pembuka bagi era baru pendidikan yang mencoba menjawab tantangan besar di wilayah tersebut. Lewat program ini, pemerintah ingin membawa angin segar bagi dunia pendidikan, khususnya bagi para pelajar di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, menegaskan bahwa SSH bukan sekadar program tambal sulam atau proyek sementara. Ia menyampaikan bahwa konsep sekolah sepanjang hari dirancang untuk memastikan siswa tidak hanya belajar mata pelajaran akademik, tetapi juga dibina dalam hal karakter, kreativitas, dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) merupakan sistem pendidikan yang mengharuskan siswa berada di sekolah dari pagi hingga sore hari, dan tidak hanya belajar akademik tetapi juga untuk pembinaan karakter, kreativitas dan keterampilan,” kata Meki Fritz Nawipa.
Menurut Meki, program ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di wilayah 3T yang selama ini menghadapi akses terbatas, tantangan infrastruktur, serta kebutuhan akan guru yang memadai. Lewat SSH, siswa diharapkan bisa mendapatkan lingkungan belajar yang lebih terstruktur, lebih aman, dan lebih mendukung pengembangan diri.
“Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di daerah Tertinggal, Terdepan Terluar (3T),” lanjutnya.
Langkah Intervensi Demi Generasi Papua Tengah
Secara aturan, satuan pendidikan seperti SD, SMP, dan SMA berada di bawah kewenangan kabupaten, bukan provinsi. Namun menurut Meki, pemerintah provinsi perlu turun tangan secara langsung demi menjamin masa depan generasi muda Papua Tengah. Dalam pandangannya, kemajuan anak-anak Papua tidak boleh menunggu. Perubahan mesti didorong sejak sekarang agar mereka memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak di daerah lain.
Karenanya, Pemprov Papua Tengah memilih untuk mengintervensi jalannya program SSH sebagai dukungan nyata bagi pengembangan SDM di wilayah tersebut.
“Namun demi masa depan generasi penerus, maka pihaknya mengintervensi program tersebut agar kelak anak-anak Papua Tengah juga bisa menjadi pemimpin di daerah ini,” ujarnya.
Gubernur Meki berharap bahwa dengan adanya SSH, kualitas pendidikan dan prestasi siswa dapat meningkat signifikan. Program ini bukan hanya tentang memperpanjang jam sekolah, tetapi tentang bagaimana sekolah bisa menjadi ruang aman yang memantik kreativitas serta membuka peluang baru bagi anak-anak Papua.
“Dengan demikian diharapkan melalui Program SSH dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan prestasi siswa di wilayah Papua Tengah,” tambahnya.
Pemerintah provinsi juga memberi apresiasi kepada Universitas Papua (Unipa) Manokwari yang ikut berkontribusi dalam pelaksanaan program ini. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi elemen penting yang diharapkan mampu memperkuat ekosistem pendidikan di Papua Tengah. Lewat sinergi ini, penyempurnaan kurikulum, pelatihan guru, hingga pengembangan metode pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih matang.
Di era ketika kompetensi global semakin menuntut kreativitas, kemampuan problem solving, serta karakter kuat, kehadiran SSH bisa jadi jalan baru bagi anak Papua untuk mengejar ketertinggalan. Program ini bukan hanya soal menambah waktu belajar, tetapi memberikan pengalaman lebih luas yang bisa membentuk mental dan daya juang generasi muda.
Sepuluh Sekolah Jadi Motor Penggerak SSH
Saat ini, delapan kabupaten di Papua Tengah telah ditetapkan sebagai kawasan penerapan awal program Sekolah Sepanjang Hari. Ada 10 sekolah yang dipilih sebagai motor penggerak SSH, mencakup wilayah Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, dan Mimika. Setiap sekolah dipilih berdasarkan kesiapan, kebutuhan lokal, serta kapasitas guru yang ada.
Dia menambahkan di delapan kabupaten se-Papua Tengah saat ini sudah ada 10 sekolah yang akan menjadi motor penggerak SSH, seperti di Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai, Intan jaya, Puncak, Puncak Jaya, dan Mimika.
Adapun sistem pembelajaran dalam program ini dibagi menjadi dua bagian. Jam pelajaran berlangsung dari pagi hingga sekitar pukul 12.00 WIT, seperti pola umum sekolah dasar. Setelah itu, program SSH berlanjut melalui kegiatan ekstrakurikuler yang lebih variatif. Mulai dari pelatihan seni, olahraga, kegiatan literasi, hingga pembinaan karakter, semuanya disediakan agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang menyeluruh.
“Jam pelajaran di sekolah akan berlangsung dari pagi hingga pukul 12.00 WIT kemudian dilanjutkan dengan SSH sebab program itu hanya ekstrakurikuler,” kata Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa.
Model ini diharapkan dapat menekan angka putus sekolah yang selama ini masih menjadi masalah di beberapa wilayah Papua Tengah. Selain itu, langkah ini juga dapat mengatasi tantangan sosial seperti kurangnya aktivitas positif bagi anak-anak di luar jam sekolah yang sering kali membuat mereka rentan terlibat dalam pergaulan yang tidak sehat.
Dengan adanya SSH, sekolah menjadi tempat yang menyediakan kegiatan yang bermanfaat, membuat mereka tetap berada di lingkungan yang terpantau, sambil mengembangkan kemampuan baru yang mungkin tidak mereka dapatkan di rumah.
Keberhasilan program ini tentu sangat ditentukan oleh kolaborasi antara pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat lokal. Lingkungan sosial yang mendukung akan menjadi fondasi kuat agar SSH bisa berjalan konsisten dan menciptakan perubahan nyata bagi masa depan anak Papua.
Jika program ini sukses, bukan tidak mungkin SSH bisa diperluas ke lebih banyak sekolah di Papua atau bahkan menjadi percontohan untuk daerah 3T lainnya di Indonesia.