By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Bukan Sekadar Traveling, Ini Cara Gen Z Ubah Arah Pariwisata Global
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Bukan Sekadar Traveling, Ini Cara Gen Z Ubah Arah Pariwisata Global

Travel

Bukan Sekadar Traveling, Ini Cara Gen Z Ubah Arah Pariwisata Global

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Pariwisata dunia lagi ngalamin perubahan besar, dan generasi muda punya peran utama di dalamnya. Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa Gen Z dan milenial saat ini bukan sekadar penikmat liburan, tapi justru jadi penggerak utama pertumbuhan pariwisata global.

Contents
Dari Sosial Media ke AI: Cara Baru Merencanakan LiburanDigital Experience dan Autentisitas Jadi Kunci Promosi Wisata IndonesiaMasa Depan Pariwisata: Lebih Personal, Lebih Digital, Lebih Berarti

Pernyataan itu disampaikan Widiyanti dalam acara Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2026 yang digelar di Jakarta pada Kamis (30/10/2025). Dalam forum tersebut, ia menyoroti bagaimana gaya hidup, cara berpikir, dan perilaku digital generasi muda telah mengubah arah industri pariwisata secara signifikan.

“Gen Z dan milenials kini menjadi motor baru pertumbuhan pariwisata dunia dengan minat wisata paling tinggi, karena itu kita perlu menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan preferensi mereka,” ucap Widiyanti.

Menurutnya, generasi muda ini tidak hanya mencari tempat indah atau spot foto yang estetik. Mereka ingin sesuatu yang punya makna, pengalaman yang bisa diceritakan kembali, dan tentunya bisa dibagikan ke media sosial mereka.

Widiyanti menambahkan, ada dua hal utama yang membedakan cara berwisata generasi muda dengan generasi sebelumnya, cara mereka mencari informasi dan alasan mereka bepergian.


Dari Sosial Media ke AI: Cara Baru Merencanakan Liburan

Kalau dulu orang-orang mencari inspirasi liburan dari brosur, iklan televisi, atau rekomendasi teman, sekarang semuanya udah pindah ke dunia digital. Generasi Z dan milenial menjadikan media sosial sebagai sumber utama inspirasi perjalanan. Mereka sering kali nemuin ide liburan lewat konten dari kreator perjalanan, vlog YouTube, reels di Instagram, atau bahkan video pendek di TikTok.

“Dari sisi pencari informasi, gen Z & milenials cenderung mencari inspirasi dari media sosial, menonton konten dari kreator perjalanan, dan bahkan menggunakan generatif AI untuk merencanakan liburan,” kata Widiyanti.

Fenomena ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan bahwa 7 dari 10 anak muda lebih percaya review dan rekomendasi dari konten kreator ketimbang iklan konvensional. Bahkan, muncul tren baru di mana banyak traveler muda menggunakan AI untuk membuat itinerary otomatis yang disesuaikan dengan minat pribadi mereka — mulai dari destinasi tersembunyi, rekomendasi kuliner lokal, sampai tempat ngopi dengan ambience yang cocok buat foto.

Selain itu, alasan mereka berwisata juga udah bergeser jauh dibanding generasi sebelumnya.

Baca Juga :

Begini Nasib Para Artis yang Gagal Menuju Senayan Jadi Anggota DPR RI
Alasan Sandiaga Uno Dukung Bobby Nasution di Pilgub Sumut 2024, Elektabilitasnya Semakin Merekah

“Sementara itu, dari sisi motivasi berwisata, mereka jauh lebih mementingkan pengalaman, experience, dan storytelling dari experience tersebut,” ucapnya lagi.

Generasi muda nggak cuma pengin liburan buat melepas penat, tapi juga untuk eksplorasi diri, menambah wawasan, bahkan membangun personal branding. Buat mereka, tiap perjalanan adalah cerita — dan cerita itu harus punya makna, autentik, dan memorable.

Menariknya, data yang dipaparkan Widiyanti menunjukkan bahwa 52 persen Gen Z rela mengeluarkan uang lebih banyak demi pengalaman wisata yang berkesan, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya seperti baby boomers.

“Nah perubahan ini membuka peluang besar bagi promosi pariwisata Indonesia dengan pendekatan digital yang berarah ke basis pengalaman,” tambahnya.

Dengan kata lain, industri pariwisata perlu beradaptasi. Promosi dan strategi pemasaran konvensional udah nggak cukup. Sekarang yang dibutuhkan adalah pengalaman digital yang interaktif, autentik, dan terasa personal.


Digital Experience dan Autentisitas Jadi Kunci Promosi Wisata Indonesia

Menurut Widiyanti, pendekatan digital yang berbasis pengalaman bisa jadi strategi ampuh untuk menjangkau pasar global. Dunia sekarang bergerak cepat, dan Indonesia punya peluang besar untuk tampil sebagai destinasi yang relevan buat generasi muda dunia.

“Dengan pendekatan digital yang terarah dan berbasis pengalaman, Indonesia bisa menjangkau pasar global dengan cara yang lebih efisien dan lebih personal,” katanya.

Salah satu contoh keberhasilan strategi ini bisa dilihat dari event Pacu Jalur, yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2025. Acara ini berhasil jadi sorotan internasional karena viral di media sosial.

“Sangat viral, event ini berhasil meraih puluhan juta impresi di media sosial dan menarik 1,6 juta pengunjung,” ujar Widiyanti.

Fenomena tersebut membuktikan bahwa ketika budaya lokal dikemas secara kreatif dengan dukungan promosi digital, hasilnya bisa luar biasa. Pacu Jalur nggak cuma jadi ajang olahraga tradisional, tapi juga simbol kekuatan storytelling budaya Indonesia yang mampu menarik perhatian dunia.

Selain perubahan perilaku wisatawan, Menpar juga menyoroti tren baru di dunia destinasi. Tempat-tempat yang sebelumnya bukan bagian dari “top of mind” kini mulai naik daun. Bahkan destinasi yang tadinya cuma dianggap “detour” alias tempat persinggahan, kini justru jadi favorit karena menawarkan pengalaman autentik dan unik.

“Karena menyesuaikan dengan cara generasi muda mencari informasi dan menekankan pengalaman yang authentik. Dan ketiga, kami juga melihat perubahan besar dalam pola pembinaan destinasi wisata. Destinasi yang sebelumnya bukan top of mind atau sekedar detour kini menjadi semakin diminanti,” pungkasnya.

Perubahan ini menunjukkan kalau masa depan pariwisata nggak lagi hanya tentang lokasi, tapi tentang cerita. Generasi muda ingin tahu kisah di balik setiap tempat yang mereka kunjungi — siapa orangnya, apa budayanya, dan bagaimana pengalaman itu bisa bikin mereka merasa terhubung.


Masa Depan Pariwisata: Lebih Personal, Lebih Digital, Lebih Berarti

Tren yang dibahas Widiyanti ini sebenarnya mencerminkan perubahan besar di seluruh dunia. Generasi muda nggak mau sekadar jadi turis; mereka ingin jadi bagian dari perjalanan itu sendiri.

Buat Indonesia, ini bisa jadi momentum emas. Dengan ribuan destinasi unik, keanekaragaman budaya, dan kekuatan storytelling lokal, Indonesia punya semua bahan untuk memimpin tren pariwisata berbasis pengalaman di Asia Tenggara.

Kuncinya ada di inovasi dan adaptasi. Pemerintah, pelaku wisata, hingga komunitas lokal perlu berkolaborasi menciptakan konten kreatif, meningkatkan kualitas layanan digital, dan terus menghadirkan pengalaman autentik yang bisa menggugah rasa ingin tahu wisatawan muda.

Dengan pendekatan yang tepat, bukan nggak mungkin pariwisata Indonesia bakal jadi top of mind dunia. Generasi muda bukan cuma target, tapi partner penting dalam membentuk wajah baru pariwisata yang lebih inklusif, kreatif, dan berkelanjutan.

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara
TAGGED:gen zTravelingWisata
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Papua Tengah Luncurkan Program Sekolah Sepanjang Hari, Langkah Baru Bangun Generasi Tangguh
Next Article Fenomena Sleep Texting, Bukti Generasi Muda Sulit Benar-Benar ‘Offline’
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

2 weeks ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

4 weeks ago
Travel

Senja di AWT 2026 Sajikan Wisata Alam, Budaya, hingga Fashion Show Anak Muda

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index