INVERSI.ID – Pariwisata dunia lagi ngalamin perubahan besar, dan generasi muda punya peran utama di dalamnya. Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa Gen Z dan milenial saat ini bukan sekadar penikmat liburan, tapi justru jadi penggerak utama pertumbuhan pariwisata global.
Pernyataan itu disampaikan Widiyanti dalam acara Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2026 yang digelar di Jakarta pada Kamis (30/10/2025). Dalam forum tersebut, ia menyoroti bagaimana gaya hidup, cara berpikir, dan perilaku digital generasi muda telah mengubah arah industri pariwisata secara signifikan.
“Gen Z dan milenials kini menjadi motor baru pertumbuhan pariwisata dunia dengan minat wisata paling tinggi, karena itu kita perlu menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan preferensi mereka,” ucap Widiyanti.
Menurutnya, generasi muda ini tidak hanya mencari tempat indah atau spot foto yang estetik. Mereka ingin sesuatu yang punya makna, pengalaman yang bisa diceritakan kembali, dan tentunya bisa dibagikan ke media sosial mereka.
Widiyanti menambahkan, ada dua hal utama yang membedakan cara berwisata generasi muda dengan generasi sebelumnya, cara mereka mencari informasi dan alasan mereka bepergian.
Dari Sosial Media ke AI: Cara Baru Merencanakan Liburan
Kalau dulu orang-orang mencari inspirasi liburan dari brosur, iklan televisi, atau rekomendasi teman, sekarang semuanya udah pindah ke dunia digital. Generasi Z dan milenial menjadikan media sosial sebagai sumber utama inspirasi perjalanan. Mereka sering kali nemuin ide liburan lewat konten dari kreator perjalanan, vlog YouTube, reels di Instagram, atau bahkan video pendek di TikTok.
“Dari sisi pencari informasi, gen Z & milenials cenderung mencari inspirasi dari media sosial, menonton konten dari kreator perjalanan, dan bahkan menggunakan generatif AI untuk merencanakan liburan,” kata Widiyanti.
Fenomena ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan bahwa 7 dari 10 anak muda lebih percaya review dan rekomendasi dari konten kreator ketimbang iklan konvensional. Bahkan, muncul tren baru di mana banyak traveler muda menggunakan AI untuk membuat itinerary otomatis yang disesuaikan dengan minat pribadi mereka — mulai dari destinasi tersembunyi, rekomendasi kuliner lokal, sampai tempat ngopi dengan ambience yang cocok buat foto.
Selain itu, alasan mereka berwisata juga udah bergeser jauh dibanding generasi sebelumnya.
“Sementara itu, dari sisi motivasi berwisata, mereka jauh lebih mementingkan pengalaman, experience, dan storytelling dari experience tersebut,” ucapnya lagi.
Generasi muda nggak cuma pengin liburan buat melepas penat, tapi juga untuk eksplorasi diri, menambah wawasan, bahkan membangun personal branding. Buat mereka, tiap perjalanan adalah cerita — dan cerita itu harus punya makna, autentik, dan memorable.
Menariknya, data yang dipaparkan Widiyanti menunjukkan bahwa 52 persen Gen Z rela mengeluarkan uang lebih banyak demi pengalaman wisata yang berkesan, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya seperti baby boomers.
“Nah perubahan ini membuka peluang besar bagi promosi pariwisata Indonesia dengan pendekatan digital yang berarah ke basis pengalaman,” tambahnya.
Dengan kata lain, industri pariwisata perlu beradaptasi. Promosi dan strategi pemasaran konvensional udah nggak cukup. Sekarang yang dibutuhkan adalah pengalaman digital yang interaktif, autentik, dan terasa personal.
Digital Experience dan Autentisitas Jadi Kunci Promosi Wisata Indonesia
Menurut Widiyanti, pendekatan digital yang berbasis pengalaman bisa jadi strategi ampuh untuk menjangkau pasar global. Dunia sekarang bergerak cepat, dan Indonesia punya peluang besar untuk tampil sebagai destinasi yang relevan buat generasi muda dunia.
“Dengan pendekatan digital yang terarah dan berbasis pengalaman, Indonesia bisa menjangkau pasar global dengan cara yang lebih efisien dan lebih personal,” katanya.
Salah satu contoh keberhasilan strategi ini bisa dilihat dari event Pacu Jalur, yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2025. Acara ini berhasil jadi sorotan internasional karena viral di media sosial.
“Sangat viral, event ini berhasil meraih puluhan juta impresi di media sosial dan menarik 1,6 juta pengunjung,” ujar Widiyanti.
Fenomena tersebut membuktikan bahwa ketika budaya lokal dikemas secara kreatif dengan dukungan promosi digital, hasilnya bisa luar biasa. Pacu Jalur nggak cuma jadi ajang olahraga tradisional, tapi juga simbol kekuatan storytelling budaya Indonesia yang mampu menarik perhatian dunia.
Selain perubahan perilaku wisatawan, Menpar juga menyoroti tren baru di dunia destinasi. Tempat-tempat yang sebelumnya bukan bagian dari “top of mind” kini mulai naik daun. Bahkan destinasi yang tadinya cuma dianggap “detour” alias tempat persinggahan, kini justru jadi favorit karena menawarkan pengalaman autentik dan unik.
“Karena menyesuaikan dengan cara generasi muda mencari informasi dan menekankan pengalaman yang authentik. Dan ketiga, kami juga melihat perubahan besar dalam pola pembinaan destinasi wisata. Destinasi yang sebelumnya bukan top of mind atau sekedar detour kini menjadi semakin diminanti,” pungkasnya.
Perubahan ini menunjukkan kalau masa depan pariwisata nggak lagi hanya tentang lokasi, tapi tentang cerita. Generasi muda ingin tahu kisah di balik setiap tempat yang mereka kunjungi — siapa orangnya, apa budayanya, dan bagaimana pengalaman itu bisa bikin mereka merasa terhubung.
Masa Depan Pariwisata: Lebih Personal, Lebih Digital, Lebih Berarti
Tren yang dibahas Widiyanti ini sebenarnya mencerminkan perubahan besar di seluruh dunia. Generasi muda nggak mau sekadar jadi turis; mereka ingin jadi bagian dari perjalanan itu sendiri.
Buat Indonesia, ini bisa jadi momentum emas. Dengan ribuan destinasi unik, keanekaragaman budaya, dan kekuatan storytelling lokal, Indonesia punya semua bahan untuk memimpin tren pariwisata berbasis pengalaman di Asia Tenggara.
Kuncinya ada di inovasi dan adaptasi. Pemerintah, pelaku wisata, hingga komunitas lokal perlu berkolaborasi menciptakan konten kreatif, meningkatkan kualitas layanan digital, dan terus menghadirkan pengalaman autentik yang bisa menggugah rasa ingin tahu wisatawan muda.
Dengan pendekatan yang tepat, bukan nggak mungkin pariwisata Indonesia bakal jadi top of mind dunia. Generasi muda bukan cuma target, tapi partner penting dalam membentuk wajah baru pariwisata yang lebih inklusif, kreatif, dan berkelanjutan.