By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Reading: Baek Se-hee Berpulang dengan Donasi Organ: Warisan Abadi Penulis ‘I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki’
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Baek Se-hee Berpulang dengan Donasi Organ: Warisan Abadi Penulis ‘I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki’

Film

Baek Se-hee Berpulang dengan Donasi Organ: Warisan Abadi Penulis ‘I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki’

Iqbal Prakoso
By
Iqbal Prakoso
8 months ago
Share
5 Min Read
Baek Se-hee
SHARE

Dunia literasi Korea Selatan dan para pembaca global tengah berduka atas kepergian Baek Se-hee, penulis memoar fenomenal “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki.” Di usia 35 tahun, Baek meninggalkan dunia dengan cara yang begitu mulia—mendonasikan organ tubuhnya dan menyelamatkan lima nyawa. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi dunia sastra, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya empati, keberanian, dan kemanusiaan.

Siapa Baek Se-hee?

Baek Se-hee adalah penulis asal Korea Selatan yang dikenal luas berkat bukunya “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” (2018). Buku ini merupakan memoar yang mengangkat pengalaman pribadinya dalam menghadapi distimia—sejenis depresi kronis ringan yang berlangsung lama. Dengan gaya penulisan yang jujur, hangat, dan penuh refleksi, Baek berhasil membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental di masyarakat Korea yang selama ini cenderung tabu membicarakan isu tersebut.

Memoarnya menjadi bestseller di Korea Selatan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Buku ini menjadi semacam pelipur lara bagi banyak pembaca yang merasa tidak sendirian dalam pergulatan batin mereka.

“I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki”: Suara Sunyi yang Menggema

Judul buku Baek Se-hee yang unik dan kontras langsung menarik perhatian. Di satu sisi, ia mengungkapkan keinginan untuk mati, namun di sisi lain, ia masih ingin menikmati makanan favoritnya—tteokbokki. Kontras ini mencerminkan kompleksitas emosi manusia, terutama mereka yang hidup dengan gangguan mental.

Buku ini ditulis dalam format percakapan antara Baek dan psikiaternya, menjadikannya terasa sangat personal dan relatable. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak pembaca untuk menerima diri, merawat luka batin, dan terus bertahan.

Kepergian Baek Se-hee dan Donasi Organ yang Menyelamatkan Nyawa

Pada 16 Oktober 2025, Baek Se-hee dinyatakan meninggal dunia di usia 35 tahun. Hingga kini, penyebab kematiannya belum diumumkan secara resmi. Namun, yang membuat publik terharu adalah keputusan Baek untuk mendonasikan organ tubuhnya.

Baca Juga :

Tren Baru Gen Z: Batu Akik Kembali Eksis dalam Fashion Streetwear!
6 Drama Korea Tayang Oktober 2025: Dari Fantasi Gelap hingga Romansa Menggemaskan

Menurut Badan Donasi Organ Korea (KODA), Baek mendonasikan jantung, paru-paru, hati, dan ginjalnya, yang berhasil menyelamatkan lima nyawa. Donasi ini dilakukan melalui prosedur donasi dari pasien mati otak, dan menjadi salah satu bentuk pengabdian terakhir Baek kepada sesama.

Adik perempuan Baek menyampaikan dalam siaran pers:

“(Baek) ingin menulis, berbagi isi hatinya dengan orang lain melalui karyanya, dan menginspirasi harapan. Mengetahui sifatnya yang lembut, tidak mampu menyimpan kebencian, saya harap dia sekarang dapat beristirahat dengan tenang.”

Donasi Organ: Aksi Kemanusiaan yang Menginspirasi

Donasi organ masih menjadi isu yang sensitif di banyak negara, termasuk Korea Selatan dan Indonesia. Keputusan Baek Se-hee untuk mendonasikan organ tubuhnya menjadi contoh nyata bahwa cinta kasih bisa melampaui batas kehidupan.

Menurut data dari KODA, satu pendonor organ dapat menyelamatkan hingga delapan nyawa. Dengan menyumbangkan empat organnya, Baek telah memberikan harapan baru bagi lima pasien yang membutuhkan transplantasi.

Dampak Global: Dari Buku ke Gerakan Sosial

Karya Baek Se-hee telah melampaui batas negara dan bahasa. Di Indonesia, buku “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” menjadi bacaan wajib bagi generasi muda yang mulai terbuka terhadap isu kesehatan mental. Banyak komunitas literasi dan kesehatan mental menjadikan buku ini sebagai bahan diskusi dan refleksi.

Kepergian Baek juga memicu gelombang penghormatan di media sosial. Tagar #ThankYouBaekSeHee dan #RestInPeaceBaekSeHee menjadi trending di Korea dan beberapa negara Asia. Para pembaca membagikan kutipan favorit mereka dari bukunya, serta kisah pribadi tentang bagaimana karya Baek membantu mereka melewati masa-masa sulit.

Warisan Baek Se-hee: Membuka Percakapan tentang Kesehatan Mental

Salah satu warisan terbesar Baek adalah keberaniannya membuka percakapan tentang kesehatan mental di masyarakat yang masih menyimpan stigma. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga menjadi suara bagi mereka yang merasa tak terdengar.

Melalui bukunya, Baek mengajarkan bahwa tidak apa-apa merasa lelah, tidak apa-apa merasa ingin menyerah, selama kita tetap mencari alasan untuk bertahan—meski sesederhana keinginan makan tteokbokki.

Baek Se-hee, Cahaya yang Terus Menyala

Kepergian Baek Se-hee adalah kehilangan besar bagi dunia literasi dan kesehatan mental. Namun, warisan yang ia tinggalkan—baik melalui tulisannya maupun donasi organnya—akan terus hidup dan memberi cahaya bagi banyak orang.

Ia telah menunjukkan bahwa bahkan dalam keheningan, seseorang bisa tetap berbicara. Bahkan dalam kematian, seseorang bisa tetap memberi kehidupan. Terima kasih, Baek Se-hee, atas keberanianmu menulis, mencintai, dan memberi.

You Might Also Like

Badut Gendong Perluas Semesta Qodrat, Hadirkan Teror Baru yang Lebih Gelap
‘Nobody Loves Kay’ Bukan Sekadar Film E-sports, Ini Cerita Tentang Ambisi dan Mental Anak Muda
Desta Mahendra Tulis Lagu “Ndokasin” untuk Film Warkop DKI: Viralin Dong!
Desta sampai Sariawan Demi Peran Dono di Film Warkop DKI: Viralin Dong!
Baim Wong Buka Suara soal Film Semua Akan Baik-Baik Saja Disebut Menipu Penonton
TAGGED:Anak MudaBaek Se-heeDrama Koreagen zPenulisremajaRest In Peace
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article 5 Tips Jitu Menjaga Fisik dan Finansial Tetap Seimbang di Era Modern
Next Article Menkeu Purbaya Ancam Pecat Pegawai Bea Cukai yang Nongkrong di Starbucks: Teguran Keras untuk Reformasi Birokrasi
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

INDEF Desak Aturan Ketat BBM Subsidi, Hak Wong Cilik Jangan Dicuri Mafia

Dulu Numpang, Kini Mandiri! BPBL Hadirkan Terang dan Harapan Baru untuk Warga Madiun

Warga Muba Bersyukur, Hasil Sumur Rakyat Kini Legal Pasok Pertamina

Adilkah Lembur Diganti Libur? Kisruh Indomaret Picu Pro-Kontra Nasional

Target 100 GW! PLTS Raksasa di Jawa Disiapkan, Ketergantungan Energi Fosil Mulai Diputus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Film

Moving Season 2 Mulai Produksi, Kang Full Janji Lebih Spektakuler

2 weeks ago
Foto : Bulqis seorang karyawan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) (Sumber : https://bgn.go.id/)
MBG

Peran Gen Z dalam Ekosistem Program Makan Bergizi Gratis

3 weeks ago
Film

Soal Film Pesta Babi, Yusril Minta Publik Tonton dan Berdiskusi Secara Kritis

3 weeks ago
Film

Isu Pelarangan Film Pesta Babi Disorot DPR, Puan Minta Penjelasan Resmi

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index