INVERSI.ID – Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mengusulkan penguatan hubungan bilateral Indonesia dan Timor Leste melalui sejumlah kerja sama strategis yang berorientasi pada riset, penguatan ideologi, hingga pengembangan kelembagaan politik. Gagasan tersebut disampaikan saat melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao, di Palm Springs, Dili, Jumat.
Dalam pertemuan tersebut, Megawati menawarkan tiga bidang kolaborasi yang dinilai dapat menjadi fondasi hubungan jangka panjang antara kedua negara bertetangga.
Kolaborasi Riset untuk Hadapi Perubahan Iklim
Usulan pertama berfokus pada penguatan kerja sama di sektor maritim dan perubahan iklim dengan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Megawati, Indonesia dan Timor Leste sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan yang sama, mulai dari dampak perubahan iklim, fenomena El Nino, hingga ancaman kekeringan yang semakin sering terjadi.
Untuk mendukung kerja sama tersebut, Megawati menugaskan pakar kelautan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan untuk menyusun langkah-langkah antisipatif yang dapat dijalankan bersama kedua negara.
Perkuat Nasionalisme dan Budaya Membaca
Kerja sama kedua yang diusulkan Megawati adalah kajian nasionalisme komparatif melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Ia menilai pemikiran Bung Karno dan Xanana Gusmao memiliki kesamaan karena sama-sama lahir dari semangat perjuangan melawan kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
Megawati berharap kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman ideologi, tetapi juga mendorong tumbuhnya kembali budaya membaca buku fisik di kalangan generasi muda yang mulai tergerus perkembangan teknologi digital.
PDI Perjuangan Buka Peluang Berbagi Pengalaman
Usulan ketiga menyangkut kerja sama antarpartai politik. Megawati mengatakan PDI Perjuangan siap berbagi pengalaman mengenai tata kelola organisasi, kaderisasi, hingga penguatan kelembagaan partai kepada partai-partai politik di Timor Leste, khususnya Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste (CNRT).
Menurutnya, pengalaman PDI Perjuangan dalam membangun sistem organisasi, termasuk penerapan standar ISO dan keberadaan Sekolah Partai, dapat menjadi referensi bagi pengembangan kepemimpinan politik, terutama bagi generasi muda dan kader perempuan.
Selain membahas kerja sama, Megawati juga menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Seroja di Dili. Ia mengaku melihat perkembangan ibu kota Timor Leste yang kini jauh lebih maju dan ramai dibandingkan beberapa tahun lalu.
Suasana pertemuan berlangsung hangat ketika Megawati melontarkan candaan mengenai perjalanan hidupnya bersama Xanana Gusmao yang sama-sama pernah merasakan masa tahanan politik.
Karena kedekatan hubungan pribadi, keduanya sepakat saling menyapa tanpa menggunakan panggilan formal. Megawati memanggil Xanana dengan sebutan “Maun Xanana”, sementara dirinya meminta dipanggil “Mega”. Kepada generasi muda Timor Leste yang hadir, ia bahkan mempersilakan mereka memanggilnya “Mama”.
“Saya sering menggoda Pak Xanana. Kalau beliau menyebut penjara sebagai ‘universitas tertutup’, saya bilang, Bapak masih kalah dengan bapak saya (Bung Karno). Pak Xanana di LP Cipinang selama tujuh tahun, bapak saya total menjalani 22 tahun penjara dan dibuang tiga kali,” seloroh Megawati disambut tawa hadirin.
Di balik candaan tersebut, Megawati menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga integritas, keberanian, dan keteguhan hati sebagai seorang pemimpin.
“Tanpa keyakinan, manusia bisa menjadi pengkhianat di tengah jalan hanya demi mencari keuntungan materi. Kita harus berusaha menjadikan jalan hidup kita bermakna,” tegas Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut.
Megawati juga mengajak kaum perempuan agar lebih percaya diri dalam berpartisipasi di ruang-ruang strategis, termasuk dalam dunia politik dan demokrasi.
Menutup pidatonya, ia memberikan motivasi kepada Timor Leste agar terus percaya diri dalam menghadapi dinamika geopolitik kawasan. Bahkan, Megawati mengusulkan agar semangat Dasasila Bandung dapat diangkat menjadi salah satu mekanisme tetap ketika Timor Leste menjabat sebagai Ketua ASEAN pada 2029.
“Masa depan itu kita yang menentukan, bukan orang lain,” pungkas Megawati.
Timor Leste Apresiasi Kehadiran Megawati
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Timor Leste, Francisco Kalbuadi Lay, mengatakan jamuan yang disiapkan sengaja menggunakan menu rumahan untuk menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.
Ia juga mengapresiasi persiapan delegasi PDI Perjuangan yang dipimpin Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto serta memuji kemampuan komunikasi Megawati saat menyampaikan pidato.
“Banyak yang terkesan, Ibu Mega memegang catatan yang ringkas, tetapi poin-poin yang disampaikan sangat luas dan mendalam saat di podium. Kami berharap anak muda di Timor Leste dapat belajar banyak dari ketokohan dua pemimpin besar, Ma Xanana dan Ibu Mega,” katanya.
Sementara itu, Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas kunjungan Megawati ke Dili.
Menurut Xanana, kehadiran Megawati mengingatkannya pada momen bersejarah saat pemulihan kemerdekaan Timor Leste pada 20 Mei 2002.
“Di hadapan ribuan rakyat Timor dan para pemimpin dunia, seperti Kofi Annan dan Bill Clinton, kehadiran Anda (Megawati) kala itu mengubah momen kemerdekaan menjadi momen rekonsiliasi yang luar biasa,” kenang Xanana.
Ia menilai keputusan Megawati menghadiri perayaan kemerdekaan Timor Leste saat itu menjadi simbol penting lahirnya hubungan baru yang penuh persahabatan antara kedua negara.
“Anda menunjukkan kepada dunia bahwa mantan pihak yang berseberangan dapat memilih jalan perdamaian dan martabat. Hari ini, Timor Leste tidak memiliki sahabat yang lebih dekat daripada Indonesia,” ujar Xanana.
Xanana juga memberikan penghormatan kepada Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang dinilainya sebagai tokoh dunia yang berhasil membangun solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam perjuangan melawan kolonialisme serta memperjuangkan martabat kemanusiaan.