SEATTLE – Belgia menciptakan salah satu comeback paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia 2026. Sempat tertinggal dua gol hingga empat menit menjelang waktu normal berakhir, pasukan Rudi Garcia bangkit secara luar biasa untuk mengalahkan Senegal 3-2 lewat perpanjangan waktu pada babak 32 besar, Kamis (2/7/2026) di
Stadion Lumen Field Seattle, Washington, AS.
Senegal sebenarnya sudah berada di ambang tiket babak 16 besar. Tim asuhan Pape Thiaw tampil dominan dan unggul 2-0 melalui gol Habib Diarra serta Ismaila Sarr, sementara Belgia kesulitan mengembangkan permainan hampir sepanjang laga.
Namun, hanya dalam hitungan menit, semuanya berubah drastis. Kebangkitan Belgia dimulai pada menit ke-86 ketika Romelu Lukaku memperkecil ketertinggalan melalui sundulan memanfaatkan umpan Thomas Meunier. Gol itu menghidupkan kembali harapan Belgia sekaligus mengubah momentum pertandingan.
Tiga menit berselang, kapten Youri Tielemans menyundul bola hasil umpan silang Leandro Trossard untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Menariknya, beberapa saat sebelumnya Tielemans dan Trossard sempat terlihat berdebat sengit saat jeda pendinginan, tetapi keduanya justru menjadi aktor utama penyelamat Belgia.
Drama belum berakhir. Saat pertandingan memasuki detik-detik terakhir babak tambahan, wasit memberikan hadiah penalti kepada Belgia setelah meninjau tayangan VAR atas pelanggaran Lamine Camara terhadap Tielemans.
Sang kapten kemudian mengeksekusi penalti pada menit 124 menit 44 detik, yang tercatat sebagai gol paling telat dalam sejarah Piala Dunia, sekaligus memastikan kemenangan Belgia 3-2.
“Dalam sepak bola, segalanya selalu mungkin selama Anda percaya,” ujar pelatih Belgia, Rudi Garcia. Ia juga memuji kontribusi pemain cadangan. “Kekuatan skuad ini juga ada pada para pemain yang masuk dari bangku cadangan. Anda tidak bisa meraih hasil hanya dengan 11 pemain.”
Meski Belgia berpesta, keputusan penalti tersebut memicu kontroversi. Mantan bek Inggris Gary Neville menilai pelanggaran Camara seharusnya tidak berbuah penalti. “Saya benar-benar tidak percaya itu adalah penalti,” katanya di kutip dari ITV.
Pendapat serupa disampaikan mantan kapten Republik Irlandia Roy Keane. “Penalti itu terasa cukup keras. Wasit juga terlalu lama melihat monitor VAR. Anda ingin melihat keyakinan dalam keputusan wasit, tetapi dia terlihat sangat ragu,” ujarnya.
Bagi Senegal, hasil ini menjadi luka mendalam setelah sebelumnya juga kehilangan gelar Piala Afrika (AFCON) awal tahun ini. Pelatih Pape Thiaw tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
“Kami tersingkir dan itu sangat menyakitkan. Saya tetap harus memberi selamat kepada para pemain yang sudah memberikan segalanya. Sayangnya kami tidak mampu mempertahankan keunggulan dua gol. Kami harus menerimanya. Itulah sepak bola,” kata Thiaw.
Kemenangan dramatis ini membawa Belgia melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Amerika Serikat. Sementara itu, Senegal harus pulang dengan kepedihan setelah menyia-nyiakan keunggulan 2-0 dan melihat mimpi mereka sirna akibat comeback bersejarah yang seolah menunjukkan bahwa dewi fortuna lebih berpihak kepada Belgia