INVERSI.ID – Carlo Acutis resmi jadi santo pertama Gereja Katolik setelah dikanonisasi oleh Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus, Kota Vatikan, Minggu (7/9/2025). Remaja asal Italia ini dikenal dunia dengan julukan “Influencer Tuhan” karena menggunakan teknologi digital untuk menyebarkan iman Katolik.
Kisah hidup Carlo Acutis resmi jadi santo pertama Gereja Katolik menyedot perhatian umat Katolik di seluruh dunia. Meninggal pada tahun 2006 di usia 15 tahun akibat leukemia, Acutis meninggalkan jejak luar biasa melalui karya digitalnya. Ia membangun situs web multibahasa yang mendokumentasikan mukjizat Ekaristi, sebuah dedikasi yang membuatnya disebut sebagai pelopor evangelisasi era internet.
Banyak umat menilai bahwa Carlo Acutis resmi jadi santo pertama Gereja Katolik merupakan bukti bahwa kesucian bisa diwujudkan dengan cara yang relevan dengan zaman. Ia memadukan doa, olahraga, studi, dan aktivitas digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari seorang remaja yang saleh namun tetap dekat dengan dunia anak muda.
Dari Gamer ke “Influencer Tuhan”
Carlo Acutis bukanlah sosok religius dalam pengertian konvensional sejak lahir. Ia adalah seorang gamer, pecinta teknologi, dan anak remaja yang menyukai aktivitas sehari-hari seperti remaja lainnya. Bedanya, Acutis memilih memanfaatkan teknologi untuk tujuan rohani.
Sejak usia dini, ia sudah menunjukkan kecerdasan di bidang komputer. Dengan kemampuan itu, ia merancang situs web berisi dokumentasi mukjizat Ekaristi yang hingga kini masih dapat diakses. Situs tersebut berhasil menjangkau umat Katolik lintas negara, membuka wawasan tentang tradisi gereja, dan memperkuat iman banyak orang.
“Ia tumbuh besar dengan memadukan doa, olahraga, studi, dan amal kasih ke dalam kehidupannya sebagai anak-anak dan remaja,” ujar Paus Fransiskus saat memimpin misa kanonisasi, dikutip dari rt.com.
Dedikasi Acutis di bidang digital membuatnya dijuluki “Influencer Tuhan”. Julukan ini bukan tanpa alasan, karena karyanya menginspirasi generasi muda Katolik bahwa internet bisa digunakan bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai media evangelisasi.
Proses Kanonisasi Carlo Acutis
Kanonisasi merupakan proses pengangkatan seseorang sebagai santo dalam tradisi Gereja Katolik. Untuk sampai ke tahap ini, seseorang harus melalui tahapan panjang, mulai dari beatifikasi hingga verifikasi mukjizat yang diakui Vatikan.
Carlo Acutis dibeatifikasi pada Oktober 2020 setelah mukjizat penyembuhan seorang anak di Brasil dikaitkan dengan perantaraannya. Proses ini kemudian berlanjut hingga akhirnya, pada September 2025, ia dinyatakan resmi sebagai santo pertama Gereja Katolik dari kalangan remaja era modern.
Dalam upacara kanonisasi, Acutis tidak sendirian. Ia dikanonisasi bersama Pier Giorgio Frassatti, pemuda Katolik yang wafat pada 1925 dan dikenal karena dedikasinya kepada kaum miskin. Kehadiran dua sosok muda ini dinilai sebagai pesan kuat bahwa gereja ingin menekankan peran generasi muda dalam kehidupan iman.
Kritik dan Kontroversi
Meski banyak dipuji, kanonisasi Acutis juga memunculkan perdebatan di kalangan akademisi Katolik. Beberapa menganggap fokus Acutis pada mukjizat Ekaristi terlalu sempit.
“Mencari mukjizat bukanlah kebajikan,” ujar Andrea Grillo, profesor di Pontifical Athenaeum of Sant’Anselmo.
Kritik ini menyoroti bahwa iman Katolik tidak boleh sekadar bergantung pada fenomena luar biasa, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Namun, di sisi lain, pendukung Acutis menilai bahwa dokumentasi mukjizat yang ia lakukan justru memperkaya pemahaman umat. Dengan pendekatan digital, Acutis berhasil memperkenalkan kembali tradisi Katolik kepada generasi yang mungkin lebih akrab dengan media sosial dibandingkan dengan bacaan rohani klasik.
Santo Era Digital dan Upaya Vatikan Menjangkau Generasi Muda
Kanonisasi Carlo Acutis dianggap selaras dengan strategi baru Vatikan dalam menjangkau generasi muda. Gereja Katolik menyadari bahwa era digital membawa tantangan sekaligus peluang bagi pewartaan iman.
Pada Juli 2025, Vatikan bahkan menggelar pertemuan yang menghadirkan lebih dari 1.000 influencer Katolik dari berbagai negara. Pertemuan itu bertujuan memperkuat penginjilan secara daring dan mendorong kreator digital Katolik untuk menghadirkan konten positif di media sosial.
Acutis menjadi simbol ideal dari visi ini. Ia menunjukkan bahwa kesucian bisa diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi, tanpa harus meninggalkan identitas sebagai remaja modern. Ia gamer, kreator konten digital, sekaligus pribadi yang rendah hati dan peduli pada orang lain.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Carlo Acutis kini menjadi teladan bagi anak muda di seluruh dunia. Pesan yang ia sampaikan sederhana namun kuat: iman bukanlah hal kuno yang harus ditinggalkan, melainkan sesuatu yang bisa hidup berdampingan dengan teknologi.
Kehidupan Acutis membuktikan bahwa internet tidak selalu harus dipenuhi konten negatif. Dengan kreativitas dan niat yang tulus, teknologi bisa menjadi sarana menyebarkan kebaikan dan nilai spiritual.
Bagi banyak remaja, kisahnya menjadi pengingat bahwa mereka tidak harus menunggu tua untuk menjalani kehidupan bermakna. Bahkan di usia belasan tahun, seseorang bisa memberi dampak besar bagi dunia.
Tantangan Gereja di Era Media Sosial
Meski keberhasilan Acutis menginspirasi, tantangan besar tetap menanti Gereja Katolik di era media sosial. Dunia digital dikenal dengan arus informasi cepat, hoaks, hingga konten yang sering kali bertentangan dengan nilai iman.
Oleh karena itu, keberhasilan Carlo Acutis menjadi santo diharapkan dapat menjadi titik balik. Gereja bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat literasi digital rohani dan menghadirkan lebih banyak teladan serupa bagi generasi muda.
Carlo Acutis resmi jadi santo pertama Gereja Katolik di era digital, menjadikannya ikon baru bagi umat Katolik, terutama generasi muda. Dengan julukan “Influencer Tuhan”, ia membuktikan bahwa teknologi dan iman bisa berjalan beriringan.
Meski sempat menuai kritik, kanonisasi Acutis menandai babak baru dalam sejarah gereja: kesucian tidak hanya lahir dari biara atau pelayanan tradisional, tetapi juga bisa muncul dari dunia maya. Kisah hidupnya akan terus dikenang sebagai inspirasi bahwa iman, kreativitas, dan teknologi dapat bersatu untuk membawa kebaikan.