INVERSI.ID – Konsumsi gula berlebih pada anak dan remaja kini menjadi sorotan serius para ahli gizi di Indonesia. Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof. Hardinsyah, mengingatkan bahwa pola makan anak dan remaja di perkotaan semakin bergantung pada makanan serta minuman manis yang mudah dijumpai di pasaran. Fenomena ini, jika tidak dikendalikan, berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan seperti obesitas hingga diabetes sejak usia muda.
Menurut Prof. Hardinsyah, konsumsi gula berlebih pada anak dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan.
“Di kota, makanan manis semakin mudah dijumpai, baik tradisional maupun modern. Ditambah banyak orang tua bekerja sehingga anak lebih bergantung pada pangan di luar rumah,” ujarnya, dikutip dari situs resmi IPB University, Senin (8/9/2025).
Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membatasi asupan harian. Konsumsi gula berlebih pada anak sering kali terjadi bukan hanya dari minuman manis atau jajanan, melainkan juga dari makanan sehari-hari seperti kecap, saus, sambal, hingga kue olahan. Tanpa disadari, asupan ini melampaui batas normal yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan.
Batas Aman Konsumsi Gula dan Dampaknya pada Kesehatan
Prof. Hardinsyah menjelaskan, Kementerian Kesehatan RI menganjurkan batas konsumsi gula harian untuk orang dewasa tidak lebih dari 50 gram atau setara 4–5 sendok makan. Sementara itu, untuk anak sekolah batasannya lebih rendah, yaitu sekitar 3–4 sendok makan per hari.
Sayangnya, banyak anak-anak yang sudah melewati ambang batas ini. Minuman kemasan, permen, jajanan sekolah, hingga makanan cepat saji menjadi sumber gula tambahan yang sulit dihindari. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak serius pada kesehatan.
Konsumsi gula berlebihan bisa meningkatkan kadar gula darah, memicu resistensi insulin, hingga menimbulkan prediabetes dan diabetes tipe 2. Selain itu, gula berlebih yang tidak terpakai oleh tubuh akan disimpan sebagai lemak. Akumulasi lemak ini berisiko menimbulkan obesitas, terutama obesitas sentral yang berbahaya bagi organ vital.
“Gemuk karena lemak, bukan otot, sangat berbahaya karena menumpuk di organ vital seperti jantung, paru, hingga ginjal,” tegas Prof. Hardinsyah.
Kondisi ini juga memperbesar risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari.
Peran Sekolah dan Keluarga dalam Mengendalikan Konsumsi Gula
Fenomena meningkatnya konsumsi gula berlebih pada anak tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sekolah. Banyak sekolah masih menyediakan jajanan tinggi gula yang praktis, murah, dan disukai anak-anak. Dari minuman berperisa hingga camilan manis, semua menjadi bagian dari pola makan harian siswa.
Untuk itu, peran keluarga dan sekolah menjadi sangat penting dalam mengendalikan pola konsumsi anak. Prof. Hardinsyah menilai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi langkah strategis untuk mengurangi kebiasaan jajan sembarangan. Dengan menyediakan makanan sehat yang bergizi seimbang di sekolah, anak-anak dapat terbiasa dengan pola makan lebih sehat.
“Kalau anak terbiasa membawa bekal sehat bersama-sama, mereka akan lebih termotivasi,” jelasnya.
Selain itu, orang tua perlu membangun kebiasaan positif di rumah, seperti menyediakan buah sebagai pengganti camilan manis, membatasi minuman bersoda, dan melibatkan anak dalam memilih makanan sehat. Edukasi sejak dini akan membentuk kesadaran pentingnya gizi seimbang bagi pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang.
Pentingnya Literasi Gizi dan Membaca Label Kemasan
Salah satu tantangan besar dalam mengendalikan konsumsi gula berlebih pada anak adalah minimnya literasi gizi di masyarakat. Banyak orang tua maupun remaja tidak terbiasa membaca informasi gizi pada label kemasan makanan.
Prof. Hardinsyah menekankan pentingnya memahami informasi kandungan gizi yang tercantum pada produk makanan dan minuman.
“Banyak orang belum memahami bahwa keterangan gizi di label sering ditulis per sajian, bukan per kemasan. Jadi harus teliti agar tidak salah menghitung,” katanya.
Kesalahan persepsi ini membuat banyak konsumen mengira mereka mengonsumsi gula dalam jumlah kecil, padahal total asupannya bisa jauh melebihi batas aman. Misalnya, satu botol minuman kemasan yang terlihat kecil ternyata terdiri dari dua hingga tiga porsi, dengan kandungan gula yang berlipat ganda dari yang tercantum pada label.
Dengan meningkatkan literasi gizi, masyarakat bisa lebih cermat dalam memilih produk makanan, terutama untuk anak-anak. Prinsip sederhana yang dapat diingat adalah GGL (Gula, Garam, Lemak) yang harus dibatasi sesuai anjuran kesehatan.
Dampak Jangka Panjang
Jika tren konsumsi gula berlebih pada anak tidak dikendalikan, Indonesia berisiko menghadapi krisis kesehatan masyarakat di masa depan. Peningkatan kasus obesitas anak akan berdampak pada meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung koroner di usia produktif.
Selain itu, beban ekonomi juga akan meningkat karena biaya pengobatan PTM relatif tinggi dan bersifat jangka panjang. Kondisi ini bisa mengurangi produktivitas generasi muda serta memperbesar beban sistem kesehatan nasional.
Pemerintah, sekolah, orang tua, hingga industri makanan perlu berkolaborasi untuk mencari solusi. Industri makanan, misalnya, bisa mulai mengurangi kandungan gula dalam produk mereka atau memberikan label peringatan yang lebih jelas. Sementara itu, sekolah dapat memperketat aturan mengenai jajanan sehat di lingkungan pendidikan.
Solusi Praktis untuk Mengurangi Konsumsi Gula
Para ahli menyarankan beberapa langkah praktis untuk mengurangi konsumsi gula sehari-hari, antara lain:
- Membatasi minuman manis – ganti minuman bersoda atau teh kemasan dengan air putih, infused water, atau jus buah tanpa gula tambahan.
- Membiasakan konsumsi buah segar – jadikan buah sebagai camilan sehat pengganti permen atau kue.
- Membaca label kemasan dengan teliti – perhatikan jumlah gula per sajian dan hitung total per kemasan.
- Membawa bekal sehat dari rumah – kurangi ketergantungan pada jajanan sekolah atau makanan cepat saji.
- Mengedukasi anak sejak dini – libatkan mereka dalam memilih dan menyiapkan makanan sehat agar terbiasa dengan pola makan bergizi.
Konsumsi gula berlebih pada anak merupakan masalah serius yang perlu segera diatasi. Selain memicu obesitas dan diabetes, pola makan tinggi gula juga berdampak pada kesehatan jangka panjang generasi muda. Prof. Hardinsyah dari IPB University menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, pemerintah, hingga industri makanan dalam membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.
Meningkatkan literasi gizi, membaca label kemasan, dan membatasi konsumsi makanan serta minuman manis menjadi langkah awal yang efektif. Dengan kolaborasi semua pihak, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh lebih sehat, produktif, dan bebas dari ancaman penyakit akibat pola makan yang tidak seimbang.