By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Ahli: Anak dan Remaja Rentan Obesitas Hingga Diabetes di Usia Muda
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Ahli: Anak dan Remaja Rentan Obesitas Hingga Diabetes di Usia Muda

Kesehatan

Ahli: Anak dan Remaja Rentan Obesitas Hingga Diabetes di Usia Muda

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Konsumsi gula berlebih pada anak dan remaja kini menjadi sorotan serius para ahli gizi di Indonesia. Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof. Hardinsyah, mengingatkan bahwa pola makan anak dan remaja di perkotaan semakin bergantung pada makanan serta minuman manis yang mudah dijumpai di pasaran. Fenomena ini, jika tidak dikendalikan, berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan seperti obesitas hingga diabetes sejak usia muda.

Contents
Batas Aman Konsumsi Gula dan Dampaknya pada KesehatanPeran Sekolah dan Keluarga dalam Mengendalikan Konsumsi GulaPentingnya Literasi Gizi dan Membaca Label KemasanDampak Jangka PanjangSolusi Praktis untuk Mengurangi Konsumsi Gula

Menurut Prof. Hardinsyah, konsumsi gula berlebih pada anak dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan.

“Di kota, makanan manis semakin mudah dijumpai, baik tradisional maupun modern. Ditambah banyak orang tua bekerja sehingga anak lebih bergantung pada pangan di luar rumah,” ujarnya, dikutip dari situs resmi IPB University, Senin (8/9/2025).

Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membatasi asupan harian. Konsumsi gula berlebih pada anak sering kali terjadi bukan hanya dari minuman manis atau jajanan, melainkan juga dari makanan sehari-hari seperti kecap, saus, sambal, hingga kue olahan. Tanpa disadari, asupan ini melampaui batas normal yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan.

Batas Aman Konsumsi Gula dan Dampaknya pada Kesehatan

Prof. Hardinsyah menjelaskan, Kementerian Kesehatan RI menganjurkan batas konsumsi gula harian untuk orang dewasa tidak lebih dari 50 gram atau setara 4–5 sendok makan. Sementara itu, untuk anak sekolah batasannya lebih rendah, yaitu sekitar 3–4 sendok makan per hari.

Sayangnya, banyak anak-anak yang sudah melewati ambang batas ini. Minuman kemasan, permen, jajanan sekolah, hingga makanan cepat saji menjadi sumber gula tambahan yang sulit dihindari. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak serius pada kesehatan.

Konsumsi gula berlebihan bisa meningkatkan kadar gula darah, memicu resistensi insulin, hingga menimbulkan prediabetes dan diabetes tipe 2. Selain itu, gula berlebih yang tidak terpakai oleh tubuh akan disimpan sebagai lemak. Akumulasi lemak ini berisiko menimbulkan obesitas, terutama obesitas sentral yang berbahaya bagi organ vital.

“Gemuk karena lemak, bukan otot, sangat berbahaya karena menumpuk di organ vital seperti jantung, paru, hingga ginjal,” tegas Prof. Hardinsyah.

Kondisi ini juga memperbesar risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

Baca Juga :

Pusat Kendali MBG Diluncurkan Mei 2026, Tingkatkan Pengawasan dan Efektivitas Program
7 Manfaat Bunga Rosella untuk Wanita dan Cara Mengonsumsi

Peran Sekolah dan Keluarga dalam Mengendalikan Konsumsi Gula

Fenomena meningkatnya konsumsi gula berlebih pada anak tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sekolah. Banyak sekolah masih menyediakan jajanan tinggi gula yang praktis, murah, dan disukai anak-anak. Dari minuman berperisa hingga camilan manis, semua menjadi bagian dari pola makan harian siswa.

Untuk itu, peran keluarga dan sekolah menjadi sangat penting dalam mengendalikan pola konsumsi anak. Prof. Hardinsyah menilai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi langkah strategis untuk mengurangi kebiasaan jajan sembarangan. Dengan menyediakan makanan sehat yang bergizi seimbang di sekolah, anak-anak dapat terbiasa dengan pola makan lebih sehat.

“Kalau anak terbiasa membawa bekal sehat bersama-sama, mereka akan lebih termotivasi,” jelasnya.

Selain itu, orang tua perlu membangun kebiasaan positif di rumah, seperti menyediakan buah sebagai pengganti camilan manis, membatasi minuman bersoda, dan melibatkan anak dalam memilih makanan sehat. Edukasi sejak dini akan membentuk kesadaran pentingnya gizi seimbang bagi pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang.

Pentingnya Literasi Gizi dan Membaca Label Kemasan

Salah satu tantangan besar dalam mengendalikan konsumsi gula berlebih pada anak adalah minimnya literasi gizi di masyarakat. Banyak orang tua maupun remaja tidak terbiasa membaca informasi gizi pada label kemasan makanan.

Prof. Hardinsyah menekankan pentingnya memahami informasi kandungan gizi yang tercantum pada produk makanan dan minuman.

“Banyak orang belum memahami bahwa keterangan gizi di label sering ditulis per sajian, bukan per kemasan. Jadi harus teliti agar tidak salah menghitung,” katanya.

Kesalahan persepsi ini membuat banyak konsumen mengira mereka mengonsumsi gula dalam jumlah kecil, padahal total asupannya bisa jauh melebihi batas aman. Misalnya, satu botol minuman kemasan yang terlihat kecil ternyata terdiri dari dua hingga tiga porsi, dengan kandungan gula yang berlipat ganda dari yang tercantum pada label.

Dengan meningkatkan literasi gizi, masyarakat bisa lebih cermat dalam memilih produk makanan, terutama untuk anak-anak. Prinsip sederhana yang dapat diingat adalah GGL (Gula, Garam, Lemak) yang harus dibatasi sesuai anjuran kesehatan.

Dampak Jangka Panjang

Jika tren konsumsi gula berlebih pada anak tidak dikendalikan, Indonesia berisiko menghadapi krisis kesehatan masyarakat di masa depan. Peningkatan kasus obesitas anak akan berdampak pada meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung koroner di usia produktif.

Selain itu, beban ekonomi juga akan meningkat karena biaya pengobatan PTM relatif tinggi dan bersifat jangka panjang. Kondisi ini bisa mengurangi produktivitas generasi muda serta memperbesar beban sistem kesehatan nasional.

Pemerintah, sekolah, orang tua, hingga industri makanan perlu berkolaborasi untuk mencari solusi. Industri makanan, misalnya, bisa mulai mengurangi kandungan gula dalam produk mereka atau memberikan label peringatan yang lebih jelas. Sementara itu, sekolah dapat memperketat aturan mengenai jajanan sehat di lingkungan pendidikan.


Solusi Praktis untuk Mengurangi Konsumsi Gula

Para ahli menyarankan beberapa langkah praktis untuk mengurangi konsumsi gula sehari-hari, antara lain:

  1. Membatasi minuman manis – ganti minuman bersoda atau teh kemasan dengan air putih, infused water, atau jus buah tanpa gula tambahan.
  2. Membiasakan konsumsi buah segar – jadikan buah sebagai camilan sehat pengganti permen atau kue.
  3. Membaca label kemasan dengan teliti – perhatikan jumlah gula per sajian dan hitung total per kemasan.
  4. Membawa bekal sehat dari rumah – kurangi ketergantungan pada jajanan sekolah atau makanan cepat saji.
  5. Mengedukasi anak sejak dini – libatkan mereka dalam memilih dan menyiapkan makanan sehat agar terbiasa dengan pola makan bergizi.

Konsumsi gula berlebih pada anak merupakan masalah serius yang perlu segera diatasi. Selain memicu obesitas dan diabetes, pola makan tinggi gula juga berdampak pada kesehatan jangka panjang generasi muda. Prof. Hardinsyah dari IPB University menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, pemerintah, hingga industri makanan dalam membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat.

Meningkatkan literasi gizi, membaca label kemasan, dan membatasi konsumsi makanan serta minuman manis menjadi langkah awal yang efektif. Dengan kolaborasi semua pihak, diharapkan generasi mendatang dapat tumbuh lebih sehat, produktif, dan bebas dari ancaman penyakit akibat pola makan yang tidak seimbang.

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek
TAGGED:AnakDiabetesObesitasremaja
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Membuat Miniatur AI Gemini, Tren Viral Kreatif Tapi Berisiko
Next Article Carlo Acutis Resmi Jadi Santo, ‘Influencer Tuhan’ Pertama Gereja Katolik di Era Digital
1 Comment
  • Pingback: Jangan Remehkan Obesitas, Ini Bahaya untuk Anak Muda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Psikolog Ungkap Penyebab Pelaku Taufik Hidayat Nekat Menyekap dan Menyiksa Korban

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil

4 weeks ago
Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index