JAKARTA — Harga minyak dunia yang masih bertahan di level 105 dolar AS kini menjadi tantangan berat bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Di tengah tekanan global yang belum juga reda, pemerintah dinilai masih berusaha menjadi “bantalan” agar masyarakat tidak langsung terkena dampak paling pahit dari lonjakan energi dunia.
Situasi ini membuat pemerintah harus bekerja ekstra menjaga keseimbangan antara melindungi daya beli rakyat dan menjaga ketahanan fiskal negara agar tetap mampu membiayai berbagai program penting untuk masyarakat.
Pengamat energi dari Next Indonesia Center, Mamit Setiawan, menilai jika nantinya terjadi penyesuaian harga BBM non-subsidi, langkah tersebut masih tergolong wajar dalam konteks tekanan global yang sangat berat.
Menurutnya, harga minyak mentah dunia yang bertahan tinggi otomatis memengaruhi harga BBM di berbagai negara.
“Kalau melihat harga minyak dunia saat ini yang masih berada di kisaran 105 dolar AS per barel, tentu penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan hal yang wajar,” kata Mamit Setiawan.
Ia menjelaskan, pemerintah selama ini sebenarnya sudah menahan cukup besar dampak lonjakan harga energi global agar tidak langsung membebani masyarakat luas.
Karena itu, penyesuaian pada BBM non-subsidi dinilai sebagai langkah realistis agar anggaran negara tetap sehat dan pemerintah tetap mampu membantu rakyat melalui sektor lain seperti subsidi, bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur.
Di sisi lain, harga minyak dunia memang masih bergerak tinggi akibat ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan global. Kondisi ini membuat banyak negara menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan biaya energi yang tidak ringan.
Meski demikian, pemerintah Indonesia dinilai masih berupaya menjaga agar kelompok masyarakat kecil tetap terlindungi, terutama melalui skema BBM subsidi yang tetap dipertahankan.
Pendekatan ini dinilai penting agar masyarakat tidak merasa menghadapi krisis global sendirian. Sebab, tekanan energi dunia saat ini bukan hanya dialami Indonesia, tetapi hampir seluruh negara.
Karena itu, publik diajak melihat persoalan ini secara lebih bijak dan realistis. Ketika harga minyak dunia terus “mencekik”, pemerintah juga membutuhkan ruang fiskal agar ekonomi nasional tetap kuat dan tidak ambruk diterpa gejolak global.
Dengan semangat saling menjaga, penyesuaian harga BBM non-subsidi dipandang bukan semata soal kenaikan harga, melainkan bagian dari strategi bersama agar Indonesia tetap mampu bertahan menghadapi badai ekonomi dunia.