By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Pakar Kampus Bicara Blak-blakan: Pertamax Naik Demi Selamatkan APBN
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Pakar Kampus Bicara Blak-blakan: Pertamax Naik Demi Selamatkan APBN

Terkini

Pakar Kampus Bicara Blak-blakan: Pertamax Naik Demi Selamatkan APBN

Nicholas
By
Nicholas
2 months ago
Share
5 Min Read
(Ilustrasi) SPBU Pertamina. Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 mendapat dukungan dari kalangan akademisi. UGM dan UNIMA. (Foto, Dok/PERTAMINA Patra Niaga)
SHARE

JAKARTA – Perdebatan publik mengenai kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 mendapat pandangan objektif dari kalangan akademisi. Sejumlah ekonom menilai penyesuaian harga tersebut bukan sekadar kebijakan bisnis, melainkan langkah realistis yang diperlukan untuk menjaga kesehatan fiskal negara di tengah lonjakan harga minyak dunia dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dukungan tersebut disampaikan pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi dan ekonom Universitas Negeri Manado (UNIMA) Robert Winerungan. Keduanya menilai bahwa Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang pada dasarnya memang mengikuti mekanisme pasar dan harga keekonomian.

Menurut Fahmy, selama beberapa bulan terakhir pemerintah sebenarnya telah berupaya menahan kenaikan harga Pertamax untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, kondisi tersebut tidak bisa berlangsung terus-menerus karena berpotensi memperbesar beban fiskal negara.

“Saya kira RON 92 atau Pertamax itu sebetulnya BBM nonsubsidi. Harganya biasa ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar, sesuai dengan harga keekonomian,” kata Fahmy Radhi, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa mempertahankan harga BBM komersial di bawah harga keekonomian dalam waktu yang terlalu lama akan menambah tekanan terhadap APBN yang saat ini juga harus membiayai berbagai program prioritas nasional.

“Betul. Sebenarnya tidak bisa ditahan lagi oleh pemerintah untuk mempertahankan harga Pertamax agar tidak naik, karena beban fiskalnya semakin berat,” ujarnya.

Pandangan tersebut memperkuat argumentasi bahwa penyesuaian harga Pertamax merupakan konsekuensi logis dari kondisi pasar energi global yang terus mengalami perubahan. Jika harga BBM komersial terus ditahan secara paksa, maka ruang fiskal pemerintah berisiko semakin sempit dan mengurangi kemampuan negara dalam membiayai program-program yang menyentuh masyarakat luas.

Meski demikian, Fahmy mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap potensi perpindahan pengguna Pertamax ke Pertalite. Menurutnya, disparitas harga yang terlalu lebar dapat memicu peningkatan konsumsi BBM subsidi yang justru berpotensi menambah beban subsidi energi negara.

Pandangan senada disampaikan ekonom Universitas Negeri Manado (UNIMA) Robert Winerungan. Ia menilai kebijakan penyesuaian harga Pertamax merupakan langkah yang masuk akal karena produk tersebut memang tidak termasuk BBM yang menjadi sasaran utama intervensi harga pemerintah.

Baca Juga :

Hardiknas 2025: Pelajar SMAN 9 Pekanbaru All Out Dukung Pendidikan Indonesia!
Demi Kelancaran Arus Balik, Kemenhub Terjunkan 3 Kapal Rute Panjang-Ciwandan

“Pemerintah berupaya mengurangi beban APBN karena Pertamax sebenarnya merupakan BBM yang tidak seharusnya mendapat intervensi pemerintah. Yang memang mendapat campur tangan pemerintah adalah Pertalite. Jadi pemerintah mengurangi beban APBN dengan menaikkan harga RON 92,” kata Robert.

Menurut Robert, menjaga keseimbangan harga BBM domestik dengan negara-negara lain di kawasan juga menjadi faktor penting. Selisih harga yang terlalu jauh berpotensi memunculkan berbagai penyalahgunaan, termasuk praktik perdagangan ilegal yang pada akhirnya merugikan negara.

Ia juga menilai dampak kenaikan Pertamax terhadap masyarakat secara umum relatif terbatas karena mayoritas pengguna produk tersebut berasal dari kelompok menengah ke atas dengan kendaraan yang memang dirancang menggunakan bahan bakar beroktan lebih tinggi.

“Saya kira dampaknya tidak terlalu besar. Sebagian besar masyarakat menengah ke bawah sudah menggunakan Pertalite. Karena itu saya yakin pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Pertamax atau RON 92 umumnya digunakan oleh kendaraan-kendaraan yang lebih baru,” ujarnya.

Pandangan kedua akademisi tersebut muncul di tengah diskusi publik mengenai penyesuaian harga BBM non-subsidi. Dari perspektif ekonomi, langkah tersebut dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan fiskal negara dan perlindungan terhadap masyarakat yang membutuhkan subsidi.

Data perbandingan regional juga menunjukkan harga BBM Indonesia masih relatif kompetitif. Berdasarkan data Trading Economics periode Maret-April 2026, harga BBM di Singapura mencapai sekitar Rp43.100 per liter, Filipina Rp27.500 per liter, serta Thailand dan Kamboja sekitar Rp22.600 per liter. Sementara setelah penyesuaian, harga Pertamax berada pada level Rp16.250 per liter.

Dalam konteks tersebut, kalangan akademisi melihat kebijakan penyesuaian harga sebagai langkah realistis yang sulit dihindari. Di tengah tekanan pasar energi global, menjaga kesehatan APBN dinilai sama pentingnya dengan menjaga stabilitas ekonomi nasional agar negara tetap memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melindungi kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan dan subsidi secara tepat sasaran.

You Might Also Like

Fakta PHK Samarinda ! Disnaker: Proyek Tambang Berakhir, Bukan Sebab RKAB
DPK Tembus Rp47,9 Triliun! Kepercayaan Pengusaha ke CIMB Niaga Makin Kuat
Menlu Iran Ancam Tindak Lanjut Serangan Ukraina terhadap Kapal Dagang di Laut Kaspia
Pemerintah Rusia Tahan Ekspor Bensin Sampai Akhir Tahun demi Stabilkan Pasokan Dalam Negeri
Kolaborasi Jepang-Inggris-Italia Kembangkan Jet Tempur Berteknologi AI dan Stealth
TAGGED:APBNKenaikan PertamaxUGMUNIMA
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Prabowo Perintahkan Harga Subsidi Tetap, Bahlil Pasang Badan untuk Rakyat
Next Article Pelaku Tambang Sumringah! Kebijakan Baru ESDM Dinilai Jaga Produksi Tetap Jalan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI karena Alasan Pribadi, Pemerintah Siapkan Keppres Pemberhentian

BRIvolution Berbuah Manis! Transformasi BRI Diakui Masuk Daftar Bank Terbesar Dunia

Proyek Gas Raksasa North Hub Siap Tembus 1.000 MMSCFD dan Buka 8.000 Lowongan

Mensesneg: Prabowo Terima Pengunduran Diri Perry Warjiyo Sesuai Mekanisme Undang-Undang

Destry Damayanti Resmi Jadi Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Usai Perry Warjiyo Mundur

Kepala Staf Kepresidenan, Minta Kasus Pengeroyokan Terduga Pencuri Ayam di Tabanan Diusut Tuntas

Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Istana Sampaikan Penghargaan atas Dedikasi 7 Tahun

Bahlil Proaktif Dorong TransJakarta Pakai Hidrogen demi Kemandirian Energi

Korlantas Tegaskan Denda Ban Gundul Rp250 Ribu Bukan Aturan Baru, Informasi Viral Dipastikan Hoaks

Tak Sekadar Sepak Bola, Piala Presiden 2026 Buka Peluang Bisnis bagi 100 UMKM

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Presiden AS Donald Trump marah pada CNN dan New York Times yang bikin berita tak sesuai harapan soal situs nuklir Iran. (Foto : Reuters)
Internasional

Donald Trump Tegaskan China dan Rusia Tak Memasok Senjata ke Iran

4 days ago
Internasional

Rusia Klaim Serang Pusat Logistik dan Fasilitas Drone Ukraina dalam Operasi Terbaru

4 days ago
PolitikTerkini

Nama Bahlil Disoraki Kader PKB, Komen Cak Imin : “Gawat, Banyak Penggemarnya!”

4 days ago
InternasionalKesehatan

Kasus Campak di Amerika Serikat Tembus 2.300, Lampaui Rekor Sepanjang 2025

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index