JAKARTA – Kontroversi besar mewarnai Piala Dunia 2026 setelah FIFA menunda hukuman larangan bermain satu pertandingan terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, jelang laga babak 16 besar melawan Belgia. Keputusan tersebut memicu tudingan bahwa badan sepak bola dunia itu tunduk pada pengaruh politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam analisis yang ditulis Pablo Iglesias Maurer, di The Guardian, Senin (6/7/2026), keputusan FIFA dinilai mencederai integritas turnamen. Maurer bahkan membandingkan peristiwa ini dengan kisah legendaris Garrincha di Piala Dunia 1962, ketika campur tangan politik disebut-sebut membantu bintang Brasil itu lolos dari hukuman tambahan sehingga bisa tampil di partai final.
Kontroversi bermula setelah Balogun menerima kartu merah saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina 2-0. Penyerang yang kini membela AS Monaco itu dianggap menginjak pergelangan kaki lawan dalam perebutan bola. Keputusan wasit melalui tinjauan VAR memicu perdebatan luas karena banyak pihak menilai kartu merah tersebut terlalu berat.
Pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino dan Balogun sempat menerima hukuman tersebut, meski menyampaikan kekecewaan. Namun situasi berubah drastis ketika Donald Trump dikabarkan melakukan serangkaian komunikasi dengan Presiden FIFA Gianni Infantino, sementara US Soccer Federation juga melobi agar hukuman Balogun ditunda.
Tak lama kemudian, FIFA memutuskan hukuman satu laga Balogun ditangguhkan hingga turnamen berakhir. Meski FIFA menyatakan keputusan tersebut sesuai ketentuan dalam regulasi disiplin organisasi, banyak pihak mempertanyakan waktu dan konteks keputusan yang dinilai belum pernah terjadi selama Piala Dunia berlangsung.
Maurer menilai publik sulit mempercayai bahwa komunikasi Trump sama sekali tidak memengaruhi keputusan tersebut. Ia menyoroti hubungan dekat antara Trump dan Infantino yang selama ini kerap terlihat dalam berbagai kesempatan.
Menurut Maurer, langkah Trump justru merugikan sepak bola Amerika sendiri. Padahal, Amerika Serikat tampil mengesankan sepanjang fase grup dan lolos ke babak gugur berkat performa yang dinilai layak. Kehadiran kembali Balogun justru membuat kemenangan apa pun atas Belgia berpotensi dipandang sebagai hasil yang diuntungkan oleh keputusan administratif FIFA.
Reaksi keras juga datang dari pelatih Belgia Rudi Garcia, yang menyindir keputusan itu dengan mengatakan, “Saya tidak tahu April Mop jatuh pada bulan Juli.” Federasi Sepak Bola Belgia bahkan disebut sedang mempelajari opsi hukum atas keputusan tersebut.
Pelatih Norwegia Ståle Solbakken, usai membawa timnya menyingkirkan Brasil, juga mengecam langkah FIFA. “Saya pikir itu kesalahan besar FIFA. Keputusan yang sangat buruk. Saya kasihan kepada Amerika Serikat, karena sekalipun mereka menang, pertandingan itu akan selalu dibayangi persoalan ini. Tidak baik untuk olahraga,” ujarnya.
Maurer menilai campur tangan Trump juga berpotensi merusak citra positif Piala Dunia 2026 yang sebelumnya mendapat apresiasi setelah mampu mengatasi berbagai kekhawatiran mengenai harga tiket, visa, hingga persoalan logistik.
Di akhir tulisannya, Maurer menyebut Trump kembali menunjukkan apa yang disebutnya sebagai sikap paling khas Amerika: menggunakan pengaruh politik untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Menurutnya, keputusan tersebut bukan hanya memunculkan polemik baru, tetapi juga meninggalkan pertanyaan besar mengenai independensi FIFA dalam menjaga keadilan dan kredibilitas kompetisi sepak bola terbesar di dunia.