Inversi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan sebanyak 82,9 juta anak Indonesia akan menjadi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026.
Program ini merupakan salah satu kebijakan strategis nasional yang menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.
Dadan menegaskan bahwa MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang terhadap pembangunan manusia Indonesia.
Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam pencegahan stunting, peningkatan kualitas gizi, serta penguatan produktivitas generasi masa depan.
Menurut Dadan, hingga saat ini program MBG telah menjangkau sekitar 62 juta anak di seluruh Indonesia. Angka tersebut menunjukkan capaian yang signifikan dalam waktu pelaksanaan yang relatif singkat sejak program ini dimulai pada Januari 2025.
“Hari ini sudah ada 62 juta penerima manfaat yang telah menikmati MBG dan kita targetkan 82,9 juta anak Indonesia menikmati MBG di tahun ini,” ujar Dadan Hindayana di Kota Padang, Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan bahwa perluasan cakupan penerima manfaat tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Dalam visi tersebut, peningkatan kualitas manusia Indonesia menjadi salah satu fondasi utama pembangunan nasional jangka panjang.
Dadan menyampaikan optimisme bahwa program MBG akan memberikan dampak signifikan terhadap kualitas generasi masa depan Indonesia. Dengan pemenuhan gizi yang baik sejak usia dini, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi individu yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing tinggi.
“Anak yang sehat akan menjamin produktivitas di masa tua,” kata Dadan menegaskan.
Menurutnya, investasi di bidang gizi merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat dilihat secara instan, namun memiliki dampak besar terhadap keberlanjutan pembangunan bangsa. Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang berpotensi memiliki perkembangan fisik dan kognitif yang lebih optimal, sehingga mampu berkontribusi secara maksimal di masa depan.
Lebih lanjut, Dadan juga mengingatkan pentingnya peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam memastikan implementasi program berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan. SPPG sebagai unit pelaksana di lapangan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas makanan, kebersihan, serta keamanan pangan yang disalurkan kepada penerima manfaat.
Ia menekankan bahwa setiap SPPG wajib mematuhi petunjuk teknis dan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh BGN. Hal ini mencakup aspek kebersihan dapur, pengolahan makanan, hingga distribusi kepada masyarakat.
Selain itu, SPPG juga diwajibkan untuk melengkapi berbagai persyaratan administratif dan teknis, seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) serta Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Persyaratan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh proses produksi makanan berjalan sesuai standar kesehatan dan keamanan pangan nasional.
“SPPG harus menyiapkan fasilitas pendukung serta memenuhi seluruh kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan. Ini penting agar kualitas layanan tetap terjaga,” jelas Dadan.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program MBG di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya difokuskan di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau seluruh daerah, termasuk wilayah pedesaan dan pelosok.
Menurut Vasko, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas layanan dan kepuasan masyarakat terhadap makanan yang disajikan. Ia berharap makanan yang disediakan tidak hanya bergizi, tetapi juga memiliki cita rasa yang disukai oleh anak-anak.
“Yang jelas di Sumatera Barat saya berharap MBG bukan cuma makan bergizi gratis, tapi makan bergizi gratis dan enak betul,” ujar Vasko.
Pemerintah daerah, lanjutnya, akan terus bersinergi dengan BGN dalam memastikan pelaksanaan program berjalan optimal. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat, menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.
Program MBG sendiri tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga memberikan efek positif pada sektor ekonomi lokal. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar mendorong peningkatan aktivitas petani, peternak, serta pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Dengan adanya permintaan yang stabil dan berkelanjutan, rantai pasok pangan lokal menjadi lebih kuat dan memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha. Hal ini secara tidak langsung turut memperkuat perekonomian daerah serta menciptakan lapangan kerja baru.
Melalui program MBG, pemerintah berharap tercipta ekosistem pembangunan yang saling terhubung antara sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dengan demikian, investasi di bidang gizi tidak hanya menghasilkan generasi yang sehat, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional di masa depan.
Dengan target besar yang telah ditetapkan, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pelaksanaan program MBG secara konsisten, transparan, dan berkelanjutan demi tercapainya generasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing global.