INVERSI.ID – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap hasil investigasi terkait insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang terjadi pada 16 April 2026.
Dari hasil pemeriksaan akhir, tim investigasi menemukan sebagian besar menu makanan yang disajikan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna, dinyatakan aman dari kontaminasi bakteri. Namun, ditemukan kandungan zat kimia nitrit dalam menu tumis pakcoy dengan kadar yang jauh melampaui batas aman.
“Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman,” ujar Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad dalam instagram resmi Sidak BGN yang dikutip di Jakarta, Senin.
Meski demikian, hasil investigasi menyebut mayoritas sampel makanan lainnya tidak ditemukan kontaminasi bakteri berbahaya.
Berdasarkan uji laboratorium dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, menu makanan pada tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 dinyatakan negatif dari bakteri Salmonella sp, S. aureus, E.Coli, dan B.cereus.
Arie menjelaskan kandungan nitrit sebenarnya dapat muncul secara alami pada sejumlah sayur dan buah. Kadar zat tersebut bisa meningkat akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit.
Selain faktor alami, tim investigasi juga menduga cemaran nitrit dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan di lahan pertanian. Sumber lain yang dicurigai meliputi air resapan yang tercemar limbah manusia atau hewan hingga limbah industri kimia di sekitar area pertanian.
“Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian,” ujar dia.
Sebagai tindak lanjut, tim investigasi meminta Kedeputian Sistem dan Tata Kelola serta Pemantauan dan Pengawasan BGN segera melakukan koordinasi serius dengan Kementerian Pertanian guna membahas temuan tersebut secara menyeluruh.
“Temuan nitrit dinilai sangat serius dan berpotensi berdampak luas pada keamanan pangan,” ucap Arie.
Ia menjelaskan kandungan nitrit berlebih dapat memicu kondisi methaemoglobinemia, yaitu gangguan yang menyebabkan kemampuan hemoglobin dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh menurun.
“Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas dan muncul sesak napas, karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen,” tuturnya.
Kasus ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari program MBG di wilayah tersebut.
Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan serta mengevaluasi proses distribusi hingga pengolahan makanan untuk memastikan penyebab insiden tersebut.