TIONGKOK – Konflik senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai memunculkan efek besar terhadap ekonomi global. Ancaman krisis energi akibat gangguan pasokan minyak dunia membuat harga BBM melonjak di banyak negara. Namun di tengah situasi tersebut, industri kendaraan listrik atau New Electric Vehicle (NEV) justru menikmati lonjakan permintaan dan ekspor.
Laporan media internasional menyebut ketegangan di Timur Tengah mengganggu distribusi minyak dunia, termasuk jalur strategis Selat Hormuz. Dampaknya, harga bensin di Tiongkok ikut naik hampir 20 persen. Kondisi ini membuat kendaraan listrik semakin diminati masyarakat karena dianggap lebih hemat dibanding mobil berbahan bakar minyak.
“Harga bensin naik drastis sekarang. Jika Anda sering mengemudi, kendaraan listrik adalah pilihan terbaik,” ujar pengemudi DiDi di Changsha, Liu Zhou dikutip dari chinadaily.com
Fenomena itu langsung tercermin pada pasar otomotif China. Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan penetrasi NEV di China mencapai rekor 62,8 persen dari total penjualan kendaraan pada April 2026. Angka tersebut jauh di atas Amerika Serikat yang penjualan EV-nya masih di bawah 10 persen dari total pasar otomotif.
Di sisi lain, pasar mobil domestik China sebenarnya sedang melambat. Penjualan kendaraan turun 21,6 persen menjadi 1,4 juta unit pada April 2026. Namun menariknya, ekspor kendaraan justru melonjak 80,2 persen, sementara ekspor mobil listrik dan hybrid plug-in naik hingga 111,8 persen.
Asosiasi Produsen Mobil China juga mencatat penjualan NEV pada April 2026 mencapai 1,344 juta unit atau tumbuh 9,7 persen secara tahunan. Ekspor NEV bahkan mencetak rekor baru.
Kondisi ini menunjukkan adanya perimbangan baru dalam ekonomi global. Di satu sisi, perang dan lonjakan harga minyak menekan banyak negara. Namun di sisi lain, krisis energi justru mempercepat transisi menuju kendaraan listrik dan membuka peluang besar bagi industri EV dunia, terutama China.