By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Pertalite Terancam Diserbu Orang Kaya? Ekonom Minta Keran Subsidi Diperketat!
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Pertalite Terancam Diserbu Orang Kaya? Ekonom Minta Keran Subsidi Diperketat!

EkonomiTerkini

Pertalite Terancam Diserbu Orang Kaya? Ekonom Minta Keran Subsidi Diperketat!

Dede isharuddin
By
Dede isharuddin
16 seconds ago
Share
4 Min Read
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai penyesuaian harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter berpotensi mendorong sebagian pengguna BBM nonsubsidi beralih ke Pertalite yang dijual dengan harga subsidi Rp10.000 per liter. (Foto, Antara/M. Baqir Idrus Alatas)
SHARE

JAKARTA — Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax memunculkan kekhawatiran baru terkait membeludaknya konsumsi BBM subsidi oleh kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak berhak. Karena itu, Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mendesak pemerintah segera memperketat pengawasan dan distribusi BBM subsidi agar kuota energi negara tidak bocor ke tangan konsumen mampu.

Menurut Wijayanto, penyesuaian harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter berpotensi mendorong sebagian pengguna BBM nonsubsidi beralih ke Pertalite yang masih dijual dengan harga subsidi Rp10.000 per liter.

Kondisi tersebut, kata dia, harus diantisipasi sejak dini agar subsidi energi tetap dinikmati oleh masyarakat yang memang berhak menerimanya.

“Memastikan subsidi BBM tepat sasaran. Jangan sampai mereka yang tidak berhak mengonsumsi Pertalite bergeser menjadi konsumen,” kata Wijayanto Samirin saat dihubungi di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Peringatan tersebut dinilai semakin relevan di tengah berbagai upaya pemerintah memberantas praktik penyalahgunaan BBM subsidi yang selama ini masih terjadi di lapangan. Salah satu modus yang kerap terungkap adalah praktik penimbunan solar subsidi menggunakan banyak kendaraan secara bergantian atau yang populer disebut modus “mobil helikopter”.

Karena itu, pengetatan pengawasan pasca-kenaikan harga Pertamax tidak hanya bertujuan menjaga kuota subsidi tetap tepat sasaran, tetapi juga menjadi momentum untuk mempercepat penutupan berbagai celah penyalahgunaan yang selama ini dimanfaatkan oknum mafia BBM.

Pengamat ekonomi menilai penerapan sistem digital berbasis identifikasi kendaraan dan konsumen dapat menjadi salah satu solusi untuk memastikan subsidi energi benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan. Dengan sistem yang lebih tertutup dan terintegrasi, ruang gerak spekulan maupun penimbun dapat dipersempit.

Wijayanto juga mengingatkan bahwa pemerintah perlu menjaga berbagai program perlindungan sosial lainnya agar daya beli masyarakat tidak tergerus akibat tekanan biaya hidup.

Selain memastikan subsidi BBM tepat sasaran, pemerintah juga diminta menjaga stabilitas subsidi listrik dan LPG hingga akhir tahun. Kemudahan akses terhadap layanan BPJS Kesehatan juga harus dipertahankan agar masyarakat memiliki bantalan ekonomi yang memadai.

Baca Juga :

Profil dan Biodata Epy Kusnanda, Pemeran Kang Mus Ditangkap Polisi Atas Dugaan Narkoba
Steven Wang, CEO 23 Tahun yang Ingin Ubah Literasi Keuangan Anak Muda

Di sektor perumahan, pemerintah dinilai perlu mengantisipasi kemungkinan kenaikan cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) yang dapat menambah beban rumah tangga. Sementara itu, pasokan kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng juga harus dijaga agar tetap tersedia dengan harga yang terjangkau.

Menurut Wijayanto, seluruh instrumen tersebut merupakan bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat di tengah berbagai tekanan.

“Jika hal-hal tersebut tidak hadir, dikhawatirkan inflasi akan meroket, masyarakat kesulitan hidup dan berpotensi menimbulkan kaos,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, mulai 10 Juni 2026 Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax Turbo tetap Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter. Untuk BBM subsidi, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar masih dipertahankan pada level Rp6.800 per liter.

Dengan selisih harga yang semakin lebar antara BBM subsidi dan nonsubsidi, penguatan sistem pengawasan dinilai menjadi kunci utama agar anggaran subsidi energi negara tidak bocor kepada kelompok yang tidak berhak. Di saat yang sama, langkah tersebut juga menjadi instrumen penting untuk menutup ruang gerak para spekulan dan mafia BBM yang selama ini memburu keuntungan dari celah distribusi subsidi.

You Might Also Like

Arnautovic Jadi Pembeda, Austria Selamat dari Kejutan Yordania!
Hattrick Messi Membuat Aljazair Tak Berdaya
Haaland Tak Gugup, Irak Dibuat Tak Berkutik!
Mbappé Menggila, Senegal Jadi Korban!
Mitos Boros Tumbang! Kompor Listrik Ternyata Lebih Hemat 75%
TAGGED:BBM Non SubsidiEkonom Senior Universitas ParamadinaWijayanto Samirin
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Arnautovic Jadi Pembeda, Austria Selamat dari Kejutan Yordania!
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Heboh Harga Pertamax, Padahal dari Awal Tak Pernah Disubsidi

Isyana Bagoes Oka Sebut Kunjungan Jokowi ke Daerah, Tak Terkait Safari Politik

Arus Modal Asing Bisa Kembali Masuk, Asal Dua Indikator Ini Terus Membaik

Rupiah dan IHSG Sempat Terpuruk, Langkah BI dan Pemerintah Mulai Berbuah Hasil

Konflik AS-Iran Mereda, Menkeu Sebut APBN Berpeluang Lebih Longgar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Terkini

Palu Berduka Lagi, Jangan Biarkan Sulawesi Tengah Berjuang Sendiri

17 hours ago
Pildun 2026Terkini

Bertanding Dalam Kondisi Tertindas, Iran Pantang Tumbang

17 hours ago
Pildun 2026Terkini

Duel Legenda Berakhir Imbang! Lukaku dan Mo Salah Sama-sama Bersinar

18 hours ago
Pildun 2026Terkini

Arab Saudi Jaga Gengsi Asia! Tahan Uruguay di Pentas Piala Dunia

18 hours ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index