JAKARTA – Kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap rencana peningkatan penggunaan bioetanol dalam campuran bahan bakar dinilai perlu disikapi secara rasional dan berbasis fakta. Pengalaman sejumlah negara menunjukkan penggunaan bensin campuran etanol bukanlah hal baru, bahkan telah diterapkan dalam kadar yang lebih tinggi tanpa menimbulkan gangguan berarti pada kendaraan.
Salah satu contoh terbaru datang dari Vietnam. Negara tersebut saat ini justru mempercepat transisi energi bersih melalui perluasan penggunaan bensin E10 atau bahan bakar dengan campuran etanol sebesar 10 persen. Langkah itu ditempuh sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan emisi karbon.
Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam menegaskan bahwa penggunaan bensin E10 menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung target pembangunan hijau yang sedang dijalankan negara tersebut.
Yang menarik, di tengah kekhawatiran sebagian kalangan mengenai dampak etanol terhadap mesin kendaraan, hasil implementasi di lapangan justru menunjukkan kondisi yang berbeda.
Perusahaan distribusi bahan bakar terbesar Vietnam, PVOil dan Petrolimex, telah melakukan uji distribusi E10 sejak Agustus 2025 di sejumlah kota besar seperti Hanoi, Hai Phong, dan Ho Chi Minh City. Hingga kini, pemerintah Vietnam menyatakan belum menerima laporan keluhan maupun masukan terkait kualitas E10 pada mobil maupun sepeda motor yang menggunakannya.
Keberhasilan Vietnam menjadi referensi menarik bagi banyak negara yang tengah memperluas pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi. Sebab jika campuran etanol 10 persen saja dapat digunakan secara luas tanpa menimbulkan masalah berarti, maka penggunaan campuran yang lebih rendah seperti E5 atau 5 persen etanol tentu memiliki tingkat risiko yang jauh lebih kecil.
Selain aspek teknis kendaraan, Vietnam juga membuktikan bahwa transisi menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dapat dilakukan tanpa membebani masyarakat secara berlebihan. Pemerintah memanfaatkan infrastruktur distribusi yang sudah tersedia sehingga tidak memerlukan pembangunan jaringan baru dalam skala besar.
Saat ini, tiga perusahaan utama yakni Petrolimex, PVOil, dan Saigon Petro telah memiliki kapasitas pencampuran hampir 890.000 meter kubik per bulan. Bahkan jika seluruh proses perizinan selesai, kapasitas nasional Vietnam diproyeksikan mencapai lebih dari 1,17 juta meter kubik per bulan, cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pasar E5 maupun E10.
Dalam konteks Indonesia, pengalaman Vietnam dapat menjadi bahan edukasi publik bahwa kebijakan bauran bioetanol bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan. Justru negara-negara lain telah melangkah lebih jauh dengan tingkat campuran yang lebih tinggi dan tetap mampu menjaga performa kendaraan serta keandalan pasokan energi.
Penggunaan bioetanol juga memiliki manfaat strategis, mulai dari pengurangan emisi karbon, pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor, hingga penguatan ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Karena itu, diskusi mengenai implementasi E5 di Indonesia sebaiknya lebih banyak didasarkan pada data dan pengalaman empiris yang telah terbukti di berbagai negara. Pengalaman Vietnam memperlihatkan bahwa campuran etanol hingga 10 persen dapat berjalan dengan aman dan diterima masyarakat.