By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Tak Naik Meski Kurs Tertekan, Harga Pertamax Stabil Jadi Bukti Keberpihakan Pemerintah
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Tak Naik Meski Kurs Tertekan, Harga Pertamax Stabil Jadi Bukti Keberpihakan Pemerintah

Ekonomi

Tak Naik Meski Kurs Tertekan, Harga Pertamax Stabil Jadi Bukti Keberpihakan Pemerintah

Dede isharuddin
By
Dede isharuddin
2 months ago
Share
4 Min Read
(Ilustrasi) Kendaraan yang akan mengisi BBM di SPBU Pertamina. Ada beberapa komponen yang harusdikalkulasi sehingga meski harga minyak mentah dunia menurun, tidak serta merta langsung menurunkan harga Pertamax yang baru naik. (Foto. Dok/Pertamina Patra Niaga)
SHARE

JAKARTA – Di tengah tekanan harga energi global dan nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tantangan, pemerintah kembali menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat dengan mempertahankan harga Pertamax di level Rp12.300 per liter sepanjang Juni 2026. Padahal, berdasarkan perhitungan keekonomian, harga BBM RON 92 tersebut diperkirakan telah mencapai lebih dari Rp16.000 per liter.

Kebijakan ini menjadi bukti nyata bahwa stabilitas daya beli masyarakat masih menjadi prioritas utama pemerintah. Tidak hanya menahan harga Pertamax, pemerintah juga menghadirkan kabar baik melalui penurunan harga BBM diesel nonsubsidi atau Dex Series yang berlaku mulai Juni 2026.

Langkah tersebut mendapat perhatian kalangan ekonom. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa berdasarkan rata-rata harga minyak mentah Brent dan nilai tukar rupiah hingga akhir Mei 2026, harga keekonomian Pertamax diperkirakan berada di kisaran Rp16.427 per liter.

“Untuk Pertamax RON 92, nilai keekonomiannya kemungkinan berada di sekitar Rp16.427/liter. Rujukan sebelumnya menunjukkan bahwa pada skenario ICP US$100/bbl dan kurs Rp17.000/US$, harga keekonomian Pertamax bisa mencapai sekitar Rp17.800/liter,” kata Josua saat dihubungi, Juat (5/6/2026).

Artinya, terdapat selisih harga sekitar Rp3.800 hingga Rp4.100 per liter yang saat ini tidak dibebankan kepada masyarakat. Selisih tersebut menjadi beban yang harus ditanggung melalui mekanisme kompensasi energi.

Menurut perhitungan Josua, dengan konsumsi Pertamax yang mencapai sekitar 565 juta liter per bulan, kebutuhan dana untuk menahan harga tersebut diperkirakan mencapai Rp2,2 triliun hingga Rp2,3 triliun setiap bulan.

“Angka ini masih indikatif karena volume realisasi Pertamax, harga MOPS, kurs rata-rata, pajak, biaya distribusi, dan margin badan usaha akan menentukan angka finalnya,” tegas dia.

Di saat yang sama, masyarakat juga mendapatkan manfaat dari turunnya harga BBM diesel nonsubsidi. Harga Dexlite mengalami penurunan, begitu pula Pertamina Dex yang turun cukup signifikan pada Juni 2026. Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah dan Pertamina tetap berupaya menyesuaikan harga secara objektif mengikuti perkembangan pasar, namun tetap menjaga keseimbangan agar tidak memberatkan masyarakat.

Kebijakan menahan harga Pertamax memang membantu menjaga inflasi dan menopang daya beli dalam jangka pendek. Namun para ekonom mengingatkan bahwa kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi fiskal yang tidak kecil.

Baca Juga :

Liga RT ke Level Nasional, Hetifah Dorong Regenerasi Atlet Muda Kaltim Terus Bergerak!
Terkait Perlindungan Data, Italia Blokir ChatGPT

Josua menilai pemerintah dan Pertamina menghadapi pilihan yang tidak mudah. Jika harga Pertamax dinaikkan mendekati harga keekonomian, inflasi berpotensi meningkat. Sebaliknya, jika harga terus ditahan, maka kebutuhan kompensasi akan semakin besar.

Karena itu, ia menyarankan agar apabila tekanan kurs dan harga energi belum mereda, penyesuaian dilakukan secara bertahap dan terukur.

“Misalnya bertahap Rp500 sampai Rp1.000 per liter, agar beban tidak menumpuk terlalu besar,” ungkap Josua.

Sebelumnya, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth Arya Brata, juga mengonfirmasi bahwa harga keekonomian Pertamax telah berada di kisaran Rp17.000 per liter. Namun setelah pembahasan bersama pemerintah, diputuskan bahwa harga jual kepada masyarakat tetap dipertahankan.

“Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan,” kata Roberth.

Kebijakan Juni 2026 ini menjadi pelajaran penting mengenai kedewasaan fiskal dan gotong royong ekonomi nasional. Di satu sisi, pemerintah menunjukkan komitmen kuat melindungi daya beli masyarakat dari gejolak energi global. Di sisi lain, publik juga perlu memahami bahwa kebijakan penahanan harga memerlukan dukungan anggaran yang sangat besar.

Karena itu, masyarakat diajak melihat kebijakan energi secara lebih utuh. Ketika pemerintah mampu menjaga harga tetap stabil saat kondisi global bergejolak, hal tersebut patut diapresiasi. Namun jika di masa depan diperlukan penyesuaian harga yang wajar dan bertahap demi menjaga kesehatan fiskal negara, langkah tersebut juga perlu dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekonomi nasional.

You Might Also Like

Angin Segar! Bahlil Buka Peluang Pertamax Turun Bulan Depan
Saat Warga RI Ramai Beralih ke Bank Digital, Langkah BNI Ini Berbuah Manis!
Pemerintah Finalisasi Perpres Transportasi Online, Ojol Akan Diakui sebagai Pelaku UMKM
Pembiayaan Perumahan Jadi Mesin Penggerak Laba Rp 441 Miliar Bank BSN
Kredit Perbankan Melonjak, Sinyal Aktivitas Usaha Perlahan Menguat
TAGGED:BBM RON 92PertamaxPertamina Patra Niaga
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Nusantara Kian Benderang! ESDM Kejar 173 Ribu Pelanggan Listrik Baru pada 2026
Next Article Vietnam Sudah E10, Indonesia E5 Masih Diperdebatkan? Ini Faktanya
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Prabowo: Sikat Izin Mangkrak! Bahlil Diminta Cabut HGB dan IUP yang Tak Bergerak

KPK Tegaskan Parsel untuk ASN Bisa Masuk Kategori Gratifikasi, Vendor Diminta Waspada

Kongres GP NasDem, Saan Mustopa Tegaskan Target Partai Raih Tiga Besar Pemilu 2029

Pembahasan RUU Perampasan Aset Dinilai Tepat Dilanjutkan Setelah KUHAP Baru Berlaku

HUT ke-81 RI Digelar di Jakarta, Pemerintah Siapkan Konsep dengan Kejutan

Minyak Mentah Indonesia Turun 21%! ESDM Pastikan Evaluasi Harga BBM Tetap Transparan

Disorot Said Didu, Ini Alasan Bahlil Ketat Atur Kuota Timah Demi Nilai Tambah Nasional

Investasi Rp1.010 Triliun Belum Cukup! Proyek Harus Segera Jalan agar Ekonomi Tak Mandek

Setoran Negara Melesat! ESDM Kantongi Rp85,58 Triliun di Pertengahan 2026

Antrean BBM Di Sumut Mulai Diurai! ESDM Tambah Armada Truk Tangki Distribusi

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Jangan Rugikan Tanah Adat! Bahlil Pastikan Warga Blok Masela Dapat Skema Ganti Untung

5 days ago
Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.980 per Dolar AS, Inflasi AS Jadi Sentimen Positif

5 days ago
Ekonomi

IHSG Masih Tertekan, Kenaikan Harga Minyak Hingga Utang Luar Negeri Jadi Sorotan

5 days ago
Ekonomi

Listrik Warga Jadi Prioritas! Revisi RKAB Batu Bara Utamakan Pasokan PLN

6 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index