INVERSI.ID – Tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mengakui belum mampu mengatasi tekanan besar yang dirasakannya saat menghadapi pebulu tangkis Kanada, Victor Lai, pada partai final Indonesia Open 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu.
Bermain di hadapan ribuan pendukung tuan rumah, Jonatan harus mengubur impian meraih gelar juara setelah kalah dua gim langsung dengan skor 19-21 dan 8-21 dalam pertandingan yang berlangsung selama 39 menit.
Usai laga, Jonatan mengungkapkan bahwa faktor terbesar yang memengaruhi performanya bukanlah hal teknis maupun insiden di lapangan, melainkan tekanan yang sulit ia kendalikan sepanjang pertandingan.
“Sejak awal pertandingan memang ada tekanan yang cukup besar. Ketegangan juga sangat terasa. Saya rasa hari ini saya belum bisa mengelola tekanan itu dengan baik di lapangan,” kata Jonatan dalam konferensi pers setelah pertandingan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab anggapan bahwa kartu kuning yang diterimanya pada gim kedua menjadi titik balik pertandingan. Menurut Jonatan, masalah utama justru berasal dari dirinya sendiri yang belum mampu mengatasi beban mental saat tampil di final turnamen level Super 1000 tersebut.
Sepanjang turnamen, Jonatan sebenarnya tampil cukup meyakinkan. Ia berhasil melangkah hingga partai puncak untuk pertama kalinya di Indonesia Open. Namun, saat berhadapan dengan Victor Lai yang tengah berada dalam performa terbaiknya, permainan Jonatan tidak berkembang seperti yang diharapkan.
Pada gim pertama, pebulu tangkis berusia 28 tahun itu masih mampu memberikan perlawanan sengit dan terus menempel perolehan angka lawannya sebelum akhirnya menyerah 19-21.
Memasuki gim kedua, Victor tampil semakin percaya diri. Sementara itu, Jonatan kesulitan keluar dari tekanan hingga akhirnya kalah telak dengan skor 8-21.
Meski gagal memenuhi harapan publik Istora, Jonatan memilih tidak berlarut-larut dalam kekecewaan. Ia berencana mengambil waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi fisik maupun mental setelah menjalani jadwal pertandingan yang padat dalam beberapa pekan terakhir.
“Saya ingin mengambil jeda sejenak dari bulu tangkis supaya bisa lebih rileks dan menyegarkan kembali pikiran yang sudah terkuras selama kurang lebih tiga minggu menjalani rangkaian pertandingan sampai hari ini,” ujarnya.
Setelah masa istirahat tersebut, Jonatan akan kembali fokus mempersiapkan diri menghadapi sejumlah agenda penting pada paruh kedua musim 2026, termasuk Kejuaraan Dunia dan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Menurutnya, persaingan di sektor tunggal putra dunia kini semakin kompetitif. Banyak negara yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan mulai melahirkan pemain berkualitas yang mampu bersaing di level tertinggi.
“Beberapa negara berkembang sangat pesat dan menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dulu mungkin belum terlalu diperhitungkan, sekarang sudah memiliki pemain-pemain yang layak menjadi kandidat juara di berbagai turnamen,” kata Jonatan.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah Victor Lai. Menurut Jonatan, pemain Kanada tersebut menunjukkan kualitas luar biasa, terutama dalam aspek pengendalian emosi dan disiplin menjalankan strategi sepanjang pertandingan.
“Dari segi pengendalian diri, dia juga mampu menjalankan strategi yang sudah disiapkan dengan sangat baik. Menurut saya, itu perbedaan yang paling terlihat pada pertandingan hari ini,” ujar Jonatan.
Kekalahan ini membuat Jonatan kembali harus menunda ambisinya meraih gelar Indonesia Open di hadapan publik sendiri. Sementara bagi Victor Lai, kemenangan tersebut menjadi pencapaian terbesar dalam kariernya sekaligus mengukir sejarah baru bagi bulu tangkis Kanada di ajang Indonesia Open.