INVERSI.ID – Nama Victor Lai menjadi sorotan setelah sukses merebut gelar juara BWF World Tour Super 1000 Polytron Indonesia Open 2026. Pebulu tangkis asal Kanada itu berhasil menghentikan langkah Jonatan Christie di final yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu.
Di balik keberhasilannya mencetak sejarah bagi Kanada, ternyata Victor memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Indonesia. Jauh sebelum berdiri di podium tertinggi Indonesia Open, ia pernah menimba ilmu bulu tangkis di Tanah Air.
Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan kariernya terjadi pada 2016 saat ia datang ke Indonesia untuk menjalani latihan bersama Jeffer Rosobin, mantan tunggal putra Indonesia yang kini dikenal sebagai pelatih.
“Pada 2016, saya datang ke Indonesia untuk berlatih bersama Pelatih Jeffer. Jadi saya memiliki kedekatan dengan Indonesia,” kata Victor seusai pertandingan.
Pada laga final, Victor tampil impresif dan mengalahkan Jonatan Christie dalam dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-8. Kemenangan tersebut menjadi gelar BWF World Tour Super 1000 pertama dalam kariernya sekaligus menjadikannya pemain Kanada pertama yang mampu menjuarai Indonesia Open.
Bagi publik tuan rumah, hasil tersebut menghadirkan perasaan campur aduk. Indonesia kembali gagal meraih gelar dari sektor tunggal putra, sementara sosok yang menghentikan harapan tersebut justru memiliki ikatan khusus dengan dunia bulu tangkis Indonesia.
Victor mengungkapkan bahwa pengaruh Indonesia dalam perjalanan kariernya tidak hanya berasal dari pengalaman berlatih pada 2016. Hingga saat ini, ia masih banyak dibimbing oleh pelatih-pelatih asal Indonesia yang bekerja di Kanada.
“Saya memiliki kedekatan dengan Indonesia. Banyak pelatih saya sebelumnya, bahkan sampai sekarang, berasal dari Indonesia. Saya sangat beruntung dibantu oleh para pelatih dari salah satu negara terbaik dalam olahraga ini,” ujar pemain yang lahir pada 19 Desember 2004 itu.
Menurut Victor, para pelatih Indonesia memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan teknik dan mental bertandingnya. Tak heran jika Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki tempat spesial dalam perjalanan hidupnya sebagai atlet.
Selain mendapatkan bimbingan dari pelatih Indonesia, Victor juga tumbuh dengan menyaksikan aksi para legenda bulu tangkis dunia. Nama-nama besar seperti Taufik Hidayat, Lee Chong Wei, Lin Dan, Kento Momota, Victor Axelsen, Jonatan Christie, hingga Anthony Sinisuka Ginting menjadi inspirasi yang menemani masa mudanya.
“Saat saya lebih muda, saya sering menonton semua pemain hebat seperti Kento Momota, Victor Axelsen, Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan pemain-pemain lainnya,” kata pemain 21 tahun itu.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika Jonatan Christie melakukan comeback luar biasa saat menghadapi Victor Axelsen di French Open 2019. Momen tersebut bahkan pernah ditunjukkan oleh salah satu pelatihnya sebagai bahan pembelajaran.
“Saya sangat ingat salah satu pelatih saya menunjukkan kepada saya momen saat Jojo membalikkan keadaan melawan Victor Axelsen. Itu sangat menginspirasi saya,” ujarnya.
Bertahun-tahun kemudian, sosok yang dulu hanya ia saksikan melalui layar kini berdiri di hadapannya sebagai lawan di partai final Indonesia Open.
Meski harus menghadapi dukungan penuh ribuan penonton yang memadati Istora, Victor mampu menjaga fokus sepanjang pertandingan. Ia mengaku atmosfer yang diciptakan suporter Indonesia menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi.
“Suaranya sangat bising. Setiap kali dia mendapat poin, rasanya saya bahkan tidak bisa mendengar suara saya sendiri. Namun hal paling penting adalah tetap fokus, mengabaikan kebisingan tersebut, dan percaya bahwa saya bisa menang,” kata Victor.
Kepercayaan diri tersebut terlihat sejak awal pertandingan. Victor tampil tenang, disiplin menjaga reli, dan mampu memanfaatkan momen-momen penting saat Jonatan mulai berada di bawah tekanan.
Setelah memenangkan gim pertama dengan skor tipis 21-19, permainan Victor semakin berkembang. Ia tampil dominan pada gim kedua dan membuat Jonatan kesulitan keluar dari tekanan hingga akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan 21-8.
Jonatan Christie mengakui lawannya tampil lebih baik dalam mengelola pertandingan. Menurutnya, ketenangan menjadi faktor utama yang membedakan performa kedua pemain di laga final.
“Hari ini Victor bermain jauh lebih tenang dan lebih sabar. Dari segi pengendalian diri, dia juga mampu menjalankan strategi yang sudah disiapkan dengan sangat baik,” kata Jonatan.
Pebulu tangkis Indonesia itu juga mengakui dirinya belum mampu mengatasi tekanan besar yang muncul pada final Indonesia Open pertamanya.
“Saya memang merasa sejak awal pertandingan ada tekanan yang cukup besar. Ketegangan juga sangat terasa. Saya rasa hari ini saya belum bisa mengelola tekanan tersebut dengan baik di lapangan,” ujar Jonatan.
Bagi Kanada, kemenangan Victor menjadi pencapaian bersejarah. Sebelumnya, ia juga berhasil mengukir prestasi dengan meraih medali perunggu pada Kejuaraan Dunia 2025. Kini, koleksi prestasinya bertambah dengan gelar Indonesia Open yang prestisius.
“Keduanya merupakan sejarah bagi Kanada. Jadi saya sangat bangga atas kedua pencapaian tersebut,” katanya.
Di sisi lain, hasil ini memperpanjang penantian Indonesia untuk kembali memiliki juara tunggal putra di Indonesia Open. Terakhir kali wakil tuan rumah meraih gelar di Istora terjadi pada 2012 melalui Simon Santoso.
Meski begitu, kisah Victor Lai juga menunjukkan besarnya pengaruh bulu tangkis Indonesia di kancah internasional. Tidak hanya melahirkan atlet-atlet hebat, Indonesia juga berperan dalam membentuk perkembangan pemain dari berbagai negara melalui para pelatih dan tradisi pembinaan yang dimiliki.
Ironisnya, jejak pengaruh tersebut kembali ke Istora dalam wujud yang berbeda. Seorang pemain yang pernah belajar dari Indonesia justru menjadi sosok yang menggagalkan impian tuan rumah untuk kembali berjaya di hadapan pendukungnya sendiri.
Namun di balik hasil tersebut, kemenangan Victor menjadi bukti bahwa warisan dan ilmu bulu tangkis Indonesia terus menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Kanada, dan turut melahirkan juara baru di panggung internasional.