LONDON – Dunia menghadapi ancaman lingkungan yang semakin serius. Di tengah krisis iklim global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa kondisi samudra dunia kini berada di bawah tekanan berat akibat akumulasi aktivitas manusia yang terus berlangsung selama beberapa dekade.
Peringatan tersebut tertuang dalam Penilaian Ketiga Samudra Dunia (World Ocean Assessment III/WOA III), laporan komprehensif yang melibatkan lebih dari 650 ilmuwan dan pakar dari berbagai negara yang disusun awal Juni 2026. Laporan ini menjadi salah satu evaluasi global paling lengkap yang mengukur kondisi samudra dari sisi lingkungan, ekonomi, dan sosial sepanjang periode 2021–2025.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa lautan dunia kini menghadapi tekanan yang semakin kompleks dan berlapis. Selain pencemaran, eksploitasi sumber daya laut secara berlebihan, serta aktivitas penangkapan ikan skala besar, dampak perubahan iklim turut mempercepat kerusakan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan miliaran manusia.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa aktivitas manusia telah menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dalam skala luas dan memberikan tekanan yang sangat berat terhadap sistem samudra global.
Salah satu indikator paling mengkhawatirkan adalah percepatan kenaikan permukaan laut. Jika sebelum 2015 laju kenaikan permukaan laut tercatat sekitar 2 milimeter per tahun, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 4,3 milimeter per tahun pada 2023. Kenaikan yang hampir dua kali lipat ini menjadi sinyal bahwa dampak pemanasan global semakin nyata dan semakin sulit diabaikan.
Laporan PBB juga menemukan bahwa sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 terjadi hanya dalam rentang waktu sejak 2018**. Fakta ini menunjukkan bahwa proses pemanasan laut sedang berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Peningkatan suhu laut menjadi ancaman serius bagi terumbu karang, stok ikan, rantai makanan laut, serta kemampuan samudra dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Jika tren tersebut terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem laut, tetapi juga sektor pangan, ekonomi, dan kehidupan manusia secara luas.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengingatkan bahwa dunia tidak lagi memiliki banyak waktu untuk menunda tindakan nyata dalam melindungi laut.
“Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya yang tak terbatas. Kolaborasi global yang mendesak diperlukan untuk melindungi ekosistem laut,” tegas Guterres dikutip darik kantor berita, Annalou.
Ia menambahkan bahwa dunia harus mulai membangun hubungan baru dengan lautan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, dihormati melalui hukum internasional, dan dijalankan dengan tanggung jawab bersama oleh seluruh negara.
Peringatan PBB ini muncul di tengah meningkatnya berbagai fenomena cuaca ekstrem di banyak wilayah dunia, mulai dari gelombang panas laut, badai tropis yang lebih kuat, hingga perubahan pola musim yang mengganggu ketahanan pangan dan ekonomi global.
Bagi negara-negara kepulauan seperti Indonesia, kondisi tersebut menjadi pengingat penting bahwa perlindungan ekosistem laut bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan bagian dari strategi bertahan menghadapi krisis global yang semakin kompleks.