KANSAS CITY– Austria dan Aljazair memastikan langkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah bermain imbang dramatis 3-3 pada laga terakhir Grup J di Kansas City, Sabtu (27/6/2026). Hasil tersebut mengantarkan Austria lolos sebagai runner-up grup, sedangkan Aljazair melaju melalui jalur salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Namun, kelolosan dua tim yang bukan unggulan tersebut langsung memunculkan kontroversi. Banyak pendukung Iran menuding pertandingan itu sarat kejanggalan karena hasil imbang memang menguntungkan kedua tim sekaligus menggagalkan peluang Iran lolos ke fase gugur.
Laga ini mengingatkan publik pada pertandingan kontroversial “Disgrace of Gijon” di Piala Dunia 1982, ketika Jerman Barat mengalahkan Austria 1-0 dengan hasil yang menguntungkan kedua tim dan menyingkirkan Aljazair.
Meski demikian, situasi di Kansas City jauh berbeda. Alih-alih bermain aman, kedua tim justru menyuguhkan pertandingan terbuka dengan enam gol dan drama hingga detik terakhir.
Austria membuka keunggulan pada menit ke-28 melalui Marko Arnautovic. Aljazair menyamakan kedudukan lewat Rafik Belghali tepat menjelang turun minum.
Memasuki babak kedua, Marcel Sabitzer kembali membawa Austria unggul pada menit ke-55. Namun keunggulan itu hanya bertahan lima menit setelah kapten Aljazair Riyad Mahrez kembali membuat skor menjadi 2-2.
Drama mencapai puncaknya pada masa injury time. Mahrez kembali mencetak gol pada menit ke-93 yang sempat membuat Aljazair unggul 3-2. Dalam situasi itu, Austria justru terancam tersingkir sementara Iran berpeluang lolos.
Namun hanya berselang beberapa detik, Sasa Kalajdzic mencetak gol sundulan pada menit ke-96 untuk mengubah skor menjadi 3-3 sekaligus memastikan kedua tim melangkah ke fase gugur.
Meski pertandingan berlangsung penuh tensi, berbagai teori konspirasi bermunculan di media sosial. Beberapa suporter menilai kedua tim sengaja bermain aman pada fase tertentu pertandingan, bahkan menuding hasil akhir sudah diatur.
Pelatih Austria, Ralf Rangnick, langsung membantah keras tuduhan tersebut. “Dalam pertandingan yang berakhir 3-3 seperti ini, tidak ada yang bisa menganggap hasil itu merupakan kesepakatan, terutama setelah apa yang terjadi dalam 90 detik terakhir,” kata Rangnick.
Ia menambahkan drama pertandingan sama sekali tidak masuk akal jika dianggap telah direncanakan. “Kalau tiga menit sebelum laga berakhir seseorang mengatakan hasil akhirnya akan seperti ini, Anda pasti akan menganggap dia gila. Saya sudah hampir 40 tahun menjadi pelatih dan tidak pernah melihat pertandingan dengan alur sedramatis ini. Jika Alfred Hitchcock yang menulis cerita seperti ini, saya juga akan bilang dia benar-benar gila,” ujarnya.
Senada dengan Rangnick, pelatih Aljazair Vladimir Petkovic juga membantah adanya pengaturan hasil. “Saya sangat bahagia karena pada akhirnya sepak bola yang menang. Skor 3-3 sudah menjelaskan semuanya,” tegas Petkovic.
Pada babak 32 besar, Austria akan menghadapi Spanyol di Los Angeles pada 2 Juli, sedangkan Aljazair dijadwalkan bertemu Swiss di Vancouver pada 3 Juli. Bagi kedua tim medioker tersebut, kelolosan ini menjadi pencapaian penting sekaligus bukti bahwa mereka mampu bersaing di panggung terbesar sepak bola dunia.