JAKARTA – Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, nilai investasi telah mencapai Rp1.010,6 triliun, atau sekitar 49,5 persen dari target investasi tahun 2026.
Namun, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengingatkan bahwa tantangan terbesar pemerintah pada semester II bukan lagi menggaet komitmen investasi, melainkan memastikan seluruh proyek yang telah disepakati segera direalisasikan di lapangan.
“Namun, tantangan pada semester II bukan lagi menarik komitmen investasi, melainkan memastikan investasi tersebut segera direalisasikan menjadi proyek yang produktif,” kata M Rizal Taufikurahman dikutip dari Antara, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Rizal, percepatan realisasi proyek menjadi faktor penting agar investasi tidak hanya tercatat sebagai angka di atas kertas, tetapi benar-benar mampu menggerakkan perekonomian nasional. Karena itu, pemerintah didorong untuk mempercepat penyederhanaan perizinan, memberikan kepastian regulasi, mempercepat pembangunan infrastruktur, serta menyelesaikan berbagai hambatan di lapangan.
“Artinya, investasi tidak hanya tinggi secara nominal, tetapi juga mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas produksi nasional,” ujarnya.
Ia menilai daya tarik investasi Indonesia masih cukup kuat berkat besarnya pasar domestik, kebijakan hilirisasi, dan stabilitas ekonomi makro. Namun, kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, meningkatnya tensi geopolitik, serta tingginya biaya pendanaan membuat investor akan semakin selektif dalam menanamkan modal.
Karena itu, konsistensi kebijakan dinilai menjadi kunci agar Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Investor diperkirakan akan lebih banyak mengincar sektor-sektor yang menawarkan kepastian keuntungan dan nilai tambah tinggi, seperti hilirisasi mineral, manufaktur, ekonomi digital, pusat data, energi, dan logistik.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM juga mencatat realisasi investasi semester I 2026 telah menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, Rizal menegaskan keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari jumlah tenaga kerja yang terserap. Menurutnya, kualitas investasi juga harus tercermin dari produktivitas, peningkatan keterampilan pekerja, transfer teknologi, nilai tambah industri, serta dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, percepatan realisasi proyek menjadi langkah penting agar investasi benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga kepercayaan investor terhadap Indonesia.