JAKARTA – Kinerja positif harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) kembali memberi angin segar bagi industri sawit nasional. Di tengah tekanan pasar global, kebijakan hilirisasi dan transisi energi melalui program mandatori biodiesel B50 yang dijalankan pemerintah dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat prospek permintaan CPO sekaligus menopang stabilitas harga komoditas strategis tersebut.
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip inversi.id, harga CPO acuan Malaysia pada perdagangan Jumat (10/7/2026) memang terkoreksi 1,76 persen ke level RM4.476 per ton. Namun secara mingguan, harga masih mencatatkan kenaikan 0,4 persen, mengakhiri tren pelemahan selama dua pekan berturut-turut.
Penguatan mingguan itu ditopang meningkatnya permintaan ekspor. Perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia mencatat ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 Juli 2026 naik 5,1 persen menjadi 396.261 ton, dibandingkan 376.971 ton pada periode yang sama bulan sebelumnya.
Di saat yang sama, Indonesia mengirimkan sinyal positif bagi pasar global melalui implementasi mandatori biodiesel B50 yang diresmikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Program pencampuran 50 persen biodiesel berbasis sawit ke dalam solar tersebut diproyeksikan meningkatkan konsumsi CPO domestik sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan setelah peluncuran B50, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar pemerintah mulai mengkaji peluang peningkatan campuran biodiesel menjadi B60. Kajian tersebut akan dilakukan melalui riset komprehensif untuk memastikan kesiapan teknologi, kualitas bahan bakar, serta keamanan mesin kendaraan.
“Arahan Bapak Presiden tadi kepada kami agar segera mempertimbangkan dan menjajaki, mempelajari lewat riset yang baik untuk bisa kita tingkatkan ke B60. Ini harus kita lakukan dan ini ada upaya sebagai start awal,” ujar Bahlil Lahadalia saat Peresmian Peluncuran Mandatori B50, Minggu (12/7/2026).
Peningkatan bauran biodiesel dari B40 menjadi B50 diperkirakan akan menaikkan kebutuhan minyak sawit mentah Indonesia menjadi 16,3–17 juta metrik ton, dari sebelumnya sekitar 15,2 juta ton. Kenaikan konsumsi domestik tersebut dinilai mampu memperkuat penyerapan produksi sawit nasional sehingga memberi kepastian pasar bagi jutaan petani dan pelaku industri sawit.
Meski demikian, pasar global masih menghadapi tantangan. Pedagang Iceberg X di Kuala Lumpur, David Ng, menyebut tekanan harga pada akhir pekan dipicu meningkatnya stok minyak sawit Malaysia.
Data Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menunjukkan stok minyak sawit negeri itu naik 4,78 persen menjadi 2,54 juta ton pada Juni 2026. Produksi CPO Malaysia juga meningkat 8,08 persen menjadi 1,64 juta ton, sementara stok minyak sawit olahan bertambah 5,94 persen menjadi 1,21 juta ton.
Di tengah dinamika tersebut, peningkatan permintaan dari Indonesia melalui program biodiesel menjadi salah satu faktor yang dipandang dapat menopang keseimbangan pasar. Selain mendukung target pengurangan impor solar dan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan, kebijakan ini juga memperkuat hilirisasi sawit nasional dengan menciptakan pasar domestik yang lebih besar.
Dengan kombinasi peningkatan konsumsi dalam negeri dan prospek pengembangan menuju B60, langkah pemerintah diharapkan dapat memperkuat daya saing industri sawit Indonesia sekaligus memberikan kepastian bagi sektor perkebunan yang menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat di berbagai daerah.