By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Studi: Gen Z Kesulitan Fokus Saat Ngobrol Langsung, HP Jadi Pelarian
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Studi: Gen Z Kesulitan Fokus Saat Ngobrol Langsung, HP Jadi Pelarian

Terkini

Studi: Gen Z Kesulitan Fokus Saat Ngobrol Langsung, HP Jadi Pelarian

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
3 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Sebuah studi terbaru mengungkap fakta menarik soal pola komunikasi Generasi Z. Mayoritas anak muda berusia 18 hingga 28 tahun ternyata kesulitan mempertahankan fokus saat melakukan percakapan tatap muka. Dalam laporan bertajuk Mind Health Report, disebutkan bahwa tiga dari empat responden cenderung membuka ponsel hanya dua menit setelah percakapan dimulai.

Contents
Dampak Psikologis: Cemas, Sepi, dan Takut KetinggalanProduktivitas Menurun dan Kepercayaan Diri TergangguSolusi: Bangun Kebiasaan Digital yang Sehat

Penelitian ini melibatkan 2.000 partisipan Gen Z dari berbagai latar belakang. Sebanyak 39 persen di antaranya mengaku sering merasa terdorong untuk mengecek ponsel saat sedang berbicara dengan orang lain secara langsung. Pemicu utamanya? Notifikasi media sosial, pesan instan, dan konten video yang terus-menerus membanjiri layar mereka.

Lebih dari sepertiga responden bahkan menyebutkan bahwa percakapan tatap muka kini terasa membosankan. Tidak hanya itu, 63 persen mengaku mengalami kesulitan menjalin interaksi sosial di dunia nyata. Situasi ini sering kali mendorong mereka menggunakan ponsel sebagai “jalan keluar”, baik saat menghadiri acara (28 persen), nongkrong bareng teman (18 persen), maupun saat berbicara dengan orang tua (17 persen).

Dampak Psikologis: Cemas, Sepi, dan Takut Ketinggalan

Psikolog Dr. Linda Papadopoulos menyoroti dampak serius dari kebiasaan ini. Menurutnya, tekanan untuk terus terhubung secara online dan paparan informasi tanpa henti telah membuat sistem saraf anak muda menjadi kewalahan.

“Tekanan untuk selalu online dan terus menerima informasi bisa memicu kecemasan dan perasaan kesepian,” ujar Papadopoulos, Minggu (13/4).

Kecemasan berlebih terhadap keterpisahan dari ponsel, atau yang dikenal sebagai nomophobia, juga menjadi fenomena yang kian umum. Dalam studi tersebut, sekitar 28 persen responden mengaku merasa cemas jika tidak memegang ponsel, dan lebih dari sepertiga merasa tidak nyaman ketika tidak bisa mengakses perangkat mereka. Tak sedikit yang bahkan terbangun di malam hari hanya untuk memeriksa media sosial.

Produktivitas Menurun dan Kepercayaan Diri Terganggu

Ketergantungan terhadap perangkat digital bukan hanya mengganggu komunikasi sosial, tetapi juga berdampak pada produktivitas. Satu dari lima peserta mengaku mengalami penurunan fokus dan kinerja akibat distraksi yang berasal dari ponsel.

Lebih jauh lagi, media sosial juga memicu penurunan kepercayaan diri di kalangan Gen Z. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain secara visual, sebuah praktik yang memperbesar rasa tidak puas terhadap diri sendiri.

Solusi: Bangun Kebiasaan Digital yang Sehat

Untuk mengatasi masalah ini, dr. Papadopoulos menekankan pentingnya membentuk kebiasaan digital yang lebih sehat. Ia menegaskan bahwa solusi bukan dengan menghilangkan ponsel sepenuhnya, tetapi dengan menciptakan batasan penggunaannya secara sadar.

Baca Juga :

Biodata dan Profil Fanny Soegi, Lengkap dengan Agama, Umur dan Daerah Asal
Bojan Hodak Beberkan Kondisi Persib Jelang Lawan Bali United

“Kita perlu bantu anak muda membangun kebiasaan digital yang sehat. Cukup batasi waktunya, bukan disingkirkan total,” jelasnya.

Dalam era yang serba digital, kesadaran untuk membangun keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata menjadi semakin penting. Terutama bagi Gen Z, yang tumbuh bersama internet dan media sosial, kebiasaan ini akan menentukan kualitas hubungan sosial dan kesehatan mental mereka ke depan. ***

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:gen zStudi
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Bukan Kaviar Mewah! Inilah “Kaviar Hijau” dari Tual yang Bikin Penasaran dan Nagih!
Next Article Gara-gara Fuji, Olahraga Bowling Naik Daun Kini Digandrungi Anak Muda
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

7 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

8 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index