INVERSI.ID – Generasi Z tak hanya aktif di media sosial dan mengikuti tren fesyen, tapi juga berperan besar dalam membentuk arah perkembangan industri kecantikan, khususnya skincare. Preferensi mereka tidak lagi sekadar soal kemasan menarik, tetapi juga menyangkut nilai etis, efektivitas produk, hingga teknologi yang digunakan.
Hal ini terlihat dalam laporan terbaru Populix bertajuk Millennials & Gen Z Report: Local vs. Global Skincare Trends and Market Shifts. Survei ini melibatkan 1.100 responden milenial dan Gen Z dari berbagai wilayah Indonesia. Hasilnya, terungkap enam tren skincare yang tengah digemari dan diprediksi akan tetap relevan dalam 3–5 tahun ke depan.
1. Clean Beauty (54%)
Sebanyak 54% responden memilih clean beauty sebagai tren utama. Produk skincare dengan bahan alami, minim zat kimia, dan ramah lingkungan semakin digemari. Label seperti paraben-free, sulfate-free, hingga kemasan daur ulang makin dicari, seiring meningkatnya kesadaran lingkungan di kalangan Gen Z.
Laporan Statista juga mencatat bahwa 73% Gen Z global bersedia membayar lebih untuk produk yang berkelanjutan (eco-friendly).
2. Hybrid Skincare (37%)
Tren kedua adalah produk multifungsi yang menggabungkan manfaat skincare dan makeup sekaligus. Sebanyak 37% responden menyukai produk seperti tinted moisturizer, foundation dengan SPF, hingga lip balm yang melembapkan sekaligus memberi warna.
Gaya hidup serba cepat membuat hybrid skincare jadi solusi praktis dan efisien bagi Gen Z yang ingin tampil maksimal tanpa ribet.
3. Skincare Berbasis Ilmu dan Rekomendasi Dermatolog (26%)
Sebanyak 26% responden lebih memilih produk yang diformulasikan berdasarkan riset ilmiah dan rekomendasi dermatolog. Gen Z cenderung skeptis terhadap klaim pemasaran tanpa bukti dan kini lebih memilih pendekatan yang science-driven dalam merawat kulit.
Pendekatan ini juga menandai pergeseran dari tren skincare berbasis mitos menuju edukasi yang lebih kuat.
5. Teknologi AI dalam Skincare (22%)
Kecanggihan teknologi juga merambah dunia kecantikan. Sebanyak 22% Gen Z Indonesia tertarik dengan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam analisa kulit dan rekomendasi produk personal.
Beberapa aplikasi internasional seperti Skinsei dan HiMirror sudah lebih dulu mempopulerkan fitur analisa wajah berbasis AI. Di Indonesia, ParagonCorp (produsen Wardah dan Make Over) telah mengembangkan Perfect Complex Finder, teknologi pencocokan warna makeup dengan tone kulit.
5. Kandungan Fermentasi dan Probiotik (15%)
Meskipun belum sepopuler bahan seperti niacinamide atau retinol, 15% responden telah mengadopsi produk dengan bahan fermentasi dan probiotik. Kandungan ini dipercaya mampu memperkuat skin barrier, meredakan inflamasi, hingga mengurangi jerawat.
Menariknya, tren ini lebih banyak diminati oleh konsumen pria dan mereka yang tinggal di wilayah Sumatera, seiring meningkatnya produk lokal yang mengeksplorasi fermentasi khas Asia.
6. Skincare Vegan dan Cruelty-free (11%)
Sebanyak 11% responden menyatakan hanya memilih produk skincare yang vegan dan bebas uji coba pada hewan. Bagi Gen Z, etika menjadi aspek penting dalam memilih produk kecantikan.
Menurut Global Web Index, 65% Gen Z global menilai bahwa brand harus bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dan sosial. Di Indonesia, brand lokal seperti Sensatia Botanicals, Puresia, dan From This Island telah merespons tren ini dengan menghadirkan produk yang ramah lingkungan dan etis.
Menurut Indah Tanip, VP of Research Populix, laporan ini mencerminkan bahwa pengguna skincare dari kalangan milenial dan Gen Z semakin kritis dan cermat.
“Meskipun tren akan terus berubah, temuan ini menunjukkan pola pikir generasi muda yang tidak lagi memilih produk hanya karena populer, tapi karena sejalan dengan nilai yang mereka pegang,” ujarnya.
Kini, kecantikan bukan hanya tentang penampilan luar. Bagi Gen Z, skincare adalah bagian dari gaya hidup yang sadar, informatif, dan bertanggung jawab.***